Bisnis Kendaraan, Nucky Triwardhani Diduga Menipu dan Mengaku Isteri Siri Mantan Petinggi Polri

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang kasus dugaan penipuan dengan terdakwa Nucky Triwardhani kembali di gelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (21/11) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Yoklina Sitepu menghadirkan saksi korban kehadapan Majelis Hakim, Wahyu Setyoningsih.

Kronologi terkait transaksi penjualan sepeda motor dan mobil dengan harga murah, Dr Topik Y Chandra dalam keterangannya mengatakan korban yang melakukan pemesanan sejumlah kendaraan tersebut diantaranya yaitu Nora, Doni dan Elsa.

“Kalau saya tidak ada yang dirugikan, (yang dirugikan) itu Ibu Nora, Pak Doni, Ibu Elsa terus kemudian yang dibawa-bawa mereka dalam bentuk transaksi motor dan mobil murah,” ujar saksi, Kamis (21/11).

Bahkan, kata Dr Topik, bahwa terdakwa Nucky mengaku kendaraan yang hendak dijual kepada korban merupakan jatah suaminya.

Menurut saksi, Nucky Triwardhani mengklaim bahwa dirinya istri sirih dari mantan Wakil Kapolri.

“Dia (Nucky) mengaku sebagai istri siri mantan Wakapolri Pak Safruddin sekarang mantan Men-PAN RB,” tandasnya.

Prihal pengakuan terdakwa sebagai istri siri mantan petinggi Polri, Topik menegaskan setelah dikonfirmasi ucapan tersebut tidaklah benar.

“Telah dikonfirmasi ke Kementerian PAN RB dia mengatakan bahwa itu tidak benar,” ungkapnya.

Sementara, Kuasa Hukum Nucky Triwardhani mengatakan perkara yang berlangsung di PN Jaktim berawal dari kerjasama bisnis mobil antara kliennya dengan Nora yang kini menjadi saksi.

“Yang melibatkan korban lainnya seperti Doni, Elsa dan Elfiah dilakukan melalui Mora dalam proses penawaran sejumlah kendaraan, ” jelas Sri Hendarianto yang didampingi Efriandi.

“Sebenarnya yang saya tekankan disini adalah terjadinya kerjasama bisnis mengenai penjualan mobil antara terdakwa dengan ibu Mora juga. Yang tadi disidang sudah terungkap bahwa korban-korban lain selain ibu Mora itu di prospek. Kalau bahasa dagangnya yang prospek atau yang menawarkan barang itu Ibu Mora bukan dari terdakwa tetapi dari ibu Mora,” lanjutnya.

Dalam proses hukum dipengadilan itu, menurut Sri Hendarianto yang menjadi korban hanya Nora. Oleh sebab itu, permasalahan muncul ketika korban Mora diprospek oleh kliennya terkait penawaran produk otomotif.

“Dalam perkara ini yang menjadi korban itu Ibu Nora korban lain sebagian adalah korban dari ibu Mora ini pandangan saya secara subjektif dari penasehat hukum ya seperti itu,” tutur dia.

Sri Hendarianto berharap dengan melalui peradilan ini semua terungkap faktanya secara material.

“Jangan sampai Hakim dan Jaksa ingin mendapatkan apa yang dia inginkan berhatap secara subjektif artinya kebenaran yang objektif artinya karena segala tuduhan TPPU nya itu, “urainya.

Lebih lanjut, transaksi kendaraan tersebut berawal dari Jefri salah seorang anggota Polri yang memperkenalkan kedua belah pihak. Karena saling mengenal  transaksi bisnis mobil itu berlanjut hingga orang yang dekat dengan saksi Nora memesan kendaraan tersebut.

Adapun merk jenis kendaraan yang telah dipesan antara lain, Toyota Fortuner, Rust bahkan sepeda motor Yamaha matik. Jumlah kerugian dalam transaksi bisnis kendaraan mencapai nominal Rp. 989.292.500,-.

“Yang jelas antara Nucky sebelumnya tidak kenal namun setelah dikenalkan oleh Jefri baru (kenal), katanya (tugas) di Polres Jakarta Selatan dan pernah di Polda, ” tutupnya.

Namun demikian, perbuatan terdakwa sebagaimana tersebut diatas, diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP atau kedua diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP.  Dan ketiga perbuatan terdakwa sebagaimana tersebut diatas, diatur dan diancam pidana dalam pasal 3 UU RI  No.8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).(Red)

110 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *