Peduli Terhadap Pelanggan Terdampak Covid-19 PDAM TA Hapus Denda Keterlambatan Bayar

BANJAR, JAPOS.CO – Pipa distribusi air bersih Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Anom Kota Banjar kondisinya saat ini sudah sangat tua. Usia pipa tersebut mencapai 41 tahun, sehingga banyak yang rusak dan mengakibatkan tingkat kebocoran yang tinggi. Akibatnya, distribusi air ke pelanggan sering terganggu. Salah satunya adalah kebocoran yang terjadi di wilayah Jalan Letjen Suwarto, dekat Jembatan Parungsari Kota Banjar, Rabu, (03/03).

Saat diperiksa petugas, ternyata kebocoran itu terjadi karena pipa distribusi yang terbuat dari bahan asbes bocor karena usianya yang sudah tua.

Menurut Direktur PDAM Tirta Anom Kota Banjar, E. Fitrah Nurkamilah didampingi Kasubag Humas dan Hukum PDAM Tirta Anom Kota Banjar, Yogi Indriadji, selama proses perbaikan pipa yang bocor itu, secara otomatis berdampak terhadap pelayanan air bersih Perumda Tirta Anom Kota Banjar.

Diantara wilayah yang pelayanan airnya terganggu itu, ada di sebagian wilayah Purwaharja, Cimenyan, sebagian Hegarsari, Jadimulya, Tanjungsukur, Pataruman, Lemburbalong, Sumanding. “Perbaikan kebocoran jalur pipa transmisi 300 mm berlangsung siang sampai malam hari. Kami tidak diam sejak ditemukan kebocoran itu, langsung diperbaiki. Target selesai semalam pukul 03:00 WIB,” tegas E. Fitrah.

Namun, akibat kondisi tanah labil dan timbul longsoran baru dipinggir galian yang mencapai 2 meter, proses perbaikan tak sesuai dengan target. “Dengan berbagai pertimbangan, perbaikan dilanjutkan pagi hari dan selesai pukul 11.30 WIB. Kondisi pipa distribusi yang mengalami kebocoron di Kota Banjar tak terhitung jumlahnya karena usia pipa yang sudah tua. Pipa distribusi tersebut dipasang pada tahun 1980 dan hingga kini belum ada peremajaan. Pipa distribusi yang dipasang tahun 1980 tersebut mencapai 17 km. Akibatnya setiap hari terus mengalami perbaikan, kami memohon maaf atas pelayanan air bersih yang belum maksimal selama ini,” ujar E. Fitrah.

Ditambahkan Yogi, selesai perbaikan kebocoran itu, langsung ditindak lanjuti dengan pengecekan pendistribusian air ke ujung-ujung jaringan pelayanan, sekaligus monitoring evaluasi kualitas air bersih dengan melakukan kegiatan washing atau wash out dijaringan ujung tersebut. “Kami, Perumda Tirta Anom Kota Banjar akan terus berupaya berkolaborasi antar bagian dalam konsistensi TOP. Yaitu, Tunjukan Optimalisasi Pelayanan,” ujar Yogi.

Terganggunya pelayanan air bersih Perumda Tirta Anom ke pelanggan, membuat Wakil Wali Kota Banjar dua periode, H. Akhmad Dimyati, angkat bicara. Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan pokok yang tak bisa tergantikan. “Kami harap pelayanan air bersih dari Perumda Tirta Anom Kota Banjar ditingkatkan. Pemkot Banjar segera turun tangan dengan kekuasaanya, supaya pelanggan tak merasa dirugikan berkepanjangan. Sebaiknya pipa yang sudah tua segera diganti,” katanya.

Tunggakan Pelanggan

Selain kerusakan yang diakibatkan sudah tuanya pipa PDAM, kepada tim Jaya Pos Direktur Perumda Tirta Anom Kota Banjar, E. Fitrah Nurkamilah didampingi Kepala Bagian Umum dan Keuangan, Wiwi Hartiwi dan Kasubag Humas dan Hukum, Yogi Indriadji mengatakan, bahwa Pandemi Covid-19 berdampak pula pada kinerja keuangan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Anom Kota Banjar. Faktanya, hingga akhir Februari 2021 tunggakan pelangan atau piutang Perumda Tirta Anom mencapai Rp. 2,1 miliar.

Untuk mengatasi besarnya piutang tersebut, kata E Fitrah, maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menghapus denda keterlambatan bayar. “Perumda Tirta Anom memberikan kemudahan dan keringanan pembayaran tunggakan, melalui penghapusan denda keterlambatan bayar. Pembebasan atau penghapusan denda, berlaku bagi seluruh pelangan yang memiliki tunggakan, baik pelangan aktif maupun non aktif. Ini sebagai bentuk kepedulian Perumda Tirta Anom terhadap pelanggan yang terdampak Covid-19. Penghapusan denda keterlambatan bayar ini berlaku mulai Maret sampai 31 Maret 2021. Bersamaan waktu tersebut, diberlakukannya keringanan biaya penyambungan kembali, hanya bayar Rp. 50.000, “ ungkapnya.

Dijelaskan E Fitrah, biasanya pelanggan yang mengalami keterlambatan pembayaran tagihan air itu diwajibkan bayar denda sebesar Rp. 5.000 per bulan. “Terlambat bayar tagihan air Perumda selama dua bulan, didenda sebesar Rp. 10.000. Kemudian terlambat 3 bulan didenda sebesar Rp. 15.000 dan seterusnya. Selama Maret 2021, denda keterlambatan dihapus, “ jelasnya.

Terkait biaya Penyambungan Kembali (PK) saat situasi normal itu, kata dia, jelas ada aturannya. Seperti pelangan yang sudah diputus selama 3 bulan itu bisa disambung kembali setelah melunasi tunggakan dan membayar PK sebesar Rp. 50.000. Kemudian pelanggan non aktif selama 6 bulan sampai 2 tahun diharuskan membayar seluruh tunggakan dan membayar PK sebesar Rp. 300.000. “Diatas 2 tahun membayar PK sebesar biaya pasang baru, Khusus Maret 2021 diberlakukan keringanan pembayaran, cukup bayar tunggakan air dan PK Rp. 50 ribu saja, “ ujarnya.

Program yang diluncurkan Maret 2021 ini, tandas E. Fitrah, sebagai salah satu usaha untuk menyerap piutang pelangan yang semakin besar. “Memperbaiki kinerja pelayanan, tidak terlepas dari biaya dan sumber dana dari pembayaran pelanggan. Adapun total piutang pelanggan sampai akhir Februari 2021 terdata sebesar Rp. 2.093.682.900, “ tandasnya. (Mamay)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 67 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *