Praperadilan Mathius Mangentang Ditolak, Willem Frans: Keputusan Hakim Satu Fakta Pemohon Tidak Memiliki Dasar Hukum Kuat

Jakarta, JAPOS.CO – Pengadilan Negeri Jakarta Pusat gelar sidang putusan praperadilan atas pemohon Mathius Mangentang melawan termohon Kepolisian Republik Indonesia cq Kapolri cq Kapolda Metro Jaya cq Kapolres Jakarta Pusat, Senin (26/11)

Praperadilan tersebut atas terbitnya Surat Pemberhentian Penyidikan (SP3) terhadap terperiksa Willem Frans Ansyanay, dengan nomor perkara 16/Pif.Pra/2019/PN Jkt.Pst.

Amar putusan yang dibacakan Majelis Hakim tunggal, Sukeremi, SH MH dalam pertimbangannya menegaskan bahwa Kepolisian mempunyai kewenangan untuk melakukan gelar perkara tanpa sepengetahuan Pemohon.

“Pihak Kepolisian juga mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) jika tidak didukung bukti yang kuat, ” jelasnya.

Majelis menegaskan dalam putusannya menolak seluruhnya permohonan pemohon.

Menanggapi putusan majelis, Antoni Wibisono selaku kuasa hukum Mathius Mangentang menjelaskan bahwa majelia tidak mempertimbangkan apa yang menjadi dasar untuk memutus kenapa menghentikan penyidikan itu.

“Jadi kalau kami baca d ari data putusan pengadilan materinya tidak ada hubungan dengan laporan polisi, “terangnya usai persidangan kepada wartawan.

Namun langkah selanjutnya, menurut Antoni akan konsultasi terlebih dahulu dengan kliennya.

Sementara William Frans Ansyanay menanggapi putusan majelis mengatakan pertama dirinya mengucap syukur kepada Tuhan karena semua persoalan hukum dan apa saja dalam hidup ini dipandu oleh Tuhan.

“Kedua bahwa putusan hukum ini sebagai upaya-upaya hukum untuk membuat saya menjadi terperiksa dan target untuk di tahan namun akhirnya dijawab oleh hakim dengan membatalkan praperadilanya, ” jelas Frans kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakpus.

Ketiga, lanjut Frans menyadari betul bahwa perbuatan yang dirinya lakukan dalam menolong orang banyak tanpa meminta balas jasa dan tanpa mengharapkan balas jasa, semua perbuatan itu di jawab Tuhan dengan cara seperti ini.

“Keempat semua tuduhan-tuduhan yang dilakukan kepada saya oleh pihak termohon dalam berbagai media- media yang sudah disampaikan pada tahun 2014 sampai diajukannya permohonan saya menjadi terperiksa oleh yang bersangkutan ini membuktikan yang bersangkutan mengalihkan opini, ” terangnya.

“Apa aesungguhnya yang terjadi di Gereja Kristen Setia Indonesia dan STT Setia yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang kemudian mencoba menghalangi niat baik saya untuk membela institusi gereja, sekolah dan korban-korban yang menjadi korban atas perbuatan-perbuatan mereka, ” lanjutnya.

Menurut Frans, melihat sidang praperadilan ini, surat SP3 yang diberikan kepada dirinya,sehingga pemohon merasa keberatan dan mengajukan praperadilan, Puji Tuhan semua berjalan dengan baik.

“Praperadilan kepada Kepolisian dan dijawab oleh hakim menyatakan ditolak, ” ungkapnya.

Kemudian, masih kata Frans selama berjuang untuk satu kebenaran tanpa ada motifasi, perkaya diri atau jabatan apapun maka Tuhan akan membela.

“Hakim adalah alat Tuhan dimuka bumi. Keputusan hakim merupakan satu fakta bahwa apa yg disampaikan pemohon tidak memiliki dasar hukum yang kuat, ” tegas Frans

Penutup, Frans menyampaikan rasa terima kasih kepada warga gereja kristen setia Indonesia, korban dan juga keluarga yang mendukung dalam doa agar terbebas dari hukuman ini.

“Terima kasih juga kepada Institusi Kepolisian yang berani mengungkap satu fakta, selama ini orang berasumsi polisi bisa dibeli dan dibayar dalam merusak hukum orang lain ternyata tidak demikian dan polisi membuka kebenaran dan saya merasakan sendiri dengan dinyatakan bahwa tidak cukup bukti dalam sidang praperadilan dan SP3 ” tutupnya.(Red)

 305 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *