Scroll untuk baca artikel
BeritaHEADLINESUMATERASumatera Utara

Atas Lahan Eks HGU, Komnas Perempuan dan Anak Kota Siantar Angkat Bicara

×

Atas Lahan Eks HGU, Komnas Perempuan dan Anak Kota Siantar Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini

Views: 104

PEMATANGSIANTAR, JAPOS.CO – Okupasi PTPN III Kebun Bangun atas lahan eks HGU yang berada di Kelurahan Gurilla dan kelurahan Bah Sorma, Kecamatan Siantar Sitalasari,Pematangsiantar Sumatra Utara, menjadi perhatian masyarakat luas,

Advertisement
scroll kebawah untuk lihat konten

Dimana, PTPN III Kebun Bangun ingin kembali memaksimalkan potensi areal lahan seluas 66 hektare di Kelurahan Gurilla dan Bah Sorma, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota pematangSiantar, yang sebelumnya sempat dikuasai masyarakat, kembali menjadi lahan sawit.

Sejauh ini, berdasarkan catatan dar PTPN III Kebun Bangun, sedikitnya ada 20-25 Kepala Keluarga (KK) lagi yang masih mempertahankan bangunannya. Mereka belum menerima suguhati dan bersikeras bahwa tanah tersebut haknya.

Baru- baru ini masyarakat penggarap yang masih terus bertahan dan tidak mau menerima uang suguh hati dengan menjumpai Adian Napitupulu dan Erick Tohir yang kebetulan berada di Samosir.

Dalam kesempatan tersebut masyarakat menyampaikan dengan pihak PTPN III kebun bangun, karena merasa keluhan mereka di dengar oleh Erick Tohir menteri (BUMN,) dan Adian napitupulu (anggota DPR RI )masyarakat penggarap tersebut membuat statemen bahwa mereka menang.

Anita Damanik selaku Komnas perempuan dan anak Kota Siantar langsung angkat bicara terkait pernyataan masyarakat penggarap yang menyatakan sudah menang.

“Saya gak habis pikir pada penggarap langsung mengatakan mereka menang dan senang, bagaimana sebenarnya apa penggarap gak mikir semua langkah mereka diduga gagal karena gak ada perintah mengatakan mereka benar, saya dari tahun lalu sudah sosialisasi di daerah garapan di Bah Sorma menyampaikan agar membawa anak ke tempat yang nyaman dan sekolah tidak jauh,” terangnya.

“Kepada ibu-ibu hati-hati berbuat jangan memberi contoh yang tidak baik kepada anak-anak yang di lahirkannya dan kepada bapak-bapak agar jangan membawa istri-isteri mereka ke tempat tanah garapan karena gak baik bahkan saya melihat langsung para penggarap sudah menghalang-halangi  kerja dari PTPN 3 untuk melakukan penanaman sawit dan meroboh kan rumah-rumah yang sudah menerima suguh hati yang diberiksn oleh PTPN 3,” ungkapnya.

“Selanjutnya terkait pernyataan Komisioner Komnas HAM RI, Saurlin P Siagian menyampaikan beberapa hal, termasuk permintaan pemberhentian alat berat, PTPN III lebih dulu menyelesaikan hak-hak daripada penggarap selama ini,dan Jangan ada masyarakat yang menjadi korban pembangunan. Karena tujuan pembangunan itu adalah mensejahterakan masyarakat,dan melaporkan PTPN III ke presiden, dan banyak lagi ujar Nita Damanik.

“Saya menanggapi sangat prihatin mengapa dari HAM menanggapi begitu tanpa investigasi. Saya yang sudah dari tanggal 18 Oktober di sini sampai hari ini jelas menyaksikan di garapan bahwa para penggarap yang harus diberi peringatan yang sudah tidak lagi sebagai penggarap yang baik dan diduga sudah jadi preman menunjang petugas menghina petugas secara tidak manusiawi bahkan saya sudah banyak mendapat hinaan dan makian,” lanjutnya.

Menurtnya, kalau di lihat memang sengaja mereka melakukannya dan justru mereka penggarap yang harus di tegur dari HAM karena perbuatan penggarap sudah keterlaluan dan sudah merusak dan mencabuti tanaman yang baru di tanam terbukti dari tanaman sawit berserakan jadi penggarap jangan terlalu jahat.

“Kami di lapangan selalu menjalankan pesan dari Bapak Kapolres Siantar yaitu Humanis tapi digunakan penggarap kesempatan menghujat petugas dan perlu diketahui kami di sini netral untuk masyarakat dan untuk menyelamat kan tanah negara yang HGUnya di miliki PTPN 3, terlihat dari apa yang dilaksanakan PTPN 3 memberi suguh hati untuk yang memiliki bangunan dan tanaman sesuai jenis bangunan dan tanamannya yang di hitung oleh KJPP,”ungkapnya.

“Sebagai penilai yang di percayakan oleh Negara kita dan suguh hati untuk semua penggarap tidak ada pilih-pilih tapi kenyataannya ada sedikit lagi penggarap yang tidak menerima suguh hati karena mengganggap mereka akan menang, dan di sini saya Ida Halanita Damanik SHut sebagai ketua Komnas anak dan Hidup Perempuan Indonesia Siantar Simalungun ( HPISS ) tetap berusaha agar ibu-ibu penggarap sadar untuk masa depan anak-anaknya dan mau meninggalkan tanah garapan dan jangan lagi menghalangi pekerjaan PTPN 3 dan petugas yang bekerja,” tutupnya.(Zulkarnaen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *