Mencuat, Status Tanah Yang Pindah Tangan Tanpa Diketahui Oleh Pemilik SHM Pertama

DHARMASRAYA, JAPOS CO – Dalam rangka pelaksanaan hukum tanah nasional dan dikarenakan tuntunan masyarakat adat maka pada tanggal 24 Juni 1999, telah diterbitkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 tahun 1999 tentang pedoman penyelesaian masalah hak ulayat masyarakat hukum adat.

Salah satu Datuk Pangulu Bosau Pulau Punjung, sebut saja Emra Datuk Paduko Bosau yang ditemui di kediamnya di Wismah Agung Km 4 Pulau Punjung, Minggu (21/03/21) kepada awak Media mengemukakan ada penerobosan hak atas sebidang tanah yang telah menjadi SHM (Sertifikat Hak Milik) atas namanya, dikuasai oleh orang lain yang luasnya mencapai 6 ha di sekitar SMPN Unggul Dharmasraya, Jl Teratak Sungai Belit.

Menurutnya, kejadian berawal dari pihak sekolah SMPN Unggul memintah sama Emra DT Paduko Bosau sebuah surat penyerahan tanah pada pihak sekolah guna kelengkapan administrasi untuk proposal bantuan sekolah guna pembangunan sekolah tersebut.

Emra Datuk Paduko Bosau menolak atas surat tersebut karena dirinya merasa tidak pernah menyerahkan tanah pada pihak sekolah (SMPN Unggul Dharmasraya).

Emra bahkan balik bertanya kepada pihak sekolah, siapa yang menyerahkan (tanah) haknya? “Selama ini saya diam karena menunggu waktu yang tepat dan cucu-kemanakan saya bisa mengurus ini,” kilah Emra Datuk Paduko Bosau.

Sementara pihak sekolah melalui Kepala SMPN Unggul yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon dan WhatsApp pribadinya, mengaku heran kenapa sudah 11 tahun sekolah tersebut berdiri tapi baru sekarang muncul penuntutan dari pihak Emra Datuk Paduko Bosau.

“Sebelas tahun yang lampau pembangunan sekolah ini dilakukan secara swakelolah oleh kepala sekolah terdahulu yaitu Pak Irsad dan sekarang bertugas di salah satu sekolah juga di Kabupaten Dharmasraya,” sebutnya.

“Masalah ini coba ditanyakan pada Bagian Aset di Pemda Dharmasraya,” kilahnya.

Guna mendapat informasi lebih lanjut, sebuah rumah di samping SMPN Unggul, milik salah satu warga yang nota bene juga termasuk dalam kawasan SHM milik Emra Datuk Paduko Bosau, sebut saja Pak Hen menyebutkan bahwa dirinya (dulu) membeli lahan yang sekarang telah didiami dari Jang EN dengan harga diatas 20 juta-an dan telah dipecah sertifikat.

“Saya tidak tahu-menahu dengan kejadian sekarang bahwa ada orang lain yang dirugikan dan saya berharap semoga ada solusinya dan diselesaikan pada tingkat kekeluargaan,” tutupnya.(ErmanChaniago)

 61 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *