PPDB Online di DKI Jakarta TA 2020/2021 Melalui Jalur Zonasi, Orangtua Protes Batas Usia Calon Siswa

JAKARTA, JAPOS.CO –  Sejumlah orangtua murid memprotes seleksi usia dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) TA 2020/2012 melalui jalur zonasi dan umur.

Salah satu orangtua, Agus, heran korelasi seleksi usia dengan tujuan pemerintah DKI Jakarta yang berpihak pada warga tak mampu.

“Pertanyaan saya, satu apakah usia mencerminkan ketidakmampuan seseorang?” tanya Agus dalam rapat dengan Komisi E Bidang Kesra DPRD DKI Jakarta, Rabu (24/6). Dia mempertanyakan apakah anak yang tua memang berasal dari keluarga tak mampu ketimbang anak berusia muda. Agus menilai seleksi usia ini justru memperlihatkan ketidakadilan.

Agus beranggapan pemerintah DKI Jakarta seharusnya memperbanyak kuota PPDB jalur afirmasi untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi warga tak mampu bersekolah. “Saya yang bodoh ini berpandangan kalau memang keberpihakan ke arah sana, perbesar kuota afirmasi, bukan zonasi yang diutak-atik,” jelas dia.

Hari ini,  Komisi E menggelar rapat dengan Dinas Pendidikan DKI membahas soal polemik PPDB 2020. Dalam rapat hadir beberapa orang tua murid.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menyebut tidak ada aturan bahwa PPBD jalur zonasi harus diisi anak tidak mampu.

Menurut dia, anak dengan nilai akademik baik dapat mendaftar jalur prestasi apabila terdepak di jalur zonasi atau afirmasi.

“Tidak ada ceritanya dia harus tidak mampu. Anak ini mau dari keluarga kaya, miskin, pintar masuk di sini,” ucap dia.

Sebelumnya, Nahdiana menuturkan, pihaknya ingin memastikan semua anak dari berbagai kalangan, baik berprestasi atau tidak, mendapatkan kesempatan bersekolah.

Karena itu, Dinas Pendidikan memasukkan syarat usia dalam sistem PPDB tahun ajaran 2020/2021 bagi calon murid yang mendaftar melalui jalur zonasi sekolah.

“Hal ini dilatarberlakangi oleh fakta di lapangan bahwa masyarakat miskin justru tersingkir di jalur zonasi lantaran tidak dapat bersaing secara nilai akademik dengan masyarakat yang mampu,” kata Nahdiana dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6).

“Oleh karena itu, kebijakan baru diterapkan, yaitu usia sebagai kriteria seleksi setelah siswa tersebut harus berdomisili dalam zonasi yang ditetapkan, bukan lagi prestasi,” tutupnya.(AMIN)

 

 191 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *