Angkutan Tambang Di KKU Mengganggu Nelayan dan Merusak Ekosistem Lingkungan

Kayong Utara, JAPOS.CO – Pemandangan ponton dan kapal tongboat mengangkut hasil tambang milik salah satu perusahaan yang berlabuh dimuara sungai dapat dilihat dengan jelas, cukup berdiri di jembatan besi penghubung Desa Teluk Melano dan Desa Rantau Panjang, hal itu sudah dapat disaksikan.

Kegiatan sandar dan berlabuh ponton-ponton pengangkut tambang milik perusahaan PT. Harita Group, perusahaan yang bergerak disektor pertambangan di muara sungai Desa Teluk Melano yang melintasi Daerah Aliran Sungai (DAS)  Teluk Melano Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara (KKU).

Aktivitas itu mendapat tanggapan beragam dari warga khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan serta komunitas pemancing sungai. Menurut nelayan setempat, akibat dari aktivitas ini, penghasilan mereka menurun, susahnya memasang alat tangkap (jaring,pukat) dan banyaknya pepohonan sepanjang DAS Teluk Melano yang tercabut dan hanyut terbawa arus akibat ditabrak tongkang-tongkang berkapasitas 10 hingga 20 ribu ton ini.

Salah seorang nelayan menceritakan kalau penghasilanya menurun dari hasil menangkap ikan sejak sering labuh jangkarnya tongkang-tongkang pengangkut tambang bauksit di sepanjang muara sungai melano itu.

Dia menceritakan, sebelum adanya aktivitas tersebut, dia bisa mendapat beragam jenis ikan konsumsi yang bisa dijual. “Sekarang sejak ada itu, kita mau masang pukat jak harus liat dimane posisi tongkang itu bersandar, sebab kalo dak begitu, takut pukat rusak tebelit kipas kapal tongboat atau ditabrak tongkang itu,” kata nelayan asal desa Nipah Kuning ini.

Sementara itu, Jojon warga Desa Batu Barat menceritakan hampir setiap hari ia melihat pohon nipah dan kayu-layu yang tumbuh disepanjang daerah aliran sungai hanyut terbawa arus akibat tercabut ditabrak tongkang tersebut.

“Sungai arah desa matan sudah semakin lebar sebab banyak pokok (pohon-red) nipah hanyut, make kalo kite mancing harus lebih berhati-hati dan liat-liat posisi sampan takut sedang asyik mancing, sampan kiite ditabrak nipah atau batang kayu yang hanyut,” kata pemancing asal desa Batu Barat ini.

Diceritakannya bahwa dirinya pernah sampai menetas (mutuskan-red) tali jangkar sampannya ketika sedang asyik mancing. Waktu itu dia memamancing disekitaran teluk desa Penjalaan bagian Hulu. Sedang asyik memancing, tiba-tiba dari belakangnya, pohon nipah besar sedang hanyut mendekati posisi sampanya berlabuh sehingga dengan cepat dirinya tidak mau ambil resiko karam, langsung memotong tali jangkar guna menghindari tabrakan dari nipah tersebut.

“Waktu itu arus air sedang deras, jadi kecepatan hanyut pohon nipah itu cukup laju, sawan gak saye, langsung am saye tetas tali jangkar,” katanya.

Selain soal itu, sulitnya mencari udang dan memasang tajur untuk mendapatkan ikan sejenis tapah atau toman juga dirasakanya dibandingkan sebelum ramainya aktivitas hilir mudik tongboat beserta tongkang tambang tersebut. “Kalo dolok (dulu), masih mudah masang tajor dan mancing di sekitaran Desa Batu Barat, sebentar jak udah dapat am udang an, mun sekarang mancing sampai ke simpang keramatpun belum tentu dapat,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang aktivis LSM, Juminggu dari LSM Lembaga Kayong Peduli (LKP)  mengatakan bahwa mereka merasa prihatin akan kondisi ini. Kata mereka, seyogyanya perusahaan yang berusaha ditanah bertuah ini harus memberi dampak positif bagi masyarakat dan daerah melalui pembayaran pajak atau retribusi sebagaimana peraturan yang ada.

“Kita sedih sekaligus menekankan kepada perusahaan agar memperhatikan ekosistem lingkungan dan nasib para nelayan kecil yang keseharianya mencari tangkapan di alur kuala masuk sungai melano, bahkan kami juga menemukan, kapal atau tongkang mereka sering menabrak pohon nipah atau kayu yang tumbuh di sepanjang DAS Melano sehingga kayu dan nipah tersebut tercabut dan hanyut dibawa arus, untuk itu diharapkan pada kapten kapal tongboat khususnya agar lebih berhati-hati hindari sedapat mungkin menabrak pepohonan yang tumbuh di sepanjang DAS,” terang mereka.

Dalam catatan mereka, aktivitas ini telah berlangsung lama. “Kami tidak anti pembangunan, tidak anti kegiatan perusahaan asalkan norma dan aturan tetap dipegang,” lanjut pria berambut gondrong ini.

Sementara itu, kepala kantor Kesyahbandaran Teluk Melano tidak sedang berada dikantornya ketika Jaya Pos mengkonfirmasi, namun ditemui oleh seorang staf bernama Tarmiji, ketika dimintai komentarnya, Rabu (11/9) mengatakan bahwa sampai sejauh ini, aktivitas berlabuh dan pelayaran ponton tambang yang melintasi DAS Teluk Melano sudah sesuai dengan prosedur dari segi aturan pelayaran.

“Aktivitas itu legal, sesuai sudah dengan aturan yang ada, soal adanya keluhan komunitas pemancing dan nelayan adalah sesuatu yang wajar sebagai konsekuensi dari satu kegiatan usaha yang tidak terhindarkan, namun pernah difasilitasi pertemuan antara perusahaan, Muspika Kecamatan Simpang Hilir dengan masyarakat khususnya nelayan  membahas hal itu, itu dikembalikan kepada perusahaan bagaimana menyikapinya. Tugas kami hanya sebatas aturan pelayaran saja,” kata Tarmiji.

Sementara itu, kegiatan ini bagi masyarakat berdampak baik, sebab sebagian warga bisa bekerja menjadi buruh bongkar muat dengan mendapatkan penghasilan lumayan tinggi. “Kami merasakan hal baik dibandingkan sebelum adanya aktivitas tambang ini, kami bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata seorang warga desa Teluk Melano, Elma Kurniawan.

Bahkan dia bersama rekan seprofesinya mendukung dan berharap agar dapat dilibatkan terus dalam aktivitas bongkar muat. Sebagai warga lokal, dia meminta perusahaan untuk tetap taat azas dan aturan serta mampu berbagi peran sehingga berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Mewakili Perusahaan, Wahyu selaku wakil Perusahaan yang mengurus  pelayaran perusahaan tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memberi komentar soal itu. “Silahkan hubungi bagian csr kami di kantor pusat kami di sandai bang,” katanya.(Muzahidin)   

96 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!