M Mahdi Alatas: Dalam Bisnis Travel Hutang Sudah Biasa, Saya Akui Miliki Utang

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang perdana kasus dugaan penggelapan dana haji atas kerugian 1.3 Milyar dengan terdakwa Muhammad Mahdi Alatas di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (2/12) dengan agenda pembacaan dakwaan.

“Terdakwa Muhammad Mahdi Alatas, pada bulan Juli 2017 sampai dengan bulan Oktober 2018, bertempat di Kantor PT. Basmah Jaya Wisata yang beralamat di Jl. Condet Raya No.8A Condet Jakarta Timur, dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, ” jelas Jaksa saat membacakan dakwaan dihadapan Majelis Hakim, Syafrudin Ainor Rafiek.

Menurut Jaksa, bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana tersebut diatas, diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP dan diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP.

Sementara usai sidang, Mahdi Alatas menyampaikan kepada wartawan bahwa dirinya mengakui mempunyai utang, namun tidak sebanyak itu.

“Objektifnya saya akui punya utang, saya punya utang tapi jumlah tidak segitu. Saya dibilang tidak pernah melakukan pembayaran, saya melakukan pembayaran bukti-bukti transfer jelas,” kata Mahdi.

“Yang dibacakan Jaksa kan tetap 1.3 milyar padahal tidak sebanyak itu, kerugian 996.5 juta, ” terangnya usai sidang

“Saya Islam, demi Allah demi Rasulillah, demi anak isteri saya dan keluarga saya, saya bersumpah kalau saya berdusta saya dilaknat,” tegasnya.

Menurut Mahdi, bahwa dalam bisnis travel hutang itu sudah biasa.

“Ada yang sudah 5 Tahun kok, bayar nya tar sok, tar sok, ” jelasnya.

Masih di hari yang sama, Ahmad Haidar selaku korban menyayangkan bahwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak menyebutkan satu Undang-Undang.

“Dakwaan Jaksa sudah bagus namun ada satu yang tidak disebutkan terkait Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), ” jelasnya kepada wartawan.

Menurut Ahmad, hal tersebut harus dibuka kemana uang jamaah tersebut agar jelas.

Sementara menanggapi atas tudingan bahwa terdakwa Mahdi merasa dizalimi, menurut Ahmad sudah mengakuinya.

“Gimana dizalimi? kan dia mengakui masih mempunyai sangkutan, siapa yang dizalimi? uang saya kemana? selama 3 tahun saya menunggu, ” tegas Ahmad.

Adapun bukti, kata Ahmad, cek palsu yang ditulis terdakwa pada saat dirumah yang bersangkutan.

“Bukti ada, cek palsu yang dia nulis sendiri, dirumahnya sendiri namun pada saat akan dicairkan dan itu tidak ada, jadi penipuan tersebut pada cek. Fotonya ada komplit, ” ungkapnya.

Pada saat itu, lanjut Ahmad terjadi serah terima sebuah sertifikat tanah dengan satu cek yang diserahkan kepada dirinya dengan senilai 1.3 milyar yang ditulis terdakwa.

Kemudian, terkait pengakuan bahwa terdakwa mengakui hanya mempunyai hutang 900jt, kata Ahmad bahwa penulisan cek dilakukan oleh terdakwa dan tahu jumlah nominalnya serta mengakuinya.

“Beberapa bulan yang lalu dua kali pertemuan dengan saya dan pengacara, dia akan membayar pada bulan Agustus dengan alasan sedang mengajukan KPR namun kenyataanya tidak ada, ” terang Ahmad.

“Selanjutnya, pada pertemuan kedua ditempat restoran yang sama, dia menyampaikan bahwa akan masuk dana 1.5 milyar, insya allah akan bayar pada hari Rabu paling lambat hari Kamis dan langsung akan dipindahkan ke rekening kita tetapi tetap tidak ada, ” lanjutnya.

Ahmad juga menghimbau kepada jemaah yang ingin melakukan ibadah ke tanah suci agar memilih travel yang berizin.

“Cek travel yang berizin, cek 5 pasti seperti pasti izinnya dan pasti keberangkatanya. Kalau sudah memberikan DP pertama minta invoice, kedua minta bukti yang bisa mengetahui sudah dibayar, tiket dan hotelnya, ” pungkasnya Ahmad.(Red)

 377 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *