Kombes Umboh Ungkap Kebohongan Laporan Oknum Penyidik ke Mabes Polri

Pekanbaru, JAPOS.CO – Kasus pembunuhan sadis Putri Mega Umboh, istri AKBP Mindo Tampubolon,  masih menyisakan derita berkepanjangan bagi keluarga korban.

Ayah korban, Kombes Pol (Purn) James Umboh, yang terang-terangan membela menantunya, Mindo, dari tuduhan sebagai otak pembunuhan putrinya itu, masih tidak puas. Ia mengungkap sejumlah kebohongan yang dilakukan oleh oknum Penyidik.

“Sebelum kasus bergulir ke Pengadilan Negeri (PN) Batam, oknum Tim Penyidik membuat laporan bohong dan menyesatkan kepada Mabes Polri, yang tertuang di dalam Laporan Pelaksanaan Tugas Asistensi tertanggal 10 Agustus 2011. Pada laporan itu disebutkan bahwa, Ahli Forensik menyatakan waktu kematian adalah antara pukul 02.00 – 03.30 WIB,” ungkap James Umboh kepada Japos.co, Sabtu (21/12).

Padahal, kata Mantan Kapolresta Pekanbaru ini, fakta persidangan saat perkara bergulir di PN Batam mulai bulan Januari 2012, Ahli Forensik dengan jelas mengungkapkan bahwa, waktu kematian tidak dapat diketahui karena jasad sudah membusuk.

Alasannya, karena memang Autopsi tidak langsung dilakukan usai jasad ditemukan, melainkan sebulan usai dimakamkan. Hal ini juga tertulis pada putusanPN Batam.

“Fakta lainnya, bahwa pada Subuh sebelum kejadian pembunuhan, Almarhum Putri masih ngobrol lewat telepon dengan ibunya dari sekitar pukul 02.00 WIB lewat hingga sekitar pukul 02.30 subuh,” ucap Umboh.

Saat itu, korban menceritakan kepada ibunya, bahwa dirinya baru saja memarahi dan menempeleng Rosma karena membuat pintu rumah rusak sehingga dirinya cukup lama menunggu di luar rumah.

Kemudian, lanjut Umboh, pada persidangan juga terungkap sejumlah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disembunyikan oleh Penyidik.

Salah satunya adalah BAP Pertama pelaku pembunuhan yaitu Ujang. Pada BAP pertama itu, Ujang menyebutkan bahwa waktu terjadinya pembunuhan adalah pukul 07.45 WIB pagi.

“Padahal, pada fakta persidangan, terbukti bahwa pada jam tersebut Mindo sudah berada di Polda Kepri sejak pukul 06.55 WIB pagi. Ia diantar oleh anak saya sendiri bersama putrinya, Kezia, dan pembantu rumah tangga, Rosma, yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu,” terang Umboh.

Umboh juga mengungkapkan, cucunya, Kezia, menceritakan bahwa, setibanya di rumah usai mengantar Ayahnya ke kantor, Ujang langsung menarik korban.

“Kezia menyaksikan semua kejadian sadis itu,” papar Umboh.

Diungkapkannya lagi, pihaknya sebagai keluarga korban, baru mengetahui bahwa jasadnya tidak dilakukan autopsi setelah sekitar 3 minggu usai pemakaman.

“Lalu kami mendesak Direskrimum Polda Kepri bahkan sampai menghadap Kapolda agar dilakukan autopsi. Dan akhirnya, autopsi dilakukan setelah lebih dari 30 hari sejak dimakamkan,” jelasnya.

Tak hanya itu, dalam persidangan juga terungkap bahwa, BAP Konfrontir dan BAP Hasil Pemeriksaan menggunakan Alat Uji Kebohongan (Lie Detector) disembunyikan, serta rekomendasi dari Mabes Polri yang sangat penting, tetapi sama sekali tidak dilakukan oleh Penyidik Polda Kepri.

“Antara lain mengambil Call Dial Record (CDR) kontak, rekaman CCTV lalu mencari Taxi serta wanita yang disebut-sebut Ujang terlibat,” ujarnya.

Umboh juga mengungkapkan berbagai fakta persidangan yang secara terang-benderang membuka berbagai kebohongan Ujang dan Rosma, serta pertentangan kesaksian satu dengan yang lainnya.

“Belum lagi ‘Sinetron’ Rekonstruksi Palsu. Karena dalam rekonstruksi tersebut, peran Mindo digantikan oleh orang lain yang mukanya ditutup dan di dadanya digantung tulisan nama ‘Mindo Tampubolon’. Padahal, Mindo sendiri tidak pernah dihadirkan atau tidak pernah diberitahu sama sekali. Dan rekonstruksi palsu itu dilihat langsung oleh ibu korban, istri saya, yang hadir dilokasi,” paparnya lagi.

Tak hanya itu, lanjut Umboh, ada lagi cerita karangan Ujang mengenai wanita selingkuhan sehingga memperkuat fitnah keterlibatan Mindo. Padahal dalam fakta persidangan, sama sekali tidak pernah ada wanita yang disebutkan itu. Bahkan hingga saat ini, Mindo tak pernah punya hubungan dengan wanita manapun.

“Saya juga mengetahui isi putusan PN (Pengadilan Negeri), PT (Pengadilan Tinggi) dan MA (Mahkamah Agung) untuk Ujang dan Rosma, yang menghukum Rosma dengan hukuman maksimal sesuai tuntutan Jaksa,” lanjutnya.

Bahkan, Ujang dihukum lebih berat dari tuntutan. Adapun hal yang memberatkan Ujang, kata Umboh, adalah karena membawa-bawa pihak yang tidak bersalah, yaitu AKBP Mindo Tampubolon. Tertuang dalam putusan Ujang dan Rosma.

Sedangkan JPU yang menuntut hukuman seumur hidup untuk Mindo diputus Bebas Murni oleh PN Batam. Putusan itu, menurutnya, memang sesuai dengan fakta persidangan. JPU mengajukan Banding lalu Kasasi, baik untuk Ujang, Rosma dan Mindo.

“Putusan Kasasi menghukum Mindo dengan hukuman seumur hidup adalah putusan yang sesat dan terlihat jelas ada permainan di dalamnya. Saya dapat menunjukkan bukti dan kami juga sudah kami konsultasikan dengan dua mantan Hakim Agung, yang dengan tegas menyatakan bahwa itu adalah ‘permainan’,” tegas pria keturunan suku Asli Bandik Minahasa ini.

Sebagai seorang Ayah dari Anak Perempuan yang telah menjadi korban pembunuhan sadis, yang mengakibatkan Cucu-nya menjadi Piatu serta terpaksa terpisah dari Ayahnya, yang dipenjara akibat fitnah kejam dan putusan sesat itu, Umboh memohon kepada Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali, Presiden RI Jokowi serta Kapolri Jenderal Idham Aziz, untuk menolongnya dari praktek penegakan hukum yang menurutnya sesat.

“Anak menantu kami ini bukan lah pelaku. Bahkan dia adalah korban atas pembunuhan sadis atas istrinya,” pintanya.

“Sebagai purnawirawan Polisi, yang memiliki pengalaman Reserse dan hati nurani yang waras serta bertaqwa kepada Tuhan, tidak mungkin Saya mampu mengatakan bahwa Anak Menantu Saya bukan pelakunya, jika memang dia lah pelakunya. Saya minta dengan sangat kepada para pihak yang tak mengetahui fakta kebenaran agar tak menebar fitnah, yang semakin menambah derita kami sekeluarga, Anak Menantu saya AKBP Mindo dan Cucu saya Kezia. Saya berharap, jeritan kami ini dapat ditanggapi oleh pihak yang berwenang. Terima kasih,” tutup Umboh.

Untuk diketahui, Mindo Tampubolon adalah mantan perwira menengah Polda Kepri yang dituduh membunuh istrinya sendiri, Putri Mega Umboh. Peristiwa tragis ini, terjadi pada tahun 2011.

AKBP Mindo Tampubolon divonis oleh MA dengan hukuman Penjara Seumur Hidup lantaran dituduh sebagai otak pelaku pembunuhan istrinya, Putri Mega Umboh.

Setelah 6 tahun buron, Mindo ditangkap Kejaksaan di Desa Jagabaya II, Kecamatan Way Halim, Lampung, Provinsi Bandar Lampung, Selasa (25/06/19) malam.

Penangkapan Mindo mengagetkan publik. Pasalnya, selama buron, ternyata Mindo tinggal bersama anaknya, Kezia dan kedua Mertuanya yaitu Kombes Pol (Purn) James Umboh dan Getruida Winanda Mosse atau Getwien Mosse, yang yakin bahwa Mindo difitnah.(AH)

 1,165 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *