Bendungan Tugu Hampir Tuntas, Pemkab Trenggalek Siapkan Opsi Kedaruratan

TRENGGALEK, JAPOS.CO – Bendungan Tugu yang ada di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek sudah hampir tuntas. Proyek multi years nasional yang dimulai sejak tahun 2013 tersebut, pada pertengahan tahun 2021 ini dinyatakan selesai dan siap beroperasi.

Dengan ketinggian air yang nantinya bisa mencapai 82 meter maka segala kemungkin harus di antisipasi. Untuk itulah,
Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek bersama stakeholder terkait menggelar rapat koordinasi (rakor) tentang Rencana Tindak Darurat (RTD) pada Jum’at (15/1/2020).

Rakor yang dilaksanakan di ruang kerja sekretaris daerah (sekda) tersebut membahas tentang segala kemungkinan dan risiko yang ditimbulkan jika terjadi bencana jebolnya Bendungan Tugu.

Dikonfirmasi Japos.co usai rakor, Sekda Trenggalek, Joko Irianto mengatakan jika rakor kali ini dalam rangka memberikan sosialisasi tentang berbagai risiko yang bisa ditimbulkan apabila Bendungan Tugu mengalami keruntuhan.

“Rakor kali ini, secara garis besar merupakan langkah sosialisasi mengenai Rencana Tindak Darurat. Karena Bendungan Tugu akan mulai diisi air,” ungkapnya.

Menurutnya, secara teknis direncanakan untuk pengisian air nantinya akan dilakukan bertahap. Baru kemudian, setelah diisi air dalam volume tertentu akan dilakukan analisa oleh tim ahli. Baik itu mengenai timbulnya kerusakan pada bangunan, terjadinya resapan atau kebocoran dan lain sebagainya.

“Namun masyarakat tidak perlu khawatir, tadi dari pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sudah meyakinkan bahwa kemampuan bendungan ini sangat kuat dan insyaallah aman,” imbuh Joko.

Walau begitu (dinyatakan aman), mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan itu tetap menekankan mengenai pentingnya antisipasi segala risiko yang mungkin timbul. Maka didalam rakor masih diberikan berbagai petunjuk tentang langkah penyelamatan diri dalam keadaan darurat. Terutama masyarakat di lima wilayah yakni Kecamatan Tugu, Karangan, Trenggalek, Pogalan, dan Durenan yang punya resiko tinggi ketika terjadi hal-hal tak diinginkan.

“Sempat tadi juga digambarkan bila terjadi bencana, dalam arti kemungkinan bendungan itu jebol, maka genangan-genangan itu sudah diperkirakan. Titiknya mana saja dan berapa meter, itu sudah dijelaskan tadi,” terangnya.

Rencana Tindak Darurat (RTD) ini, lanjut Joko, sangatlah penting untuk dilakukan. Selain memang sebagai salah satu syarat ketika akan melakukan proses pengisian air. Hal itu juga merupakan upaya antisipasi saat ada kemungkinan kebencanaan terjadi.

“Karena kita semua tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, sehingga harus benar-benar dipersiapkan segala sesuatunya,” ujar Sekda.

Dia menjelaskan, RTD sendiri punya sejumlah sasaran, yaitu pertama, mengenali masalah yang bisa mengancam keamanan bendungan sehingga bisa mencegah terjadinya keruntuhan. Kedua, mempersiapkan upaya-upaya untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa dan mengurangi kerusakan harta benda bila terjadi keruntuhan. Ketiga, menyiapkan panduan atau petunjuk bagi petugas pengelola bendungan dan instansi terkait dalam satuan pelaksana penanggulangan bencana ketika harus mengambil tindakan maupun langkah-langkah apabila terjadi situasi darurat bendungan.

“Dan yang keempat, menyediakan pedoman dalam rangka mengambil tindakan darurat apabila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang dapat mengancam keamanan bendungan tugu,” pungkasnya.(HWi).

 181 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *