Rokok Kuli, Hina Di Tanah Air Mewah Di Luar Negeri

Penulis :Mikha Aprilio, Mahasiswa PS STIS

Jakarta, JAPOS.CO – Rokok sangat mudah dijumpai/dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang disertai pesan kesehatan. Menurut riset, Indonesia adalah Negara dengan perokok aktif tertinggi di ASEAN, yakni 51,1% rakyat Indonesia adalah perokok aktif.

Banyaknya masyarakat yang merokok dan bahaya merokok menyebabkan pemerintah konsen dalam memberikan kebijakan. Dalam pengendalian rokok yang dikeluarkan Departemen Kesehatan disebutkan bahwa pada tahun 2019 seluruh daerah di Indonesia wajib sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Asap Rokok.

Perda yang dibuat harus bedasarkan Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Peraturan ini secara terperinci mewajibkan produsen rokok mencantumkan bahaya merokok dalam kemasan, gambar dampak buruk merokok, kandungan tar dan nikotin, hingga pemasangan iklan rokok dan penetapan kawasan tanpa rokok.

Akan tetapi ada beberapa daerah yang berlebihan dalam membuat peraturan ,seperti kasus di Kota Depok yang mewajibkan semua mini market menutup display penjualan rokok dengan tirai, misalnya juga seperti kasus di Kota Salatiga, Jawa Tengah, ketika orang mendapatkan dana BPJS, kalau ketahuan merokok maka hak BPJS-nya akan dicabut, ditambah kebijakan yang perlu diperhatikan lagi yaitu soal kebijakan menaikkan tariff cukai yang mestinya dikaji secara mendalam oleh para stakeholder terkait.

Peraturan – peraturan tersebut mengancam industri tersebut mati. Untuk tenaga kerja, berdasarkan data Kemenperin total yang terlibat di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) sekitar 5,9juta orang, itu tidak dihitung para pekerja yang secara tidak langsung terlibat di industri ini.Selain itu, komoditas tembakau juga mempunyai potensi dalam mendatangkan devisa.

Bedasarkan data BPS tembakau adalah komoditas kedua yang mendatangkan devisa Negara. Nilai ekspor komoditas tembakau Indonesia pada tahun 2012 sebesar US$61,6juta. Pada tahun 2013 nilai ekspor tembakau meningkat menjadi US$97,1 juta atau naik 57,56% dari tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama periode 2012-2014.

Meskipun sempat turun di tahun 2014 s.d 2016, dimana Penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 28,93% dengan nilai ekspor US$59,1 juta. nilai eskpor pada tahun 2017 dan 2018 kembali menunjukkan kenaikan.Sesuatu yang menarik terjadi pada dua tahun terakhir Di tahun 2017, berat ekspor tembakau menurun menjadi 11,3ribu ton atau mengalami penurunan 11,14%, namun nilai ekspornya mengalami peningkatan sebesar 11,88% menjadi US$55,9 juta.

Di Tahun 2018, ekspor tembakau mengalami peningkatan baik dari segi berat maupun nilainya. Beratnya meningkat sekitar 4,91% menjadi 11,8 ribu ton dan nilainya meningkat 21,25% menjadi US$67,8 juta, artinya lebih tinggi dibanding tahun 2017.

Peningkatan nilai ekspor tembakau pada saat beratnya menurun mengindikasikan adanya peningkatan harga ekspor tembakau Indonesia di pasar ekspor. Hasil tembakau Indonesia sudah diakui dan sangat diminati beberapa Negara luar.

Jika dilihat dari Negara tujuannya, lima Negara tujuan terbesar ekspor Indonesia adalah Sri Lanka, Republik Dominika, Jerman, Belgia dan Filipina.

Perlu kita ketahui Indonesia sendiri merupaka nnegara yang paling besar menghasilkan tembakau, mulai  dari tembakau kualitas super yang satu lembar utuh daun tembakaunya digunakan sebagai pembungkus cerutu, dimana di dunia hanya ada satu tempat yaitu di Deli Serdang, Sumatera Utara sampai dengan bahan rokok kualitas bagusseperti yang dihasilkan di lereng Gunung Sinduro dan Pulau Madura.

Bedasarkan historis pada akhir tahun 1980,Para peneliti Negara Luar Negeri menemukan kemanfaatan daripada tanaman tembakau dan rokok kretek, dimana tanaman tembakau dan rokok kretek sangat bermanfaat bagi toksi di tubuh. Hal tersebut akan memicu konsumsi rokok pada masyarakat Negara Luar Negeri yang lebih alami yaitu rokok kretek.

Rokok kretek merupakan rokok khas Indonesia yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus  untuk mendapatkanefek rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana. Jenis ini paling berkembang dan banyak di Indonesia.

Sangat disayangkan pemerintah tidak memberikan perhatian yang cukup kepada industri ini,dimana dapat dilihat dengan banyaknya pabrik rokok yang bangkrut di Indonesia karena penetapan pajak rokok yang mempersulit pengusaha rokok skala kecil dan juga dengan iklan yang begitu dasyat dan penetrasi pemasaran yang begitu gencar memang membawa perubahan bagi generasi muda Indonesia yang banyak mengkonsumsi rokok, namun kurang memahami tentang apa yang dilakukannya.

Pada akhirnya terbangun mindset meremehkan rokok kretek sebagai rokok kaum bawahan dan tidak keren.Rokok bukan hanya sebagai hisap saja. Namun bagi generasi muda Indonesia, rokok adalah gaya hidup dan menunjukkan kelas social tertentu yang akhirnya membuat ciut nyali orang yang merokok kretek dan beralih ke rokok elektrik atau yang biasa dikenal dengan vape .Maka kesadaran ini haruslah di bangun kembali agar tidak hanya menuruti kemauan negeri orang lain namun harus bangga dengan budaya negerinya sendiri dengan mengkonsumsi rokok kretek.

 

525 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!