Menelusuri Jalur Rempah Kabupaten Dharmasraya Untuk Menuju Pamalayu ke-2

DHARMASRAYA, JAPOS.CO – Kepala Dinas Budaya, Pariwisata ,Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya ST Taufik,MM bersama Kabid Pariwisata Beni Putra berhasil merangkum melalui media sosial akun dinas Pariwisata kabupaten Dharmasraya hari ini Sabtu (19/06/21).

Menurut Kabid Pariwisata Beni Putra, Dharmasraya, memiliki kandungan kekayaan sejarah peradaban Nusantara, khususnya Minangkabau dan Sumatera Barat. Salah satunya jalur rempah, yang merupakan jejak kekayaan alam sebagai warisan dunia, dan memiliki peran membangun peradaban dalam sejarah.

“Sesuai bukti-bukti sejarah yang ada Dharmasraya, Sungai Batang Hari hadir sebagai aktor utama dalam pembangunan peradaban tersebut, baik ke dalam bentuk budaya; olahan pangan; hingga kesenian yang terdapat di Minangkabau dan Sumatera Barat,” jelasnya.

“Harapannya, kita semua khususnya seluruh masyarakat Dharmasraya dan Sumatera Barat, mari kita kembali bersama-sama mengenali sejarah peradaban maupun kebudayaan yang ada di negeri kita ini. Terutama kepada para generasi muda kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendahulunya, dan tentunya, mengenal sejarah bangsanya sendiri,” terangnya.

Beni mengungkapkan pada masanya Sungai batang hari yang melintasi Kabupaten Dharmasraya memiliki nilai sejarah tersendiri dalam peradaban. sungai batang hari sudah dilayari sejak zaman pra sejarah. sungai yang digunakan oleh nenek moyang untuk masuk ke pedalaman. batang hari tetap dilayari pada zaman klasik, suatu masa yang ditandai dengan kerajaan yang besar.

“Karena peradaban sungai tersebut, kerajaan melayu dharmasraya berkembang dan meninggalkan candi, arca dan peninggalan kuno. menurut sejarawan universitas andalas gusti adnan, peradaban setidaknya memiliki tiga basis yaitu basis pemerintahan, basis ekonomi dan basis ilmu/teknologi/religi. dharmasraya memiliki tiga basis tersebut. potensi dan kekayaan alam dharmasraya tetap menjadi modal bagi kejayaannya,” ungkapnya.

Kemnudian, lanjut Beni pada masa sebelum kemerdekaan sampai tahun 1976, jalur perdagangan pada sungai batang hari tetap berlanjut. pedagang peagang dari hulu batang hari ( kabupaten dharmasraya dan solok selatan ) menjual hasil buminya seperti, karet, kopi, pinang, gaharu, gambir, rotan, manau dan lain lain ke jambi. karena jalur darat menuju jambi pada waktu itu sangat sulit dilalui, pedagang lebih nyaman menggunakan sungai batang hari sebagai jalur transportasinya. alat anggkut yang digunakan waktu itu adalah perahu tempel ( perahu yang dilengkapi dengan mesin dan pakai atap untuk peneduh).

“Sekembalinya dari jambi, para pedagang membeli kebutuhan pokok untuk dijual dan dipasarkan di solok selatan dan dharmasraya, seperti gula, teh, kopi, munyak manis, minyak tanah, tepung terigu, dan kebutuhan pokok lainnya, karena pada waktu itu jalur tranportasi dari dharmasraya ke padang juga sulit,” terangnya.

Lebih lanjut, Beni menceritakan sejak tahun 1976 perdagangan melalui sungai batang hari menuju jambi terhenti, karena telah beroperasinya jalur lintas sumatera dan jembatan sungai dareh sebagai sarana transportasi menuju jambi.namun masyarakat solok selatan tetap menggunakan sungai batang hari sebagai jalur transportasi menuju pulau punjung. pada umumnya masyarakat solok selatan menjual hasil buminya transit di pulau punuung, tempat transit tersebut dinamakan pelayangan, ada yang menjualnya kepada pedagang yang ada di pulau punjung dan ada masyarakat solok selatan langsung menjualnya ke padang dengan menggunakan mobil karena transportasi darat dari pulau punjung menuju padang sangat lancar.

“Dengan dibangunnya bendungan batang hari batu bakawik tahun 2002 di jorong muaro momong nagari sungai kambut, lokasi transit masyarakat solok selatan juga berpindah dari pelayangan ke dermaga bendungan batu bakawik. dari dermaga hasil bumi dijual ke pulau punjung atau ke padang. masyarakat solok selatan pada umumnya berbelanja di pasar pulau punjung dan sekitarnya. sampai sekarang transportasi dengan menggunakan perahu tempel dari solok selatan menuju dermaga bendungan batu bakawik tetap berjalan,Pungkasnya.
Satu hal lagi terpetik hingga saat ini Pelayangan Siguntur II Nagari Siguntur adalah nama salah satu Desa atau Kampung Palayangan,dimana tempat kerajaan Siguntur,masih dipakai dermaga Pelayangan Sungai Batang Hari dan saat ini memakai Ponton. Dahulu Pelayang kampung menuju Sawah dan kebun di sebrang Sungai Batang Hari,” tutupnya.(ermanchaniago)

 

 349 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *