Sengketa Tanah di Trowulan Berakhir Dengan Mediasi

MOJOKERTO, JAPOS.CO – Hati – hati ketika menjual atau membeli tanah, teliti semua keabsahan surat dan baca perjanjiannya, jangan sampai kecewa apalagi setelah menjual tanah berujung sengketa. 

Hal ini dialami oleh Sukiyati (45) warga Desa  Wates Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, meski tidak sampai menempuh jalur hukum, ia dan orang Tuanya Dewi (80 th) harus diombang ambingkan pihak pembeli lantaran pada perjanjian saat dijual ada bangunan yang tidak ikut dalam penjualan.  Namun atas ulah pembeli tersebut, diakui jika bangunan itu sudah di beli dari Mbok Dewi (80) dengan dibuatkan gubuk ukuran 3 x 4 meter dengan kondisi yang sangat tidak layak huni. 

Dari penuturan Sukiyati, saat penjualan tanah pada tahun 2019 lalu, diatas tanah tersebut berdiri sebuah bangunan dengan ukuran 4 x 8 meter yang dihuni oleh ibu saya.

Dalam perjanjian jual beli, bangunan tersebut tidak masuk kedalam perjanjian jual beli karena rumah itu masih dihuni oleh orang tua saya. Dan harapan saya agar rumah itu dihuni sampai wafat karena, beliau tidak mau diajak tinggal bersama saya, tutur Sukiyati. 

Lebih lanjut Sukiyati menambahkan, selang setahun kemudian setelah tanah dijual, ternyata rumah tersebut sudah dikuasai oleh pembeli dan orang tua saya dibuatkan gubuk bambu reot berukuran 3 x 4 meter dengan kondisi yang sangat memperihatinkan, tambahnya. 

Yusuf, Kepala Desa Wates ketika dikonfirmasi mengenai adanya sengketa jual beli tersebut langsung memerintahkan Kepala Dusun Prayan untuk mempertemukan kedua belah fihak.

“ Pak kadus, tolong ini segera di urus dan secepatnya kedua belah pihak ini dipertemukan untuk mencari solusi yang terbaik, dan biar sama – sama tidak ada yang dirugikan, karena dengan musyawarah itu akan jauh lebih baik dari pada berurusan dengan lembaga peradilan” tuturnya. (Set)

 

 407 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *