Scroll untuk baca artikel
BengkuluBeritaHEADLINESUMATERA

Resah Kemunculan Harimau, BKSDA Resor Air Hitam Mukomuko Pasang Perangkap

×

Resah Kemunculan Harimau, BKSDA Resor Air Hitam Mukomuko Pasang Perangkap

Sebarkan artikel ini

Views: 39

MUKOMUKO, JAPOS.CO – Sehubungan kemunculan Harimau di pemukiman warga hingga dibuat geger. Untuk mengantisipasi peristiwa itu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, melalui Resor Air Hitam berencana memasang perangkap harimau yang menyerang satu ternak warga Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Lubuk Talang, Kabupaten Mukomuko.

Advertisement
scroll kebawah untuk lihat konten

“Tim dari Resor Air Hitam, Kamis sore (27/1), membawa kerangkeng harimau ke lokasi. Apakah sudah dipasang atau belum, mereka belum melaporkan,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, dalam keterangannya di Mukomuko, Jumat (28/1).

Ia mengatakan hal itu setelah beredarnya informasi melalui “WhatsApp” terkait pemasangan kerangkeng harimau oleh petugas Resor Air Hitam bersama dengan warga setempat.

Menurutnya, berdasarkan pemantauannya tim dari Resor Air Hitam sebelumnya melakukan rapat kecil dengan warga setempat guna membahas cara penanganan harimau di wilayah ini.

Untuk sementara ini, kata petugas Resor Air Hitam melakukan upaya pemasangan perangkap terlebih dahulu, apabila harimau tidak tertangkap, maka upaya lain dengan cara pengusiran harimau menjauh dari pemukiman penduduk.

“Cara terakhir yang kami lakukan dengan mengusir harimau tersebut menjauh dari pemukiman pendidikan di wilayah ini,” ujarnya.

Sementara itu, harimau masuk pemukiman penduduk di UPT Lubuk Talang, Kecamatan Malin Deman merupakan kejadian berulang, harimau penunggu wilayah di sekitar itu.

UPT Lubuk Talang, Kecamatan Malin Deman berada dekat dengan hutan negara, yakni 500 meter dari kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Ipuh I, dan perambah juga masuk ke sana sehingga kawasan hutan di lokasi tersebut terus berkurang.

Kemudian di UPT Lubuk Talang tersebut masih banyak hutan kecil. habitat harimau tidak hanya di hutan belantara, tetapi harimau juga bermain di hutan sekunder, dan masalahnya perburuan babi dekat pemukiman.

Ia menjelaskan, ada dua kemungkinan terjadi konflik karena habitat yang di atas terggangu, persediaan makanan sedikit, dan sebelumnya ada kejadian penyakit flu babi sehingga pakan di alam kurang.

Selain itu, ia mengatakan, kalau harimau sakit, maka satwa tersebut tidak sanggup melakukan perburuan mangsa sehingga salah satunya mencari hewan jinak di perkampungan.

Selanjutnya, ia mengimbau, masyarakat UPT Lubuk Talang, Kecamatan Malin Deman untuk berhati-hati karena wilayahnya dekat habitat harimau.

“Bila ada ternak kandangkan, umpan dicari seperti penggemukan, kalau ternak tidak ada maka tidak mengundang harimau, selanjutnya satwa tersebut mencari secara alamiah,” tutupnya.(JPR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *