Dituduh Serobot Tanah, Poniyem Hadapi Gugatan Adik Kandung atas Hak Pembagian Warisan

Pekanbaru, JAPOS.CO– Pembagian harta warisan dari orang tua yang harusnya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, wanita paruh baya ini malah dituduh telah menyerobot tanah dan bangunan yang menjadi haknya, hingga harus menghadapi persidangan di PN Pekanbaru.

Poniyem alias Supik (56) dan Jumadi (53) merupakan saudara kandung, mereka berdua dituduh oleh adik  sendirinya telah menyorobot atas sebidang tanah dan bangunan yang terletak di Jln Kereta Api, Simp Jln Cendrawasih, Pekanbaru.

Poniyem alias Supik mengatakan bahwa pada bulan September 2019 dirinya dan Jumadi telah digugat oleh adik bungsu mereka sendiri di PN Pekanbaru dengan tuduhan penyerobotan sebidang tanah dan bangunan dimana tanah dan bangunan tersebut merupakan asset hasil pembagian warisan untuk Poniyem dan Jumadi dari orangtua mereka.

“Kami kakak beradik ada enam orang, saat itu orangtua kami memberikan kami warisan untuk anak-anaknya dan kami semua mendapat bagian yang sama. Seiring waktu berjalan ketiga saudara saya sudah menjual warisan bagian mereka ke adik bungsu kami, Saimin. Sedangkan saya dan Jumadi tidak mau menjual bagian kami sebab itu pesan dari orangtua kami supaya tanah itu tidak dijual. Wasiat orangtua itu kami tetap pegang dan bagi saya itu adalah kenang-kenangan, ” jelas Poniyem usai sidang kepada Japos.co, Kamis (28/11).

Sembari menunjukkan surat keterangan kepemilikan tanahnya, Poniyem menceritakan bahwa semua keluarga dan Pak RT/RW pun mengetahui bahwa tanah dan bangunan itu adalah miliknya dan Jumadi yang sudah ditandatangani oleh kakak tertua mereka itu yang juga menjadi sepadan 1 di tahun 2017.

“Luas tanah miliknya tersebut 20,35m2 ( 5,5mX3,7m ). Sebelum direnovasi bangunan itu dikontrakkan Saimin kepada orang lain. “ Selama 3 tahun, sejak 2017 kami tidak menerima uang apapun dari adik kami. Setelah itu saya dan Jumadi berinisiatif merenovasi bangunannya. Namun setelah selesai direnovasi, kami dipanggil ke kantor Lurah. Kami diancam oleh Saimin melalui keponakan kami Rahman, katanya kami harus nurut dengan Saimin. Kalau tidak, maka warung itu mau dihancurkan. Kami diberikan pilihan, warung itu dijual dibagi berlima atau dibongkar, ” ungkap Poniyem.

“Yang saya herankan, warung itu kan haknya saya dan Jumadi, kenapa harus dibagi berlima lagi? Sementara bagian mereka sudah mereka jual semuanya, lagipula warung itu kami bangun dengan uang kami sendiri. Bapak RW membantu kami untuk menasehati Samin dan saudara-saudara saya untuk tidak berbuat seperti itu. Akhirnya Samin pun berjanji bahkan bersumpah di depan Lurah dan semua yang hadir mengakui bahwa tanah dan warung milik saya dan Jumadi, selesai pertemuan itu kami semua berphoto bersama dan bersalam-salaman pertanda sudah berbaikan, ” lanjutnya.

Namun beberapa bulan kemudian, ternyata secara diam-diam adik bungsu (Saimin) sudah membuat surat tanah itu menjadi sertifikat atas namanya sendiri dan ukurannya pun berbeda dengan SKPT.

”Orangtua saya pasti sangat sedih jika melihat peristiwa ini. Ya Allah..  Tolonglah kami, ” katanya lirih.

“Pada Persidangan berikutnya saya sangat berharap Bapak Majelis Hakim dapat melihat faktanya bahwa saya memiliki SKPT tahun 1972, kami memohon agar kami mendapat keadilan seadil-adilnya” tutupnya. (TIM)

 

 398 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *