Pengaspalan Jalan Desa Kedung Bocok Terindikasi Mark-up

Sidoarjo, JAPOS.CO – Desa Kedung Bocok Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur Pada Tahun Anggaran (TA) 2019 dalam ÀPBDes mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Jalan Aspal 2 paket kegiatan, satu paket di Dusun Ngagel dengan nilai Rp 127.589.000 dengan luasan 1.239 atau panjang 413 m dan lebar 3 m tebal 3 cm.

Sementara satu paket lainnya terdapat di Dusun Lain dengan biaya Rp 269.184.000 dengan rincian luas 2.811 m2 atau panjang 937 m dan lebar 3 m serta tebal 3 cm.

Berdasarkan keterangan Pj Kepala Desa Kedung Bocok sekaligus PA (Pengguna Anggaran) Tumari yang dikonfirmasi Japos.co di kantor desa, Selasa (31/3) menyebutkan bahwa pembangunan jalan aspal di desa tersebut direncanakan oleh Pendamping Desa bernama Tukat dan TPK untuk kegiatan ini adalah Kaur Kesra bernama Rian. Hal ini juga dibenarkan oleh sekretaris desa yang mendampingi pejabat kades.

Menurut Tumari untuk kegiatan ini, alokasi biaya secara keseluruhan telah terserap dan pekerjaan swakelola yang tidak ada masa pemeliharaan itu juga telah selesai dilakukan.

Namun dari hasil investigasi Japos.co bersama tim yang menghadirkan Konsultan Independen, diperoleh fakta bahwa untuk pekerjaan jalan aspal ini setidaknya ada 4 item pekerjaan yang membutuhkan biaya, antara lain mobilisasi dan demobilisasi kurang lebih Rp 12 juta, cor tack coat aspal emultion, penghamparan aspal 3 cm dan ongkos pekerja (32,5%).

Dari empat item pekerjaan ini, estimasi biayanya untuk cor tack coat aspal emultion yaitu 1.350 x 3 x 0.35 = 1.417,5 liter x 13.000 = Rp 18.427.500.

Penghamparan aspal 3 cm dengan estimasi biaya 1.350 x 0,03 x 0,35 = 93,15 ton x Rp 1.300.000 = Rp 121.095.000. Upah pekerja Rp 45.344.812, PPn + Pph Rp 21.259.740, sehingga total estimasi biaya untuk dua paket pengaspalan ini sekitar Rp 218.127.052 dan bila dialokasikan anggaran Rp 396.773.000 maka masih ada sisa Rp 178.645.948. Jumlah inilah yang diduga jadi nilai mark up pekerjaan pengaspalan di Desa Kedung Bocok.

Terpisah, mantan Kades Kedung Bocok Moch Ali Ridlo yang dikonfirmasi melalui telepon seluler, Selasa (31/3) mengatakan bahwa pekerjaan itu sudah sesuai dan murah, tapi mungkin karena suasana politik desa yang saat ini sedang memanas sehingga ada pengaduan masyarakat kepada media.

Sementara itu, Direktur Bidang Konstruksi LSM WAR (Wadah Aspirasi Rakyat) Ir Hariyanto SH MT saat dimintai komentar, Selasa (31/3) di kantornya mengatakan, sebenarnya bila para kades patuh dengan peraturan bupati yang menetapkan standar harga tertinggi untuk bahan yang digunakan dalam pembangunan di desa, maka hal seperti itu bisa dihindari. “Yang penting niat awal dari Pengguna Anggaran. Kalau ada niat untuk mencuri (korupsi) maka hal seperti itu telah layak untuk dilaporkan kepada aparat penegak hokum,” sebut pria lulusan ITS ini.(Zein)

 1,152 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *