Sengketa Lahan Milik Rusmini Damanik Berujung di PN Bangkinang

Pekanbaru, JAPOS.CO – Siti Rusmini Br Damanik telah Digugat oleh seorang wanita bernama Maspiah Br Simangunsong dengan Perkara Perdata Nomor : 2/Pdt.G/2020/PN.Bkn atas sengketa Lahan sawit seluas 2 (Dua) Hektar yang berada di Rt.003 Rw.002 Dusun I Desa Sekijang Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar.

Setelah memasuki beberapa kali Persidangan, maka pada Kamis ini tanggal 09 April 2020 telah memasuki Sidang Pembuktian Dokumen dari pihak Penggugat.

Dari keterangan Rusmini, Maspiah Simangunsong (MS) merupakan Istri Kedua dari Amran yang merupakan Kepala Desa Tebing Lestari yang sudah bercerai 20 Tahun lalu. MS mengklaim atas kepemilikan tanah berupa kebun kelapa sawit yang dikelola oleh Siti Rusmini Damanik (SRD) istri ketujuh dari Amran.

Menurut SRD, ada yang aneh, sebab MS bukan hanya menggugat dirinya saja, namun ada 4 orang yang digugat oleh MS, yaitu SRD (Tergugat I), Amran, Kepala Desa Tebing Lestari (Tergugat II), H. Ahmad Taridi, Kades Desa Sekijang (Tergugat III) dan Camat Tapung Hilir (Tergugat IV).

SRD menceritakan bahwa lahan sawit tersebut dikelolanya dengan modal sendiri. “Amran itu sudah nikah cerai sebanyak 7 kali. Maspiah boru Simangunsong (MS) merupakan istri Amran yang Kedua. Saya ini istri Amran yang ke 7 yang sekarang ini pun kami sudah bercerai, ” ungkap SRD kepada Japos.co.

“Saya menikah dengan Amran kala itu umur saya 32 tahun sedangkan Amran 43 Tahun. Sebelum saya menikah, saya sudah memiliki banyak asset dan punya beberapa usaha yang bisa dibilang sukses secara Financial. Kami menikah secara Resmi di Kantor KUA Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar pada hari selasa. pada Tanggal 27 April 2010, ” lanjutnya.

“Saya menikah dengan Amran di tahun 2010, tapi lahan itu sudah mulai kami kelola di tahun 2009. Pada awalnya tanah yang saya kelola itu masih hutan belukar, sehingga sudah banyak modal yang saya keluarkan untuk mengurus lahan itu. Saya kelola dengan baik dan sekarang ini sedang berbuah namun tiba-tiba MS muncul mengklaim lahan itu miliknya sehingga saya digugatnya ke PN Bangkinang. Ini ada apa??” terang SRD.

Selama berumah tangga, kata SRD, Amran tahu kok selama ini dirinya yang kelola lahan itu.  Justru Amran sendiri yang mengajak  untuk mengelola lahan itu. Dan waktu itu masih hutan dan belum memiliki surat-surat sehingga diterbitkanlah Surat SKT.

“Seandainya 20 tahun silam MS sudah memiliki surat-surat atas lahan tersebut, tentunya MS keberatan sejak dari dulu saat dia tahu lahan itu dikelola oleh wanita lain. Mengapa baru sekarang setelah sawit sudah mulai menghasilkan?” jelasnya lagi.

Sebagai informasi tanah kebun kelapa sawit itu yang diklaim milik MS seluas 2Ha sementara lahan yang SRD miliki keseluruhannya adalah + 10 hektar dimana terdapat 3 (tiga) buah surat SKT yang di keluarkan oleh pemerintah Desa  Sekijang Kecamatan,Tapung Hilir kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

2 SKT atas nama Amran dan 1 SKT atas nama Siti Rusmini Damanik. Sedangkan sisanya oleh karena merupakan lahan yang dekat dengan daerah aliran sungai sehingga pihak Desa Sekijang tidak bersedia menerbitkan surat, namun demikian pihak Desa Sekijang mengetahui pemilik lahan kebun sawit itu adalah SRD.

Sementara MS mengklaim lahan itu miliknya dengan menunjuk surat kepada saya berbentuk kertas segel, sementara saya pegang SKT (Surat Keterangan Tanah) yang Asli atas nama saya sendiri dan setiap tahun saya yang membayar Pajak/PBB nya.

Amran sendiri tidak mau tau menyangkut hal ini, Amran mengatakan ini tanggung jawab saya sendiri. Amran malah memojokkan saya dan menyalahkan saya mengapa ada surat SKT di tangan saya, padahal surat itu Amran sendiri yang urus sewaktu kami masih berstatus suami-istri.

Pertanyaannya, apakah surat akan terbit kalau cuma saya sendiri yang pergi mengurusnya? Kan mustahil..

Masih kata SRD, pada Desember 2015 ada pencalonan Kepala Desa dan Amran menang menjadi Kades di sana. “Setelah Amran menjadi Kades, sejak itulah mulai ada gelagat tidak baik dari mereka terhadap diri saya. Berbagai cara mereka lakukan untuk menyingkirkan saya, ” ujarnya.

“Saya digugat MS, saya mulai ditekan oleh pihak-pihak yang ingin berbuat tidak baik kepada saya. Saya merasa tertekan sampai saya depresi, saya sakit berbulan-bulan. Usaha saya yang selama ini berjalan baik jadi terabaikan dan akhirnya beberapa usaha saya harus tutup karena saya tidak bisa fokus lagi,” sambungnya.

Namun saat Japos,co mengkonfirmasi kepada kuasa hukum Penggugat, Kasman Simamora SH mengatakan Penggugat pernah membeli bidang tanah dan dimiliki oleh orang lain, setelah ditelusuri termasuklah Amran di dalamnya, itulah dasar hukumnya. Sekarang sedang diproses di PN Bangkinang.

Terpisah, Kuasa Hukum Tergugat II (Amran), Jaka Marhaen SH menambahkan sejauh ini kasus lahan ini sedang diproses secara Gugatan Keperdataan di PN Bangkinang. Jaka mengatakan bahwa Penggugat (MS) merupakan Isteri Pertama dari Tergugat II.

“Lahan tersebut memang punya Ibu Maspiah isteri pertama Amran, dengan bukti surat jual beli dan pernyataan para Datuk. Amran tidak pernah memberikan lahan punya punya isteri pertamanya ke isteri kedua karena itu bukan lahan miliknya, ” jelasnya.

“Untuk lebih lanjut boleh ditanyakan kepada PN Bangkinang dengan Nomor Registernya 02” kata Jaka.

Sementara Tergugat III (Kades Sekijang, H.Ahmad Taridi) mengatakan sebenarnya ini persoalan internal keluarga mereka. Sebenarnya kuncinya adalah Amran sebagai suami. Maspiah 2002 sudah cerai dengan Amran dan tidak perrnah kembali. Oleh karena itu selama ini lahan itu dikuasai oleh Rusmini. “Siapa yang mengelola atau mengerjakan saya kurang tau, yang saya tau lahan itu sudah ada. Mengenai legal dari surat yang dipegang oleh Rusmini memang dikeluarkan oleh pemerintah Desa Sekijang berdasarkan pemberian oleh Amran,” ungkap Taridi.

Taridi mengatakan, menurut keterangan dari Amran, sebelum Amran menikah dengan Rusmini lahan itu sudah ada, namun tanamannya kami tidak tahu. Dikarenakan tanaman itu sudah ada dan saat akan membuat surat tentu harus ada surat hibah  dari Amran untuk Rusmini. Setelah itu harus ditandatangani oleh anak-anak Amran. Berdasarkan itulah Surat itu dikeluarkan.

Saat ditanyakan ada dugaan terbitnya surat ganda atas lahan yang sama, Taridi mengatakan ia tidak mengetahui hal itu. “Silahkan ditanyakan langsung ke Amran selaku suaminya. Sekarang sudah masuk ke ranah pengadilan, kita tunggu saja hasilnya. Kalau menurut saya hendaknya masalah lahan ini ditanyakan ke Pengadilan Agama terlebih dahulu, ” jelas Taridi.

Saat ditanyakan mengapa MS menggugat sampai 4 orang. Taridi berpendapat bahwa jika kasus mengenai Lahan, Kades dan Camat memang otomatis ikut, namun tergugat utamanya adalah Rusmini.

“Sepengetahuan kita lahan itu milik Amran yang dibelinya dari Penjual dengan kondisi belukar, belum ada tanaman sawit. Pihak Penjual tidak mengenal Maspiah, mereka hanya kenal dengan Amran. Dalam mendudukkan suatu perkara Administrasi diperlukan kejujuran,” tutup Taridi. (AH)

 546 total views,  6 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *