Direktur PT Taruma Indah Menjadi Terdakwa, Kuasa Hukum: Berharap Eksepsi di Terima Majelis

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang dengan terdakwa Rawi Sangker kasus dugaan pemalsuan surat kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (16/9) dengan agenda tanggapan Jaksa atas Eksepsi.

Dalam persidangan sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Wahyu Praktekta dalam dakwaanya menyatakan bahwa terdakwa Rawi Sangker selaku penanggungjawab PT Trauma Indah berdasarkan akta pernyataan keputusan sekuler para pemegang saham PT Taruma Indah No.50 tanggal 29 Juli 2016 dihadapan Notaris Sigit Siswanto, SH pada Jumat 8 April 2016 atau setidak-tidaknya pada suatu tempat tertentu yang berada diwilayah Jakarta Timur.

Prihal menyuruh memasukan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akata itu seolah-olah keterangan sesuai dengan kebenarannya dengan serangkaian perbuatan sebagaimana perbuatan terdakwa tersebut diancam pidana sebagaiman yang diatur dalam Pasal 266 ayat ( 1) KUHP.

Atau memakai akta surat perjanjian sewa/kontrak No.08/SP/TI-REHD/IV/2016 tentang sewa/kontrak lahan/Tanah PT Tarumah Indah Kawasan Industri Pulogadung Jakarta Timur, seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran, jika karena pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian dengan serangkaian perbuatan sebagaimana diancam pidana yang diatur dalam Pasal 266 ayat (2). Subsider Pasal 263 ayat (1) KUHP.

Menurut Subani selaku Kuasa Hukum Rawi Sangker kenapa mengajukan eksepsi, karena adanya error personal yang sebelumnya di Berita Acara Perkara (BAP) Jaya Rahman sebagai tersangka.

“Sebelumnya Jaya Rahman sebagai tersangka, Pak Rawi ini sama sekali tidak tahu apa-apa, namun karena Pak Jaya Rahman meninggal itu yang menjadi permasalahan, “ujar Subani usai sidang kepada wartawan.

“Makanya kami mengajukan eksepsi, kok mewarisi jadi Pak Rawi tidak mengerti masalahnya. Dulu yang dibikin berita acara itu Pak Jaya Rahman sebagai Direkturnya PT Taruma Indah namun meninggal kemudian Pak Rawi menggantikan Direktur dan sekarang Pak Rawi duduk dikursi terdakwa,” ungkapnya.

Menanggapi terkait gugatan perdata dari ahli waris, menurut Subani bukanlah wewenangnya.

“Oh iya ini gak ada kaitannya dengan itu, ini khusus kasus pidana, kalau perdatanya bukan kami yang menangani meskipun sudah ada keputusannya, meakipun ada kaitannya tapi terpisah,” ujarnya.

Minggu depan, kata Subani masih agenda putusan sela.

Subani berharap agar eksepsinya dapat diterima oleh Majelis Hakim. “Walau tidak diterima (eksepsi) akan dilanjutkan dengan saksi-saksi,” tutupnya.(red)

226 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!