Tuai Kritik, Bansos Beras Bergambar Bupati Martin Rantan Dicopot

KETAPANG, JAPOS.CO – Rencana pembagian beras untuk masyarakat miskin dengan kemasan Bantuan Sosial (Bansos) pada masyarakat yang terdampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), kelompok penyandang cacat (disabilitas) dan mahasiswa asal Ketapang yang tidak pulang saat pandemi, diperkirakan akan dibagikan pada September ini.

Hanya saja, beras bulog yang di kemas dalam karung 10 kiloan dan telah dipasang stiker Bupati, wakil Bupati, Setda Farhan berdampingan dengan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, akan dicopot.

Stiker bergambar Bupati Martin serta petinggi Pemda Ketapang itu dinilai tidak lazim, sehingga menuai kritik dari netizen dan berbagai kalangan. Martin Rantan dikabarkan akan maju kembali dalam Pilkada Desember mendatang dan akan berpasangan dengan Farhan.

Koreksi atas keberadaan stiker juga disampaikan langsung oleh anggota Komisi V DPR RI Boyman Harun. Menurut dia, para kepala daerah tidak boleh menyalah gunakan bantuan sosial (bansos) corona jadi alat kampanye jelang pilkada. Duit negara harus sesuai peruntukannya, tidak boleh ditunggangi kepentingan syahwat politik kelompok ataupun individu.

“Kita Pemerintah hanya berhak menyalurkan dan mengawasi agar bantuan itu tepat sasaran. Meski saya belum mengetahui atas kejadian bansos bantuan corona bergambar stiker calon kepala daerah, saya mengecam atas peristiwa tersebut,” kata Boyman Sabtu, (22/8) lalu.

Rencana pencopotan stiker bergambar Martin Rantan yang telah menghiasi karung beras bansos diketahui setelah Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Ketapang Jusri Pake memberikan keterangan kepada awak media.

Menurut dia, pencabutan stiker tersebut atas permintan Pemda Ketapang melalui Dinas sosial. Selain itu, pihak bulog juga mendapat himbauan tertulis dari Bawaslu agar stiker dicopot. “Semua ini dilakukan, agar tidak menjadi polemik,” terang Yusri, Senin, (31/8).

Dijelaskan dia, beras pesanan Pemda Ketapang sudah siap angkut dan dimuat di kapal, hanya saja dikatakan, kapal pengangkut belum berlayar dan masih bersandar di pelabuhan SemarangJawa Tengah dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan.

Sesuai kesepakatan, Pemda Ketapang telah memesan beras kepada bulog jenis premium sejumlah 640 ton, seharga Rp 12.950/kg, tergabung biaya stiker dan ongkos transportasi ke Kecamatan. Beras dikemas dalam karung 10 kg, atau jumlah keseluruhan 64 ribu karung dan diangkut tiga tahap.

“Terkait stiker, sebenarnya telah ditempel setiap karung. Sehubungan himbauan bawaslu dan permintaan Pemda Ketapang, maka sebelum pendistribusian ke Kecamatan, stiker akan di cabut dari karung. Pihak kami tidak merasa keberatan dan dengan senang hati membantu semua itu,” ujarnya.

“Sedangkan untuk biaya stiker yang telah dikeluarkan, akan ditanggung oleh Pemda Ketapang,” lanjutnya.

Sementara system pembayaran juga telah disepakati dua belah pihak. Pembayaran akan dilakakukan Pemda Ketapang ke Bulog setelah beras tiba di tempat. Lembaran resi pengiriman/penerimaan barang Kecamatan nantinya menjadi bukti administrasi pendukung proses pencairan.

Melalui media ini disampaikan, sejak dua tahun silam, Bulog telah berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum). Sejak itu pula peranan lembaga ini dalam menjalankan fungsinya menjadi ganda. Selain bertugas seperti biasa, Bulog juga diperbolehkan melakukan kegiatan komersil, tentunya dengan aturan yang ada.

“Selain beras, Bulog juga menyediakan berbagai aneka produk, seperti, gula, daging kemas, minyak goreng, susu dan lainnya. Semua ini di sajikan guna menekan harga pasar dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pihak pemerintah maupun masyarakat umum dipersilakan memesan,” tuturnya.(Tris/Dins)

 1,394 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *