Hakim Menolak Permohonan Praperadilan Terpidana Kasus Ijazah Palsu STT Setia

Jakarta, JAPOS.CO –  Sidang putusan praperadilan dengan No.06/Pid/Pra.Per/PID/2019/PN.JKT.TIM antara pihak terpidana Ijazah Palsu Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar atau STT Setia sebagai Pemohon dan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kajari Jaktim) sebagai Termohon, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Jl Dr Sumarno, No.1, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Senin (26/8).

Sidang yang dipimpin Hakim Tunggal, Suparman Nyompa dalam putusannya menolak permohonan Praperadilan yang diajukan pihak terpidana ijazah palsu Sekolah Tinggi Injili Arastamar (STT Setia).

“Dalam amar putusan Majelis menyatakan menolak permohonan preperadilan dan mebebankan biaya permohonan perkara kepada pemohon, ” jelas Suparman dalam sidang pembacaan putusan.

Sementara kuasa hukum pemohon yakni Dwi Putra Budianto menanggapi putusan teraebut menyatakan bahwa putusan tersebut merupakan wewenang Hakim.

Dwi Putra berpendapat bahwa jika mengacu pada pasal 95 ayat (1) KUHAP, dimana dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa sebagai terpidana berhak mengajukan keberatan yaitu melalui Praperadilan.

“Kenapa mengajukan, dikarenakan klien saya dipidana yang tidak sesuai dengan amar putusan,” terangnya.

Menurut Dwi Putra, terkait putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) terhadap Rektor STT Setia, Matheus Mangentang dan Direktur STT Setia, Ernawati Simbolon yang sudah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi serta Kasasi Mahkamah Agung adalah keputusan ambigu.

“Dari awal saya dan saksi ahli pun menyatakan ini keputusan yang ambigu begitu juga JPU, JPU dapat dikiaskan di dalam memori banding dan memori kasasinya menanyakan tentang putusan,” ungkapnya.

Kenapa JPU, menanyakan seperti itu, pasalnya JPU juga merasakan keputusan yang ambigu,” tambahnya.

Saat ini lanjut Dwi, tim dari Matheus sedang mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Namun, Dwi menyayangkan kurangnya komunikasi dari tim PH yang digunakan oleh Matheus Mangentang, sementara dirinya sudah mengawal kasus tersebut sejak kasasi.

“Seharusnya mengadakan pertemuan bersama menangani kasus ini semua, jadi kita akan satu arah, satu bahasa, dan satu tujuan kasana, kan yang kita tahu bahwa Pak Matheus masih dilaporkan di Polda Metro maupun di Polres Jaktim, harusnya kita ini menagadakan pertemuan dan membahas atau memecahkan kasus ini karena yang kita ketahui bahwa pelapornya Pak Matheus itu hanya satu,” paparnya.

Dwi berharap agar kedua belah pihak dapat melihat kasus tersebut tidak selalu dari siapa yang bersalah.(Red)

 345 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *