Rangkaian Musibah Bukan Azab Tuhan

JAKARTA, JAPOS.CO – Pandemi Covid 19 tampaknya belum cukup menjadi kisah duka di negeri ini. Tetapi juga harus diakui di awal 2021 negeri ini harus mengalami rangkaian musibah dan bencana.

Dimulai jatuhnya pesawat udara Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, disusul bencana tanah longsor di Sumedang Jawa Barat, banjir di Kalimantan Selatan dan terbaru gempa bumi di Sulawesi Barat.

Masih tercatat juga dalam kurun waktu awal tahun ini musibah lain seperti jembatan rel kereta api yang runtuh di Brebes, Jawa Tengah. Juga aktivitas beberapa gunung berapi seperti Semeru (Jawa Timur), Slamet (Jawa Tengah), Sinabung (Sumatera Utara) dan Merapi (DIY/Jateng).

BENTUK KPCPEN

Untuk penanggulangan Pandemi Covid 19 pembentukan KPCPEN (Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional) yang dipimpin Airlangga Hartarto  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, kita nilai pemerintah sangat serius dalam upaya melawan virus Corona. Apalagi komite ini membawahi seluruh Menko dan sejumlah kementerian serta badan strategis.

Melihat susunan KPCPEN seperti itu sebenarnya Presiden Joko Widodo telah menempuh  jalan pintas. Sebab selain penanggulangan serangan virus mematikan, juga upaya menjaga dan memelihara pertumbuhan perekonomian.

Kita sangat merasakan pandemi ini telah menekan pertumbuhan bahkan mematikan sebagian perekonomian rakyat. Jadi pilihan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi “komandan” di tengah masih belum berkurangnya wabah Covid-19, sebagai putusan jitu presiden. Kita berharap komite ini  bekerja cepat, akurat dan terukur.

Musibah tanah longsor di Sumedang juga menelan korban jiwa sampai 24 orang, sementara 16 lainnya sampai Kamis (14/1) masih dicari.

Tim pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) gabungan, yang melaksanakan operasi hari ke-6, berhasil menemukan tiga korban longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Kamis (14/1/2021). Ketiga korban tewas itu ditemukan tertimbun tanah.

Sementara banjir di Kalsel selain Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan mengharuskan sebagian warga mengungsi ke posko-posko, juga jalur jalan provinsi terputus. Hujan terus mengguyur sejak Kamis (14/1) malam hingga Jumat (15/1) mengharuskan para petugas dinas terkait berupaya memulihkan kondisi jalan penghubung antarkabupaten. Sebab jalan itu merupakan akses utama dari Kota Banjarmasin menuju kawasan Hulu Sungai di Kalimantan Selatan seperti Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong.

Sementara kabar musibah terbaru adalah dua kali gempa di Majene  daratan Sulawesi Barat (Sulbar) yang diperkirakan bisa menewaskan puluhan orang. Dari tayangan televisi maupun video yang diposting di media sosial, musibah ini sungguh memprihatinkan. Bahkan bangunan empat lantai Kantor Gubernur Sulbar ambruk dan nyaris rata dengan tanah. Kita belum meneliti rendahnya kualitas bangunan kantor, tetapi lebih menyoroti puluhan ribu warga kehilangan rumah dan tempat berteduh.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat Darno Majid menyebut ada 27 warga meninggal akibat gempa yang berpusat di Kabupaten Majene, Jumat (15/1/2021).
Korban tewas tertimpa reruntuhan material bangunan yang ambruk saat gempa. Dari 27 orang yang tewas, 18 orang meninggal di Kabupaten Mamuju. Sementara 9 orang lainnya tewas di Kabupaten Majene.

Selain bencana alam tersebut, maka  jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya Air SJ 182 beberapa saat setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta dalam penerbangan menuju Pontianak pada Sabtu (9/1) telah menewaskan 62 orang. Korban adalah seluruh penumpang dan awak pesawat.

BASARNAS KERJA KERAS

Kita tidak pernah menginginkan terjadinya musibah. Bahkan jika mendengar pesawat terbang jatuh, tentu tidak terpikir sarana transportasi secanggih itu pun sampai bisa mengalami naas.

Kita bersyukur Badan SAR Nasional (Basarnas) bekerja sama seluruh pemangku kepentingan bekerja keras. Bahu membahu tak kenal lelah melakukan pencarian dan pertolongan para korban.

Kita pun berharap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bisa mengungkap sebab-sebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Jadi dalam setiap musibah, manusia hanya bisa mencari sebab musabab. Sementara mencegah dan menghindarkan  kecelakaan sulit dilakukan secara akurat.

Demikian pula musibah tanah longsor, banjir dan gempa bumi. Semua itu dalam bahasa agama, adalah takdir tuhan. Sesuatu yang musti terjadi. Nyaris manusia tidak bisa memprediksi secara akurat, kapan dan oleh sebab apa musibah terjadi.

Melihat semua kesedihan itu, yang ingin kita sampaikan sebagai orang beriman, bukan lari juga berburuk sangka, apalagi berputus asa. Kita harus yakin tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah.

Lebih dari itu sebagai bagian dari warga bangsa tentu sewajarnya ikut membantu mereka yang menderita. Badan Nasional  Penanggulangan Bencana (BNPB) lembaga yang mendapat tugas mengatasi musibah tidak menolak jika kita ikut mengulurkan tangan. Membantu dan meringankan kesusahan dan kesedihan  saudara-saudara korban musibah.

Kita pun harus  mengingatkan, rangkaian musibah ini bukan azab Tuhan!

Oleh: A. RISTANTO

 60 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *