Lahan Rencana Bandara Ketapang Bebas Biaya APBD

Ketapang, JAPOS.CO – Persiapan lahan pembangunan bandar udara (bandara) di Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat seluas 1.450 hektar terletak di Desa Pelang, Desa Sungai  Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) dan Desa Sungai Melayu Raya Kecamatan Sungai Melayu Raya, tinggal menunggu jadwal ekspose di Kementerian Perhubungan.

Dari luas total areal itu, Pemkab Ketapang tidak melakukan pembayaran pembebasan lahan alias gratis. Artinya, beban Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020, tidak ada belanja untuk itu.

Penjelasan itu dipaparkan Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Ketapang, Joko Prastowo, beberapa waktu lalu. “Hingga saat ini rencana bandara sudah tahap ekspose master plan di Kementerian, sambil menunggu jadwal waktu Kementerian untuk melakukan ekspose itu,” kata Joko Prastowo.

Pihaknya telah memastikan bandara yang dibangun merupakan bandara berstatus bandara internasional jika ditinjau dari luasan lahan yang digunakan.

“Sehingga pesawat yang beroperasi di bandara ini berjenis boing tetapi jenis pesawat penjelajah pun (ATR), otomatis bias,” sebut dia.

Status lokasi dipastikannya berada di kawasan hutan milik negara, tidak ada tanah warga yang termasuk dalam rencana pembangunan itu dan sudah mendapat rekomendasi dari tim penilai agar proyek ini terus dilanjutkan, tetapi pihaknya juga menunggu pengganti kawasan itu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK).

“Kalo dilihat hasil rekomendasi tim itu dan area pengganti pun sudah ada dan layak. Besar kemungkinan proses tukar lahan ini bisa disetujui, kita tunggu lah hasil dari Kemen LHK,” katanya.

Sementara itu, dari desain bandar udara ini, akan memiliki arsitektur berciri khas daerah. “Ketapang kan memiliki ciri khas yakni dengan simbol ale-ale, jadi kalo dilihat dari desainnya, kemungkinan akan mengambil filosofi itu yang dipadukan dengan motif melayu dayak serta lainya,” ungkap Joko Prastowo.

Sementara itu, lokasi bekas Bandara Rahadi Usman akan dilakukan kajian sesuai dengan kebutuhan dan rencana daerah. “Bisa saja bekas bandara itu dijdikan sebagai lokasi olahraga, pusat ekonomi atau rumah sakit serta pusat pendidikan penerbangan, semuanya tergantung kajian nantinya,” pungkas Joko Prastowo.(Dins)

 1,137 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *