Penghai Kerja Proyek Serampangan, Jembatan Darurat Mengkwatirkan Warga

KUALATUNGKAL, JAPOS.CO – Pembangunan jembatan di Parit Gabis Rt 03 Desa Harapan Jaya, Kecamatan Seberang Kota, Kabupaten Tanjab Barat sudah dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat . Tentunya pembangunan tersebut harus sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang sudah diterapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tanjab Barat Prov. Jambi.

Sangat di sayangkan, masyarakat setempat kecewa kepada Rekan Pelaksana dan Konsultan Pengawas, karena pada saat awal mulai pekerjaan, Rekanan dan Konsultan Pengawas tidak pernah ada di lokasi pekerjaan.

Tidak hadirnya Rekanan dan Kons. Pengawas dilokasi, sudah jelas menjadi masalah dengan masyarakat setempat, sebab jembatan darurat yang di bangun oleh Rekanan itu sangatlah tidak layak dan juga bakal mencelakakan para masyarakat setempat yang akan melintas, dan juga jembatan darurat yang dibangun oleh Rekanan itu menggunakan kayu bekas.

Didalam bestek pekerjaan, seharusnya Rekanan Pelaksana menggunakan cerucup dia 12-15 cm, dan juga ada peralatan lainnya seperti, mobilisasi, Base Camp, Kantor, Barak, Bengkel dan Gudang, namun semua itu sama sekali tidak terlihat dilokasi pekerjaan si Rekanan Pelaksana, yang ada dilokasi pekerjaan hanyalah cerucup yang berukuran sekitar dibawah dia 8 cm, dan podok untuk istirahat para pekerja.

Pelaksana pembangunan jembatan dikerjakan oleh CV. Sumber Abadi Sentosa, terhitung tanggal 30 maret 2020, nilai Kontrak 7.659.137.000, Direksi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Sumber dana APBD Tahun Anggaran 2020, Lokasi, Kecamatan Seberang Kota.

Warga Rt 03 Parit Gabis Abdul (15/4) mengatakan, “ Ya kami warga memang sangat kecewa kepada Rekanan Pelaksana, karena sudah berkali-kali kami minta tolong perbaiki jembatan darurat itu melalui pengawas pekerjaan yang dilokasi, namun sama sekali kita tidak di perdulikannya.  Hal yang sangat mengkwatirkan lagi cerucup yang akan digunakan oleh rekanan itu kecil-kecil dan juga harganya / batang hanya Rp. 9.000, hal yang mustahil kalau pekerjaan Milyaran seperti ini. Kok Rekanan masih menggunakan cerucup yang kecil-kecil, soalnya proyek ini Milyaran Rupiah, info yang kami dapat dari kepala tukang di lapangan, bahwa mulai dari Parit Itur, Parit Yusuf, Parit Gabis, Parit Bakung itu semua pekerjaan si Penghai”, ujar Abdul.

 “Maka dari itu kami sangat berharap kepada Rekanan Pelaksana, agar semua jembatan darurat yang dikerjakan nya itu segera diperbaikan secepat mungkin sebelum jembatan darurat tersebut memakan korban.” tambah Abdul  pada Japos.co dilokasi pekerjaan.

Ruslan, kepala tukang pekerjaan jembatan menjelaskan, memang benar, dari awal mulai menanam tiang pancang, konsultan Pengawas tidak pernah hadir dilokasi pekerjaan ini, untung saja kita sudah terbiasa dengan pekerjaan jembatan seperti ini, kalau tidak bingung juga kita dibuatnya, kalau saat ini pancang yang ditanam baru 1 batang tiang pancang. “Kami juga berharap agar konsultan pengawas tetap hadir dilokasi pekerjaan, supaya kami sebagai pekerja ini tidak selalu disalahkan oleh orang Dinas PUPR.” jelas Ruslan.

Terpisah, Ketua Ormas Rajawali Sakti, Sudirman menyampaikan, silakan saja penghai sikontraktor ini bekerja, tapi bekerjalah sesuai dengan aturan yang ada.

Terkait dengan Konsutan Pengawas, konsultan sudah dapat upah untuk pengawasan pekerjaannya, sumber dananya juga dari APBD, jadi kalau macam ini cara Konsultan Pengawas bekerja, lebih baik tidak usah diupah lagi, hanya mengabiskan Anggaran APBD saja, ujar Sudirman.

Konsultannya hanya menujukan lokasi pekerjaan, lalu akhir pekerjaan baru dia hadir dilokasi pekerjaannya untuk menyaksikan bahwa pekerjaan tersebut sudah rampung 100 %.

“ Saran saya, lebih baik Konsultan seperti ini tidak usah dikasih upah. Dilihat cara Rekanan bekerja seperti ini, jelas sudah menunjukan prilaku yang kurang baik, karena untuk perlengkapan para pekerja saja banyak yang tidak ada, seperti Base Camp dan lain-lainya, padahal ini proyek Milyaran loo. Kalau memang semua perlengkapan itu ada anggarannya, rekanan wajib mengadakan perlengkapan yang dimaksud, kalau masalah jembatan darurat yang dibangun oleh rekanan itu sangatlah tidak layak, bahkan dibangun masih juga mengunakan kayu bekas, yang kita kwatirkan kalau kita melihat kondisi bangunan jembatan darurat seperti itu, nanti bisa mencelakai masyarakat setempat “.

“Begitu juga cerucup yang akan digunakan untuk plat injak, seharusnya cerucup itu disesuaikan dengan diameternya, kalau dilihat cerucup yang ada ini saya yakin tidak masuk dengan ukuran yang sudah ditetapkan di dalam Bestek.” tuturnya.

Masih kata dia, “ Plat injak yang akan kita gunakan itu sangat lah penting, nah kalau ketahanan plat injak tersebut tidak kuat, dan mengalami penurunan pondasi dikarenakan menggunakan cerucup yang tidak sesuai dengan Bestek, apa jadinya jembatan tiang pancang itu ? Kira-kira rekanan mau tanggungbjawab tidak, tentunya dia tidak akan bertanggung jawab, sebab dibatasi dengan waktu pemeliharaan.  Ini yang kita lihat hanya sebagian kecil saja, belum lagi termasuk tiang pancang yang akan ditanam itu berapa batang pada satu titiknya, jadi jangan main-main dengan pekerjaan yang ada ini. Saya ingatkan kepada Rekanan (penghai), bekerjalah sesuai dengan aturan kalau tidak mau di permasalahkan nantinya.” tutup Sudirman.

Untuk mengkopirmasikan terkait pelaksaan proyek ini, Kabid Bina Marga Arif Sambudi dan Pihak Kons. Pengawas belum dapat dihubungi. (Tenk)

 

 1,048 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *