Scroll untuk baca artikel
BeritaHEADLINEJAWAJawa Barat

Lembaga Survei Indonesia: Dukungan Kekerasan Ekstrim dan Intoleran di Jawa Barat  Cenderung Rendah

×

Lembaga Survei Indonesia: Dukungan Kekerasan Ekstrim dan Intoleran di Jawa Barat  Cenderung Rendah

Sebarkan artikel ini

Views: 139

BANDUNG RAYA ,JAPOS.CO – Diseminasi Survei Opini megusung tema “Sikap Publik atas Kekerasan Ekstrim dan Intoleransi dalam Kehidupan Beragama di Jawa Barat,” di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Kamis 8 Juni 2023.

Advertisement
scroll kebawah untuk lihat konten

Kekerasan ekstrem masih terus menjadi masalah pelik dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Meskipun penegak hukum giat menangkap aktor-aktor terlibat, tetapi aksi-aksi kekerasan berbadis ekstremisme masih sulit dideteksi.

Peneliti Senior LSI,Rizka Halida mengatakan sejauh ini, berbagai penelitian mengenai kekerasan ekstrem masih cenderung terbatas dilakukan terhadap para pelaku dengan tujuan sebagai dasar bagi program-program deradikalisasi. Sedangkan penelitian di tingkat publik minim dilakukan, padahal hal tersebut penting dilakukan untuk mengetahui sikap publik terhadap kekerasan ekstrem, kelompok ekstremis kekerasan, dan faktor apa saja yang dapat memengaruhi sikap tersebut.

Lebih lanjut, Rizka Halida menuturkan oeh karena itu, Lembaga Survei Indonesia melakukan survei nasional mengenai Kekerasan Ekstrem, Toleransi, dan Kehidupan Beragama di Indonedia. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang minimal berusia 17 tahun atau sudah menikah. Dari populasi tersebut, dipilih 1550 responden sebagai sampel basis secara acak bertingkat.

“Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 1.550 responden sebagai sampel basis. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar ±2.5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen (dengan asumsi simple random sampling). Dilakukan oversample di 4 wilayah yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, masing-masing menjadi 600 responden. Dengan ukuran sampel tersebut, margin of error sampel sebesar ±4.1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Total sampel dalam survei ini sebanyak 3.090 responden,” tuturnya.

Namun, Rizka  Halida men ambahkan, temuan survei menunjukkan untuk Jawa Barat dukungan Kekerasan Ekstrim cenderung rendah. Meskipun dipandang  secara umum rendah, tetapi tetapi tampak lebih tinggi pada kelompok umur lebih muda (dibawah 40 tahun) temuan-temuan Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Sementara itu, Dosen Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan mengatakan hasil yang ditemukan LSI tidak dapat sepenuhnya dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selain itu, dalam melakukan kajian juga harus dipertimbangkan kultur masing-masing daerah.

“Kekerasan di Jawa Barat tidak bisa diselesaikan di level provinsi. Kita punya 27 kabupaten/kita yang punya karakteristik heterogen. Kami membagi dalam enam subkultur, ada sub urban plural, seperti Bandung Raya, Sumedang, Depok, Bogor dan Bekasi. Lalu ada klaster Priangan Barat, Sukabumi, Cianjur. Priangan Timur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, klaster Ciayumajakuning dan sub urban Karawang, Purwakarta, Subang. Karakteristik beda, harus hati-hati dalam memetakan,” paparnya.

Survei ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sikap publik terhadap kekerasan ekstrem dan kelompok ekstremis kekerasan. Selain itu, survei ini juga berusaha untuk melacak faktor apa saja yang dapat berkontribusi pada dukungan publik terhadap kekerasan ekstrem dan kelompok ekstremis kekerasan. (DEMAK GULTOM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Views: 108 JAKARTA, JAPOS.CO – Gerombolan Pemancing Liar, yang dikenal dengan singkatan GOMPAL, mengadakan kegiatan mancing bareng (mabar) di tambak yang terletak di wilayah Bambu Kuning dekat Banjir Kanal Timur…