Jumlah Tenaga Magang Asal Provinsi Jambi yang Dikirim ke Jepang Diprediksi Meningkat

Jambi, JAPOS.CO – Jumlah tenaga magang asal Provinsi Jambi yang akan dikirim ke Jepang tahun 2019 diprediksi mencapai ratusan orang. Jumlah ini meningkat 2 kali lipat jika dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini dilihat dari tahapan seleksi peserta magang yang hingga fase wawancara berjumlah 103 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. 

Kabid Pembinaan Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja dan Produktivitas Disnakertrans Provinsi Jambi Cikmas Hadi Salasa kepada Awak Media menyebutkan, peserta calon magang yang nantinya dinyatakan lulus akan mengikuti tahapan selanjutnya berupa medical check up hingga nantinya mengikuti pelatihan di Jambi dan di Lembang (Jawa Barat). 

“Ada dua tahapan di tahun ini. Tahap pertama di Sarolangun pada Februari lalu dan tahap kedua Oktober 2019 dengan peserta sebanyak 349 orang, dimana 1 orang mengundurkan diri maka sebanyak 348 peserta terdiri 317 laki-laki dan 31 perempuan. Yang lulus hingga tahap wawancara sebanyak 103 laki-laki dan 12 perempuan, “sebut Cikmas Hadi kepada awak media, Rabu (30/10/2019). 

Ditambahkan Cikmas Hadi, tahapan seleksi tahap pertama yang dilakukan Provinsi Jambi tahun ini di Sarolangun, setidaknya yang lulus 50 laki-laki dan 6 perempuan dari 156 peserta. “Mereka dalam waktu dekat akan diberangkatkan ke Lembang,“ pungkasnya. 

Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi keterampilan bagi pencari kerja asal Provinsi Jambi yang pada akhirnya memperkuat daya dorong percepatan pembangunan daerah ini, diharapkan dapat dimanfaatkan generasi muda.  

“Tidak ada batasan untuk kuota tenaga magang yang dikirim ke Jepang selagi memenuhi Kriteria dan lulus seleksi bisa magang ke Jepang,”tuturnya.  

Ditanya apakah ada dari tenaga magang asal Jambi yang kembali sebelum waktunya yakni 3 tahun, Cikmas menjelaskan, sejauh ini belum ada. Dirinya berharap tidak ada yang melakukan hal itu, karena jika itu terjadi maka bisa jadi kerjasama untuk magang di Jepang asal Jambi akan di stop sementara waktu seperti tahun 2008 hingga 2012 lalu.  

“Jadi yang magang ke Jepang memang dari kemauan sendiri, tidak ikut-ikutan kawan karena ini akan merugikan calon magang selanjutnya,“ tutupnya. (Rizal) 

 323 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *