Minangkabau dan Minangakabwa Bagaikan Dharmasraya dan Siguntur

DHARMASRAYA, JAPOS.CO – Beberapa sumber yang dijadikan referensi dari sejarah Minangkabau baik yang ditulis oleh penulis cina seperti “San fo Ts’i dan” Chel-li-fochc, menulis dalam manuskrip beliau bahwasanya Tembesi dan Sriwijaya itu adalah anak sungai yang bermuara ke Batang Hari seperti San artinya tiga dan to tsi adalah cabang atau persimpangan.

Batang hari adalah berhulu dari Danau diatas Solok Selatan,dan sebahagian dari Sunqgai deras(bukan Sungai Dareh).

Menurut Prof Purbacaraka bahwa Sungai Dareh adalah sebuah kota dimasa kerajaan Minangkabau. Dan merupakan pusat perdagangan ditepi Sungai Batang Hari pada masa itu yang disebut jalur rempah-rempah.

Di Sungai Dareh inilah terdapat Pulau Punjung, karena dahulunya sebuah delta yang merupakan sebuah Pulau-pulau. Punjung, berasal dari kata”Pujou”, artinya Puja.
Disinilah dahulunya tempat pemujaan atau pusat persembahan, maksudnya tempat bersemayam Dapunta Hyang yang berasal dari gunung Merapi (Cerita Minangkabau).

Dalam hal ini terdapat perbedaan historiografi yang pernah dinyatakan pada ahli sejarah.Pusqt kerajaan itu bukan disekitar Sungai Kampar kanan atau kiri(Muara Takus) melainkan di Pulau Punjung dan Sungai Dareh.
Disinilah sebahagian rombongan (dari Gunung Merapi)di istirahatkan untuk membuat sebuah negara atau kerajaan,sebagaimana yang dinyatakan dalam Prasasti kedudukan bukit.

Muara Sungai Kampar hanya merupakan Tempat pemberangkatan perjalanan suci sekembali dari Gunung Merapi.
Perkataan Chel-li-fochc yang dikatakan Sriwijaya yaitu dalam bahasa Senskrit yang terdiri beberapa kata: Csri=cemerlang, Wijaya=kemegahan,maksudnya kemegahn yang cemerlang. Sriwijaya bukanlah suatu kerajaan,tetapi suatu perkataan Dipunta Hyang yang terputus disebabkan aksara dalam prasasti kedudukan Bukit itu tidak terbaca atau hilang(pupus).

Bila ditinjau dari segi Sosiologi-Publisistik, bentuk pernyataan ini disebut sebagai”vertikal communication”. Berarti Sumber pernyataan itu adalah dari pusat negara atau Kerajaan yang baru didirikan yaitu di Pulau Punjung atau Sungai Dareh.

Walau bukti-bukti pernyataan itu (Prasasti) terletak di kedudukan Bukit Palembang, tidak berarti Sriwijaya itu di Palembang, jika ditafsirkan sebagai tempat.

Menurut penelitian parah ahli sejarah dan budaya berkesimpulan bahwa semisal Tugih perjuangan proklamator, bahwa Proklamator dicetuskan di Jakarta dan tuguhnya juga disana dan diseluruh daerah di Nusantara juga memiliki tugu tersebut, begitulah semisalnya tentang publikasinya.

Pada abad ke 7 belum secanggih seperti sekarang,maka penanggalan maupun tempat tidak pernah disebut sebut. Penyusunan historiografi berdasarkan laporan -laporan Ga Hien(412) maupun – I-Tsing(685-695) yang tidak menyebut nama dan pusat kerajaan secara pasti menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda terhadap dokumen sejarah.

Akhir abad ke 13,tatkala 11 tahun sesudah tahun saka 1197 atau tahun 1275 Mauliwarmadewa menjadi raja di Dhamasyraya(dharmasraya) menjadi raja di Siguntur dan sebagai pusat kerajaan Melayu (ibid:25).

Berdasarkan dan dokumentasi yang dikemukakan kini jelaslah kerajaan Minangkabau yang mula-mula didirikan oleh Dipunta Hyang yang turun dari gunung Merapi sebagai suatu parhyangan berpusat di Pulau Punjung atau Sungai Dareh,suatu tempat yang disebut “Minanga Kabwa” yang identik dengan tempat pemberangkatan yang dinamakan Minangga Tamwan. Seguntur adalah ibu kota kerajaan Dharmasraya.(ermanchaniago)

 371 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *