Kakak jadi Saksi dalam Kasus Wanprestasi, Majelis Ingatkan Jangan Berasumsi

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang lanjutan gugatan wanprestasi antara Direktur PT Putera Mahakarha, Anyon Mabianto selaku penggugat melawan PT Abadi Kokoh Insani selaku Tergugat di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (4/11) dengan agenda keterangan saksi.

Saksi yang dihadirkan pihak tergugat ke hadapan Majelis Hakim, Dwi Dayanto yakni Kakak Kandung dari penggugat, Bambang Supriyadi.

Dihadapan Majelis Hakim, Bambang Supriadi mengatakan bahwa sebelumnya nama penggugat bukan Anton Mabianto tapi Nono Wagiono.

Menurut Bambang, perubahan nama tersebut tidak diketahui. “Keluarga Juga Tidak Tau,” jelasnya dalam persidangan.

Sementara Ketua Majelis Hakim, Dwi Dayanto juga mempertanyakan alasan penggantian nama tersebut.

“Tidak tau, keluarga juga tidak tau,” jawab Bambang.

Bambang mengaku bekerja di PT Putera Mahakarya sejak tahun 2006 hingga 2010 ini menjelaskan permasalahan kedua belah pihak hingga berada di pengadilan adalah mengenai wanprestasi terkait pendistribusian barang pelumas merek Pikoli.

“Barang itu (pelumas) milik PT Abadi Kokoh Insani, didistribusikan kepada PT Putera Mahakarya untuk dijual sejak 2006,” jelas Bambang.

Lanjutnya, berawal kerjasama pada tahun 2006, sedangkan kerjasama kedua belah pihak masih bersifat Konsinasi.

“Awal 2006 HET 40 ribu untuk ukuran 0.8 Liter, dijual 39.500 ribu,” jelas Bambang yang juga mengatakan ada keuntungan 25% untuk PT Putera Mahakarya dari penjualan.

“Apakah ada perjanjian tertulis?” tanya Majelis.Bambang menjawab, ada kerjasama.

Hakim menegaskan apakah pernah melihat, Bambang mengatakan hanya mendengar.

Mulai merintis bisnis yang sama, menurut Bambang setelah Adiknya berhenti bekerjasama dengan PT Abadi Kokoh Insani ini menyampaikan bahwa kewenangan penggugat itu di Wilayah Bandung.

“Sebetulnya di Wilayah Kota Bandung,” jawab saksi untuk pertanyaan, “Apakah PT. Putera Mahakarya diberi kewenangan?.”

“Di Bandung selain PT Putera Mahakarya, apakah ada yang menjual pikoli lagi?,” tanya Hakim.

“Setau saya tahun 2012 itu ada,” jawabnya.

“Ngga tau penyebab PT Putera Mahakarya ini berhenti?,” tanya Hakim lagi.

“Kalau saya dengar invoice tidak dibayar oleh PT Putera Mahakarya,” jelas Bambang.

Kepada Ketua Majelis Hakim, Bambang mengatakan kalau PT Putera Mahakarya tidak mungkin rugi.

“Karena kalau merasa rugi ngga mungkin bisa beli rumah,” katanya.

Lebih lanjut, Hakim Anggota, Antonius Simbolon bertanya, “Apakah saudara tau perjanjian kedua belah pihak.”

“Kalau perjanjian tertulis itu tidak,” jawab saksi.

Antonius mengingatkan saksi untuk tidak berasumsi.

“Inti dari wanpretasi itu kan ada item-item dari perjanjian yang tidak dipenuhi, kiranya saksi tidak berasumsi,” himbaunya.

“Tolong saudara saksi itu memampukan dirinya menceritakan apa fakta yang seadanya,” tambah Antonius.

“Seperti apa yang saudara baca perjanjian mereka bisa ngga saudara jelaskan?,” tanya Antonius lagi.

“Saya tidak paham,” jawab saksi.

Bambang mengatakan bahwa Fakta dari inti gugatan penggugat tidak jelas. “Faktanya ngga jelas,” ucapnya.

Sementara Antonius menegaskan bahwa pernyatatidak ada hubungannya terkait pernyataan saksi yang mengatakan bahwa PT Putera Mahakarya tidak mungkin rugi, ‘Kalau tidak untung bagaimana bisa beli rumah bagaimana bisa beli mobil’.

“Wanpretasi itu tidak melakukan apa yang telah diperjanjikan atau melakukan tapi tidak sesuai, atau melakukan tetapi dipaksakan sehingga tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan, seperti itulah wanprestasi bukan mungkin,” tegasnya.

Dikesempatan yang sama kuasa hukum penggugat mempertanyakan apakah pada tahun 2013 PT Putera Mahakarya mengalami kerugia? Bambang mengatakan bahwa penggugat hanya mengalami penurunan keuntungan.

“Kalau kerugian ngga, paling keuntungan turun, masih ada keuntungan,” kata Bambang.

Selain Bambang, tergugat juga menghadirka saksi lain seorang Karyawan PT Abadi Kokoh Insani, namun tidak dapat diterima karena ada keberatan dari penggugat.

“Ada keberatan maka majelis layak untuk mempertimbangkan, karena menerima gaji dari tergugat,” jelas Ketua Majelis Hakim, Dwi Dayanto.(Red)

 731 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *