Diduga Ijasah Aspal, Berkas Balon Kades Simpang Tiga – Patia Ditolak

Pandeglang, JAPOS.CO – Niat menjadi bakal calon (Balon) kepala desa rupanya akan menjadi mimpi, pasalnya saat mendaftar ijazahnya dinyatakan belum lengkap atau bisa dikatakan ditolak oleh Panitia pemilihan Kepala Desa Simpangtiga kecamatan Patia, lantaran ijazah diduga asli tapi palsu alias aspal.

Madsarip warga Desa Simpang tiga Kecamatan Patia mengetahui ijazahnya palsu saat dirinya mendaftar sebagai bakal calon Kepala Desa di Desa Simpang tiga. Kejadian itu bermula ketika Olot sapaan Madsarip sehari – hari, menyerahkan berkas – berkas persyaratan kepada panitia, namun pada saat itu panitia menyatakan ada kekurangan yaitu untuk visi misi dan foto kopi ijazah yang di legalisir dengan menggunakan stempel basah dari dinas terkait.

Sejak dinyatakan kurang persyaratan itu kemudian di hari berikutnya, Olot bergegas memenuhi persyaratan tersebut dengan mendatangi dinas terkait untuk melakukan legalisi. Namun naas, setiba di Dinas Pendidikan yang dituju yaitu di Daerah Jakarta salah satu pejabat yang bernama Ginting mengatakan bahwa ijazah yang dia bawa itu tidak bisa dilegalisir lantaran palsu. Sontak Olot pun merasa kesal dan tertipu oleh si pembuat ijazah yang tak lain merupakan salah satu balon di desa yang sama.

Saat ditanya soal persyaratan ijazah belum lama ini, Madsarip membeberkan hal awal dirinya mendapatkan ijazah aspal yang diakuinya diperoleh dari guru Jaya.

“Belum beres, soalnya masalah ijazah yang dibikin sama guru Jaya, jadi gak keburu kesana kemari. SKCK, sampe kejaksaan, KUA di situ udah beres, tinggal visi misi dan ijazah kata panitia kurang abash. Tahunya ijazah kurang abash, saya memberikan ijazah yang dulu ini kan harus dilegalisir basah lagi. Pas di legalisir ke Dinas Pendidikan Pandeglang, yang satu mah di legalisir yang ijazah SD, yang ini mah enggak, katanya palsu,” bebernya.

“Penasaran saya sampe nyusul ke Jakarta ke Dinas Pendidikan ke lantai 13, pengen tau. Kata Pak Ginting orang dinas, ijazah ini palsu padahal ijazah ini pernah di pake saya waktu dulu nyalon kepala desa. Sekitar tahun 93, saya naik (nyalon) kades, kata guru Jaya waduh gimana ka ijazahnya hilang, terus gimana kata saya, ja ingin naik (nyalon) lagi, terus kata guru Jaya mesti nebus lagi ka kata guru Jaya bikin duplikat. Waktu itu saya di pinta Rp 2 juta, keluarlah ijazah ini (aspal), kemudian saya duduk sebagai calon kades pake ijazah ini,” terang Madsarip kepada Japos.co, Kamis (14/11).

Sementara itu guru Jaya yang disebut sebagai pembuat ijazah oleh Madsarip tidak mengakui dirinya sebagai pembuat ijasah. “Saya tidak bisa membuat ijazah, yang buat lembaga, saya hanya panitia yang mengantar dia menjadi calon dan terpilih menjadi kades 2003/2009, itupun atas dasar dari legalitas dari lembaga. Kalau mau komplen ya ke lembaga. Itu (ijazah) sudah digunakan 2 kali  lolos, nah sekarang digunakan lagi tidak diterima saya ga tau karena saya bukan panitianya,“ ujarnya melalui pesan whatsapp.(Yan/Na2)

 1,966 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *