Scroll untuk baca artikel
BeritaHEADLINEKepulauan Bangka-BelitungSUMATERA

Mahasiswa FIKOM UNPAD Bandung Kunjungi Rumah Adat Belitung

×

Mahasiswa FIKOM UNPAD Bandung Kunjungi Rumah Adat Belitung

Sebarkan artikel ini

Views: 74

BELITUNG, JAPOS.CO – Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, mengunjungi Rumah Adat Melayu Pemkab Belitung, berlokasi di jalan A Yani, Desa Lesung Batang Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung Provinsi Kepulauan Babel, Senin (5/12).

Advertisement
scroll kebawah untuk lihat konten

Mahasiswa didampingi Dekan Fikom UNPAD Dr Dadang Rahmat Hidayat SSos, SH MSi dan para Dosen, diterima Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung (LAMBEL) Drs H Abdul Hadi Adjin yang merupakan alumni UNPAD Bandung.

Menurut Dadang kedatangannya sebatas kunjungan wisata ke Negeri Laskar Pelangi Belitung sekaligus melihat berbagai objek wisata di daerah ini termasuk wisata budaya rumah adat melayu Belitung.

“Kita ingin tahu keberadaan rumah adat itu melayu ini, sebab Belitung yang terkenal dengan laskar pelangi disamping juga adat serta kearifan lokal dan nilai-nilai budayanya sudah terbentuk,” ujarnya.

Tim dari UNPAD ingin belajar, mengembangkan dan mentransmisikan adat istiadat ini lebih komprehensif.  “Kita tahu disini ada lembaga adat, di tempat lain juga ada persatuan adat nusantara tentunya bagus untuk Kebhinekaan kita dan menciptakan rasa kebangsaan,”. Tidak menutup kemungkinan UNPAD akan bekerjasama dalam hal kajian budaya seperti komunikasi lintas budaya.

“Kita mungkin bisa jajaki kerjasama tersebut nantinya, misalnya harus ada dalam bentuk riset atau dalam bentuk pengabdian masyarakat,”tandasnya.

Ketua LAMBEL Drs H Abdul Hadi Adjin menyambut baik kunjungan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD ke Rumah Adat Melayu Belitung. “Kami menerima kunjungan berikutnya bila ke Rumah Adat Melayu Belitung untuk berbagai kegiatan riset atau hal lainnya,”.

Abdul Hadi menambahkan, keberadaan lembaga adat ini diatur Perda yaitu upaya kegiatan pelestarian adat, budaya serta kearifan lokal ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup agar budaya local tetap terjaga dan lestari sepanjang masa. (Yustami).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *