Heboh Anak Gugat 3 M, Togar Situmorang Sangat Prihatin

JAKARTA, JAPOS.CO – Akhir-akhir ini, media dihebohkan dengan adanya pemberitaan seorang anak yang menggugat sang ayah senilai Rp 3 miliar. Gugatan tersebut berkaitan dengan persoalan sebagian bangunan di Jl AH Nasution, Kota Bandung.

“Terkait fenomena anak menggugat orang tua, menurut pandangan saya moralitas anak itu sudah sangat luntur, karena mungkin dikarenakan salah memilih pergaulan,” ungkap Togar Situmorang SH CMe MH MAP CLA.

Jadi di dalam hal ini, kita sangat prihatin dimana dulu itu orang tua sangat dihormati sama anaknya dan hari ini kita melihat banyak anak yang melawan bahkan menggugat ke pengadilan atau melaporkan orang tua ke pihak berwajib hanya karena harta atau masalah terkait hubungan status dengan orang lain baik itu masa pacaran atau rumah tangga, itu bisa menjadi suatu persoalan,” tambahnya.

Dari permasalahan itu bisa menjadi persoalan besar, parahnya lagi membawa masalah tersebut ke ranah hukum bahkan sampai gugat-menggugat di pengadilan. Itu juga bisa pengaruh dari teknologi yang begitu dahsyat tanpa diimbangi moralitas yang tinggi.

“Saya sebagai praktisi hukum dan kebijakan publik berharap agar adanya semacam kewaspadaan dan menjadi PR kita semua mengembalikan moralitas anak kita supaya mereka tetap menjaga harkat dan martabat orang tua,” tambah pria berdarah Batak ini.

“Nah, jangan sampai ikatan batin antara orang tua dan anak menjadi luntur, hakekatnya orang tua hanya menginginkan anaknya bahagia atau anak membahagiakan orang tuanya,” sambungnya.

Tidak harus berkonflik, menurutnya oleh sebab itu, disini harus ada pengertian. Apalagi latar belakang orang tua yang tidak utuh yang artinya orang tuanya bercerai, ini yang memberikan dampak buruk untuk masa depan anak itu.

Diharapkan anak juga tahu diri dan orang tua juga mau memberikan kasih sayang yang cukup untuk anaknya. “Yang sangat kita sayangkan adalah bahwa anak itu sudah tumbuh besar tetapi toleransi anak itu berkurang sehingga agresif dan lebih tidak terkontrol terhadap dirinya.

“Sehingga kita ingin orang tua itu betul-betul bisa menahan atau menjaga gaya hidup yang membuat kita terlena. Sehingga anak dan orang tua harus sama-sama saling mengerti dan tidak ada kesalahpahaman,” sebutnya.

Ikatan anak dengan orang tua tidak ada namanya istilah mantan. Tentu saja harus dicari solusi yang terbaik agar kepentingan anak dan orang tua itu bisa terakomodir dan bisa bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin dengan ajaran agama.

“Diharapkan untuk pengadilan membantu agar memediasi anak dengan orang tuanya tersebut, sesuai Perma No 1 tahun 2016 tentang mediasi supaya bisa terakomodir orang tua juga anak bisa berdamai,” tambah Togar Situmorang yang juga sebagai mediator yang dikeluarkan oleh IICT (Indonesian Institute For Conflict Transformation).

“Jangan terpengaruh lingkungan dengan alasan bahwa itu adalah alasan sendiri. Sehingga perjalanan hidup antara anak dengan orang tua akan mencapai suatu tujuan kebahagian dan keharmonisan,” tandasnya.(Amin)

 62 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *