Inspektorat Temukan Kejanggalan Proyek Pembangunan di Desa Labuaja

MAROS, JAPOS.CO –  Ketua Lembaga Pemantau Penyalahguanaan Anggaran(LAPPAN) Maros Wadi Mendukung Tim Inspektorat dugaan sejumlah kejanggalan dalam pengerjaan proyek pembangunan tahun anggaran 2019 di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.

Berkali-kali turun ke lokasi sejumlah proyek sepanjang September ini, tim Inspektorat mendapati dugaan adanya ketidasesuaian laporan dengan pelaksanaan. Mulai dari jenis dan kualitas material hingga selisih anggaran.

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut,Kepala Inspektorat Maros tidak berada dikantor beliu lagi keluar ujar salah satu staf.

Namun tim pemeriksa yang turun kelapangan Pak Anto saat dihubungi melalui WatsApp mengatakan silahkan hubungi tim tekhnisnya pak Syamsul,begitu pula pak Syamsul Saat dibungi melalui WhatsApp nya tidak menenerima hanya terlihat nada Berdering.Rabu, (16/09).

Sebelumnya marak diberitakan, proyek di Labuaja yang diduga bermasalah tahun anggaran 2019 seperti pembangunan bendungan Bara’a di Dusun Pattiro, dengan anggaran sebesar Rp 252 juta. Pembangunan saluran irigasi Bara’a di Dusun Pattiro, anggaran Rp 133 juta.

Dua proyek tersebut sempat mendapat tanggapan warganet sebagai bendungan mirip kolam ikan. Sebab menelan anggaran besar padahal ukuran bendungan sangat kecil layaknya kolam memelihara ikan hias.

Data dari Lembaga Pemantau Penyalahgunaan Anggaran (Lappan) Maros menunjukkan, proyek yang disebut bendungan dan irigasi itu hanya berupa pipanisasi. Itu pun cuma memakai 70 batang pipa. Bukan hanya itu. Upah pekerja hanya Rp10.000.000. Cuma 3,9 persen dari dana yang digunakan.

Proyek tersebut mengundang kerisauan karena fisik bangunan yang dinilai tidak sesuai dengan anggaran yang jumbo. Panjangnya hanya 6 meter, lebar 4 meter, dan tinggi tak sampai 1 meter.

Saat kabar ini mulai mencuat ke publik akhir tahun lalu, pemerintah desa membangun sebuah proyek lagi, di lokasi berbeda. Volumenya sedikit lebih besar dari Bendungan Bara’a. Itulah yang kemudian diklaim Kepala Desa Labuaja, Asdar sebagai bendungan yang dianggarkan Rp252 juta.

“Jadi yang tertera di papan pengumuman APBDes itu salah tulis,” ujar Asdar, Kepala Desa Labuaja saat dikonfirmasi kala itu.

Dari data yang sama tersaji, ada juga indikasi penyelewengan pembangunan jalan desa (rabat beton Dusun Pattiro). Anggaran Rp421 juta dengan volume yang ditengarai tak sebanding.

Lalu, pemeliharaan sumber air bersih Lantebung di Dusun Pattiro, anggaran Rp101 juta. Pengadaan Pos Ronda di Dusun Nabung dan Dusun Kappang, anggaran Rp37 juta. Pembangunan MCK Umum di Dusun Kappang, anggaran Rp42 juta.

Kasus dugaan korupsi di Desa Labuaja sudah bergulir di Polres Maros. Belasan perangkat desa sudah diperiksa. (Hk)

 

 

 

 151 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *