Asian Games ke-IV tahun 1962 dan Asian Games ke-18 di Jakarta-Palembang

JAKARTA, JAPOS.CO – Saat Jakarta Ibukota RI masih kota besar biasa, kota ini dinahodai seorang Walikota bernama Sudiro. Pada tanggal 10 Maret, 1949 ia meletakkan batu pertama dimulainya pembangunan kota baru, kota satelit baru bernama Kebayoran Baru.

Tanah seluas 750 ha dibangun perusahaan Central Stichting Wederopbouw(CSW) yang dulu kantornya di seberang lahan yang kini menjadi Gedung Kejaksaan Agung. CSW didirikan Pemerintah saat itu untuk membangun kawasan Kebayoran Baru, kawasan berkonsep Garden City.

Saat saya baru tiba di Jakarta, tinggal di rumah kerabat di Taman Bukit Tunggul, dekat Jl.Guntur, tidak jauh dari Komplek CPM Guntur, seorang keponakan sebaya dengan saya, yang sudah menghuni Jakarta beberapa tahun mengajak saya dibonceng naik sepeda melihat wajah kota satelit Kebayoran Baru yang sedang bertumbuh pesat.Kami melintas di Jl.Latuharhary melewati Jl.Blora, melintasi jembatan Dukuh Atas, Jl.Jendral Soedirman yang masih sepi lalu lintas, udara segar, kiri kanan masih banyak rumah warga, banyak warung, restoran kecil, tempat usaha, toko ada kantor2 perusahaan hingga kami melewati Jl.Jend Sudirman,.Bundaran Senayan melintas di Jl.Sisingamangaradja, di kiri kanan ada rumah rumah besar sebagian berlantai 1. Ahkirnya kami tiba di Bundaran CSW sekarang, kemudian kami memutar kembali ke kawasan Pasar Manggis.

Naik sepeda di pagi hari yang cerah 65 tahun lalu, membuat hati kami senang, langit biru dan matahari yang bersinar dengan ceria, seolah olah ikut menyertai kami dalam perjalanan, saat menulis naskah ini, jadi teringat akan upaya Pemda DKI yang kini di Jakarta telah membangun sepanjang 63 km jalur sepeda. Tidak ada rasa takut, cemas ditabrak mobil atau pengayuh becak yang juga banyak waktu itu membawa penumpang.Kenderaan roda 2 masih jarang dan kenderaan roda 4 disamping bus umum, banyak juga sedan melewati kami, kebanyakan produksi negara-negara Barat seperti Fiat, Chevrolet, Impala, Borgward dan Jeep Willis juga.Becak masih dikayuh, baru ingat seminggu sebelumnya saat di Medan sudah ada satu dua becak bermotor.Di masa itu sarana becak menjadi transportasi vital buat warga, juga opelet, bis umum dan trem listrik jalur Tanah Abang – Kramat Raya dan Meester Cornelis(Jatinegara) ke Kota. Tentu juga tersedia KA dalam kota.

Di masa itu sebelum kawasan Senayan dibangun untuk komplek penyelenggaraan Asian Games ke IV, Kompas menulis beberapa waktu yang lalu, bahwa penduduk di kawasan ini khususnya orang-orang Betawi yang bermukim di Senayan, rela meninggalkan tempat kelahirannya demi kepentingan bangsa.Kepentingan dan nama baik bangsa dan negara untuk penyelenggaraan Asian Games ke IV. Pesta Olah Raga ini diikuti oleh 18 negara. Acara pembukaan dihadiri 100.000 orang.Tiga belas cabang olahraga dipertandingkan dengan 200 atlet mewakili Indonesia, menjadi Juara ke II setelah Jepang. Presiden Soekarno saat itu menunjuk Menteri Olah Raga Maladi sebagai Kepala Proyek Pembangunan Sarana Olah Raga seluas 300 ha di Senayan.

Menurut Maladi pihak Komite Olympiade Indonesia sejak penyelenggaraan Asian Games ke I di New Delhi, India sudah menyiapkan diri jika Indonesia menjadi tuan rumah pesta olah raga se Asia ini. Pada Sidang Asian Games Federation di Tokyo, Jepang, tanggal 28 Mei, 1958, Indonesia terpilih sebagai penyelenggara mengalahkan Pakistan. Delegasi Indonesia di Sidang itu dipimpin Ketua KOI Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan anggota Paku Alam VIII, Maladi dan Dr. Halim. Dengan sisa waktu 4 tahun, Presiden Soekarno membentuk Asian Games Indonesia, yang tugasnya menyiapkan Asian Games ke IV, bulan Agustus, 1962.

Disini dari tanggal 24 Agustus – 4 September, 1962 berlangsung Asian Games ke IV dan Asian Games ke 18 bulan Agustus, 2018 dan di Palembang.

Pada tanggal 8 Pebruari, 1960 Presiden Soekarno memancangkan tiang pertama dimulainya pembangunan Stadion Utama Senayan. Proyek ini mendapat kredit lunak sebesar USD 12, 5 juta dari Pemerintah Uni Soviet. Karena itu saat pemancangan tiang ke 100, pada tanggal 18 Pebruari, 1960, secara simbolis dilakukan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev. Stadion dengan atap model temu gelang ini memiliki kapasitas 100.000 tempat duduk dan diresmikan tanggal 21 Juli, 1962 pukul 17.00 waktu setempat.Asian Games menjadi pesta olah raga tingkat internasional negara-negara di Asia dan pesta olah raga terbesar ke 2 setelah Olympiade.

Presiden Soekarno memilih daerah Senayan sebagai tempat pembangunan kompleks pusat olah raga. Sekitar 60.000 warga dari 4 kampung yaitu Petunduan, Senayan, Kebon Kelapa dan Bendungan Hilir dipindahkan antara lain ke Tebet, Slipi dan Cileduk. Karena lahan lokasi HI akan dibangun cukup luas dan berupa rawa rawa dan dasarnya cukup dalam, pemancangan tiang tiang beton cukup lama. Masalah pengosongan tanah ditangani Bapak Lukitodisastro, pejabat di Istana yang kemudian di tahun 1970 an, diangkat menjadi Duta Besar RI.

Setelah berada di Bundaran ini, kami membelok ke kanan melintas di Jl. Imam Bonjol, di kiri dan kanan jalan rumah rumah warga yang dulu dikenal sebagai daerah elite Menteng. Kami tiba di depan Taman Suropati, kami membelok ke kanan sambil memandang indah dan megahnya Gedung Adhuc Stat, melintas di Jl. Madiun, belok kiri ke Jl. Latuharhary, melewati jembatan, terus menuju Jl Guntur tiba di rumah keponakan yang membonceng saya. Walau ia lelah tapi merasa senang dan bangga membonceng saya, yang baru meninggalkan kota Tarutung, Ibukota Tapanuli Utara yang Bupatinya membangun Bandara Silangit, kira kira 40 km dari Tarutung dan 50 km dari Prapat.
Selandia Baru. Presiden Soekarno meletakkan batu pertama dimulainya pembangunan Hotel Indonesia pertengahan tahun 1959.

Satu kenangan indah bagi penulis mantan warga Sumatra Utara yang bermukim lama di Jakarta Ibukota RI, negara kepulauan terbesar di dunia, yang akan merayakan HUT Kemerdekaan ke 75 tanggal 17 Agustus, 2020.

Opini, By Arifin Pasaribu

 224 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *