Penandatanganan Kerjasama Pengentasan Rakyat Miskin Melalui Pendidikan

Jakarta, JAPOS.CO – Ketua Dewan Pembina UTA 45, Rudyono Darsono SH MH bersama Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Ir Muhammad Anis M Met, mengaku senang bisa bekerjasama dengan UI, terutama dalam hal pengentasan rakyat miskin melalui pendidikan dan merealisasikan cinta untuk anak bangsa di tengah-tengah bising politik seperti saat ini, Selasa (17/9).

“Saya salut dan bangga melihat Pak Rektor (UI) yang mau bekerjasama dengan kami perguruan tinggi swasta yang tengah berjuang mengembalikan kejayaannya sebagai kampus nasionalis,” kata Rudyono Darsono yang didampingi Rektor UTA 1945, Dr Virgo Simamora MBA dan civitas akademika.

Dia mengungkapkan, tahun 2007 UTA 1945 sempat tidak memiliki izin apapun. Namun demikian, Rudyono Darsono dengan beberapa dosen serta civitas akademika terus berupaya bangkit dan mendapatkan perizinan.

“Melihat itu pihak Kopertis sempat menuding mereka sebagai gila karena mengoperasionalkan perguruan tinggi (swasta) tanpa izin, “terangnya.

Saat itu mahasiswa UTA 1945 tercatat hanya 300-an. Jika termasuk yang memiliki ijazah UTA 1945 tetapi tidak terdaftar di kampus UTA 1945 diperkirakan mencapai 3.000.

“Seringkali kami dipaksa bahkan sampai merasa sangat dirugikan saat yang bersangkutan melegalisir ijazah-ijazahnya itu,” cerita Rudyono.

Tidak lama kemudian, lanjut Ruyono perizinan UTA 1945 tiada lagi. Berkat perjuangan mereka pada 2012 terbit lagi perizinan UTA 1945 secara lengkap. Bahkan disusul dengan akreditasi C. Mereka selain memperbaiki kampus juga berupaya keras meningkatkan kesejahteraan karyawan.

“Kami tidak ingin mengutarakan lagi kepada karyawan ketidakmampuan membayar gaji mereka,” ujarnya.

Rudyono Darsono menilai terseok-seoknya perjalanan UTA 1945 erat kaitannya dengan kondisi politik saat itu. Pengelola mencapuradukkan politik dengan pendidikan. Akibatnya, pendidikan menjadi sulit berkembang apalagi maju.

Saat ini Rudyono Darsono dengan kawan-kawan sudah lebih vokus ke pendidikan. Di kampus yang terletak di belahan Jakarta Utara itu terus menerus dipupuk nasionalisme dan rasa cinta selaku anak bangsa (Indonesia). Taraf pendidikan dosen-dosen terus ditingkatkan sehingga belajar mengajar semakin bermutu di kampus yang terletak di Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu, sehingga akreditasinya pun naik menjadi B.

“Bangsa ini butuh peningkatan kesempatan mengenyam pendidikan, butuh bea siswa agar tingkat pendidikan semakin merata dan yang miskin menjadi kaya. Kepedulian kita terhadap pendidikan akan memperbaiki dan meningkatkan SDM, memperbaiki kesejahteraan, menjauhkan gizi buruk yang pada akhirnya menjadikan Indonesia sehat,” tutur Rudyono.

Dia berharap tidak hanya mahasiswa UI dan UTA 1945 yang sehat, berpendidikan dan bekerja dengan gaji lumayan. Tetapi juga anak-anak bangsa lainnya.

Rudyono mengungkapkan satu desa di Bogor tidak terdapat SDN, melainkan hanya Madrasyah. Dalam kondisi seperti itu dia tidak yakin kalau anak-anak di sana dapat menikmati pendidikan yang baik sebagaimana di Ibukota Jakarta.

“Padahal, dekat lho dari Jakarta desa yang tidak memiliki SDN itu. Boleh jadi, tidak hanya di Bogor saja kenyataan-kenyataan menyedihkan seperti itu terjadi. Tetapi kemungkinan besar terjadi atau terdapat di sejumlah desa-desa lainnya di berbagai pelosok di Tanah Air,” ungkapnya.

Dengan kesepahaman bersama tersebut (UI-UTA 1945), Rudyono Darsono berharap cinta anak bangsanya (Indonesia) dapat diwujudkan dan direalisasikan lebih luas dan lebih menyentuh lagi bagi anak bangsa yang sangat membutuhkan.

Kesepahaman bersama UI-UTA 1945 mencakup berbagai bidang. Jika berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan maka yang melaksanakannya jurusan atau fakultas yang terkait dengan hal tersebut. Bidang ekonomi pun demikian, pelaksanaan dan pengwujudannya digarap fakultas masing-masing di dua universitas bersangkutan.

“Kami berharap gap yang ada tidak semakin melebar, yang miskin jangan semakin miskin dan banyak. Boleh saja yang kaya semakin kaya tetapi jumlahnya semakin bertambah berasal dari si miskin yang sudah berubah harkat dan martabatnya,” kata Rudyono Darsono.(Herman.Y)

 

 

 

 340 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *