Scroll untuk baca artikel
BeritaHEADLINEJAWAJawa Barat

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Pangandaran Masih Tinggi

×

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Pangandaran Masih Tinggi

Sebarkan artikel ini

Views: 106

PANGANDARAN, JAPOS.CO – Kasus pelecehan dan kekerasan pada anak di Kabupaten Pangandaran masih tinggi. Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Pangandaran mencatat ada 15 kasus pada 2022, meningkat 3 kasus dibanding tahun sebelumnya.

Advertisement
scroll kebawah untuk lihat konten

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Pangandaran, Dodi Soleh Hidayat mengatakan mayoritas kekerasan dilakukan oleh orang terdekat korban. “Dari beberapa laporan kebanyakan kasus kekerasan dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi, yakni, orang tua sendiri,” kata Dodi.

Dodi mengungkapkan kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur paling muda dialami oleh anak usia 4 tahun di Kalipucang oleh pria paruh baya. Dari beberapa kasus ada berbagai faktor yang menjadikan anak terkena pelecehan seksual, salah satunya pola asuh anak. “Justru banyak kasus pelecehan yang dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi. Orang tuanya sendiri bahkan saudara ataupun tetangga,” ungkapnya.

Pada awal tahun ini, masyarakat Pangandaran digegerkan kasus bayi berusia 8 bulan di Pangandaran ditemukan terkubur di samping kolam tambak udang milik warga setempat di Dusun Buniayu, Desa Kalangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Senin (9/1/2023). Bayi itu diduga disiksa hingga dibunuh ayah kandungnya sendiri.

Manager Program Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jabar, Dinawati mengaku prihatin atas tragedi tersebut. Dinawati meminta Pemkab Pangandaran bekerja ekstra dalam menangani kasus ini. “Terlebih Pemkab Pangandaran telah memiliki unit PA yang harus lebih proaktif melihat situasi seperti ini,” ujar Dinawati.

Dinawati mengatakan perlunya edukasi pada calon ayah dan ibu terkait memberikan sosialisasi pola asuh yang baik pada anak. Selain itu pola asuh anak yang baik sangat mempengaruhi kondisi mental anak. “Sehingga mengetahui cara menangani manakala anak mengalami kondisi tantrum. Saya berharap pelaku segera ditemukan dan mendapatkan hukuman yang setimpal,” pungkasnya. (Mamay)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Views: 53 JAKARTA, JAPOS.CO – Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi DKI Jakarta (PWI Jaya) kembali membuat gebrakan dengan menggelar Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) secara inhouse. Kegiatan tersebut dilaksanakan Rabu (24/7/2024)…

Berita

Views: 100 TANJUNGBALAI, JAPOS.CO – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tanjungbalai melaksanakan Rapat Koordinasi Pelayanan Penyusunan Daftar Pemilih di Lokasi Khusus pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Walikota dan Wakil Walikota…