Sidang Perdana Harry Kuncoro di PN Jaktim Yang Hendak Bergabung Dengan ISIS

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang perdana kasus terorisme dengan terdakwa Harry Kuncoro alias Uceng alias Wahyu Nugroho digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (18/9) dengan agenda pembacaan dakwaan.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Harry dituduhan melakukan pemufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme dengan sengaja menggunakan kekerasan/ancaman kekerasan, dengan maksud menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur, dan diancam pidana dalam pasal 15 jo pasal 7 serta pasal 13 huruf C Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sebagaimana yang telah ditetapkan menjadi UU berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2013.

Disebutkan dalam dakwaan Harry mendapatkan pesan telegram dari Muhammad Saifudin alias Abu Walid pada tahun 2015 silam, yang merupakan temannya sewaktu di Jemaah Islamiyah. Setelah bebas pada tahun 2016, ia melakukan uji coba pembuatan paspor namun gagal karena namanya telah teridentifikasi sebagai teroris.

Setahun kemudian, ia kembali dihubungi oleh Muhammad Shibghotullah alias Miqad yang saat itu merupakan ikhwan JAD Yogyakarta yang sedang menjalani hukuman.

Dari situlah, Harry mulai berhubungan dengan para ikhwan JAD Yogyakarta. Setelah Shibghotullah bebas di tahun 2017, Harry selaku terdakwa menyarankan agar ia memberikan kajian untuk menguatkan manhaj daulah dan memotivasi para ikhwan JAD Yogyakarta untuk berhijrah dan berjihad.

Terdakwa berjanji akan mencari cara untuk tetap berhijrah serta berjihad ke Suriah ataupun ke Filiphina dan mencari cara pembuatan paspor yang sempat gagal karena terdeteksi teroris.

Harry pada bulan Agustus 2018, ia membuat KTP palsu atas nama Wahyu Kuncoro di Solo dengan bantuan Abdul Rohim alias Rohim dengan biaya Rp 600 ribu namun tidak berhasil.

Sebulan kemudian ia juga membuat paspor palsu dengan biaya Rp 15 juta. Biaya tersebut ditanggung oleh Rahmat Hisbullah alias Billy sebesar Rp 10 juta dan sisanya dibayar oleh uang terdakwa sendiri.

Namun pada saat hendak berangkat menujut Muncat Teheran Iran, untuk melanjutkan perjalanan ke Suriah untuk bergabung besama kelompok radikal ISIS pada 3 Januari 2019 terdakwa berhasil diamankan oleh Imigrasi Bandara Soekarno Hatta.

Sementara Kuasa hukum terdakwa, Miftahul Arif menanggapi atas surat dakwaan JPU mengatakan  lemah bukti karena terdakwa dihubungkan dengan JAD Yogyakarta.

“Terdakwa diduga mengetahui rencana aksi teror kelompok JAD Yogyakarta yang sudah disidangkan di PN Jakarta Barat. Tapi di pengadilan tak terbukti ada aksi itu, hanya ba’iat. Makanya tadi tidak mengajukan keberatan dan dilanjut ke pembuktian. Karena kita tau jaksanya lemah bukti,” tutupnya usai sidang.

Sebagai informasi sebelumnya dalam rilis Mabes Polri sebelumnya menyebut rencana perjalanan Harry sudah diatur warga negara Indonesia yang berada di Suriah, yang bernama Abu Walid.

“Setelah dikeluarkan (dari Lapas Pasir Putih Nusa Kambangan), Harry adalah aktor penting di Indonesia saat ini. Karena tersangka punya hubungan langsung ke (kelompok teroris) luar. Contact person di Suriah adalah Abu Walid,” terang Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2) lalu.

Menurut Dedi, Abu Walid adalah algojo dalam kelompok ISIS. Abu Walid, lanjut Dedi, dikabarkan tewas dalam baku tembak pada 29 Januari 2019 kemarin.

“Di organisasi ISIS di Suriah, dia sangat aktif sebagai algojo di Suriah. Namun Abdul Walid sudah tewas 29 Januari 2019,” ucap Dedi.

Terungkap percakapan Abu Walid meminta Harry untuk ikut bergabung ke Suriah. Abu Walid lalu memfasilitasi dengan mengirimkan uang Rp 30 juta kepada Harry sebagai ongkos perjalanan.

“Komunikasi Abu Walid memberikan saran kepada Herry untuk segera bergabung ke Suriah dengan mentransferkan uang Rp 30 juta untuk mengurus dokumen keberangkatan termasuk tiket,” terang Dedi.

“Herry selain intens dengan Abu Walid, juga berkomunikasi intens dengan kelompok di Suriah. Dia punya komunikasi cukup baik,” sambung Dedi.(**)

 

 

 

 

 675 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *