Minum TTD Tujuh Siswi MTSN 2 Pandeglang Mengalami Gejala Keracunan

Pandeglang, JAPOS.CO – Program minum Tablet Tambah Darah ( TTD ) untuk remaja putri dari Kementrian Kesehatan diharapkan mampu menanggulangi anemia dikalangan remaja putri, khususnya bagi  yang masih sekolah.

Pemberian TTD diberikan langsung kepada siswi melalui UPTD Kesehatan Kecamatan bersama pihak sekolah – sekolah sasaran program TTD. Namun berbeda dengan yang terjadi di MTSN 2 Pandeglang di Desa Labuan Kecamatan Labuan, sewaktu program dilaksanakan pada Selasa (12/11), setelah minum pil TTD secara serempak karena ada perintah dari pihak sekolah dan petugas UPTD Kesehatan Kecamatan Labuan, 7 siswi MTS yang duduk di kelas 1 mengalami mual, pusing, perut sakit, muntah – muntah dan di sertai panas seperti gejala keracunan, sehingga ketujuh siswi tersebut dilarikan ke Puskesmas Labuan guna mendapatkan penanganan medis.

Kejadian yang menimpa tujuh siswi MTSN 2 Pandeglang mirip keracunan tersebut terungkap saat japos.co mendatangi 1 korban di kediamannya, Rabu (13/11).

Saat di konfirmasi, siswi yang masih dalam keadaan kondisi tubuh yang lemas dan masih terlihat pucat tersebut mengatakan bahwa dirinya dan teman-temannya di sekolah diberi obat penambah darah yang warnanya merah oleh bidan.

“Setelah minum gak lama merasa mual, pusing, perut sakit terus muntah. Enggak cuma saya, temen – temen yang lain juga sama, ada lima orangan pak, terus saya dan temen – temen di bawa ke Rumah Sakit sama Pak Asep (Guru MTSN 2 Pandeglang ),” ungkapnya.

Berbekal keterangan dari korban, di hari yang sama pihak sekolah pun berhasil dikonfirmasi, namun Kepala MTS tidak ada. Keterangan dan jawaban yang di dapat dari MTSN 2 Pandeglang diperoleh dari Asep Saepudin STHi yang merupakan guru pembina UKS.

Dirinya berdalih bahwa yang pertama dia memang sering sakit. “Sering kesurupan juga, yang kemaren ngedrop, yang enam orang,” kata Asep di ruangan kantor, seakan melakukan pembelaan dan menyalahkan siswi yang menjadi korban.

“Tujuh yang sakit, nama programnya minum TTD untuk remaja putri semua sekolah SMP, MTS, SMA, SMK se-Indonesia. Buat remaja putri, kan remaja putri kekurangan hemaglobin, susah ngejelasinnya, kan kekurangan hemaglobin itu bisa menyebabkan ketika belajar mereka ngantuk, lemah, letih, lesu gitu, makanya program dari pemerintah itu bisa juga mengurangi stunting,” pungkasnya.

“Sebelum minum TTD bersama ini, saya sudah menanyakan, menghimbau dan melarang bagi siswi yang belum sarapan, belum makan, badannya kurang sehat jangan di minum TTD ini. Kemudian kami minum bersama awalnya gak apa – apa, setengah jam kemudian ada yang reaksi, waktu itu kata orang kesehatan faktornya karena kondisi tubuhnya kurang fit. Kebetulan saya kan disini pembina juga kan UKS, jadi yang kemaren ngedrop itu yang sering sakit yang saya tangani. Cuman karena mungkin kan beda orang beda lagi imunnya, beda kekutan tubuhnya. Jadi yang pertama dia emang sering sakit juga, sering kesurupan juga yang kemaren ngedrop, yang enam orang,” ujarnya.

Di tempat berbeda, Bidan Embay selaku petugas Puskesmas Labuan yang menyalurkan dan membagikan TTD ketika ditanya soal kejadian yang menimpa siswi MTS, dirinya seperti bingung dan aneh. Dia bersama dua rekan sejawatnya datang ke MTSN 2 Pandeglang yang sebelumnya mengaku sudah ada konfirmasi terlebih dahulu dengan pihak sekolah.

“Karena apa ya, soalnya kita juga pemberangkatan TTD ini udah di mulai sejak tahun kemaren, sekolah yang lain sih lancar – lancar aja, tahun kemaren juga di MTS kejadian seperti ini lagi. Udah berapa tahun istirahat, udah lah kita hubungi lagi pihak sekolah, mau dilanjutkan pemberian TTD lagi gak?, konfirmasi ya Kepala Sekolah, kepala TU, ke guru UKS dengan Pak Asep,” ungkapnya.

“Dampak dari minum TTD itu hanya efek sementara kita merasa mual, pusing, lemes, kadang muntah, tapi sebagian gak semua. Mungkin dengan kondisi lagi gak fit kali ya, terus emang itu juga efek sementara, tapi itu gak mengakibatkan apa – apa hanya sementara. Saya juga bingung kemaren tuh petugas dulu minum nyontohin, terus kita bareng  – bareng siswinya minum bareng. Jadi artinya kita sarapan sehat bersama, minum TTD bersama, tapi baru MTS lagi yang kejadian,” imbuhnya.

Namun sangat disayangkan, sebelum program minum TTD bersama dilaksanakan, petugas kesehatan dari puskesmas tidak melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dulu.(Na2)

 1,278 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *