CV Mugi Jaya Perkasa Diduga Abaikan Keselamatan Kerja

Pandeglang, JAPOS.CO – Proyek pembangunan prasarana, sarana untilitas mesjid di Kp. Ciruang, Desa Pejamben Kec. Carita, Kab. Pandeglang yang menelan anggaran sebesar Rp. 2.363.460.000,- bersumber dari APBD tahun 2019 Dinas Perumahan dan Pemukiman Provinsi Banten, yang dilaksanakan oleh CV Mugi Jaya Perkasa selaku kontraktor pelaksana dan PT Ardiana Dwi Yasa konsultan sebagai perusahaan pengawas lapangan, dengan no kontrak 600/SPMK.33/PDPP/BRMH/DPERKIM/2019, ternyata menuai tanya.

Pantauan japos.co di lokasi proyek, nampak minimnya alat – alat keselamatan kerja bagi para pekerjanya. Tak cuman alat keselamatan kerja, pihak pelaksana pun tidak memasang tanda – tanda jaminan keselamatan kerja seperti bendera berlogokan tanda keselamatan kerja, spanduk jaminan kesehatan kerja dan lainnya. Padahal jika dilihat dari nilai anggaran yang begitu besar, seharusnya tanda – tanda dan alat – alat safety lengkap.

Tidak adanya tanda – tanda keselamatan yang seharusnya di pasang CV Mugi Jaya Perkasa di lokasi proyek pembangunan mesjid tersebut di akui Dori dari PT Ardiana Dwi Yasa konsultan selaku pengawas lapangan.

“Iya belum terpasang, tapi saya dari awal sudah kasih teguran ke pelaksana karena orang yang pertama ditanya dan ditarik itu konsultan, pemasangan tanda dan alat safety itu harus ada, kebetulan direksikitnya di belakang lagi proses perapian juga. Alasan kontraktor pelaksananya belum terpasang ya cuman belum diambil aja dari kantor pusatnya,” tuturnya.

Di tanya soal alat safety para pekerja karena terlihat para pekerja tak memakai safety saat melakukan pekerjaan di lokasi, Ia menjawab bahwa semuanya lenkgpa. “Ada, sepatu bot, helm ada semua, karena itu syarat K3, di metode kerja sudah di bahas, terlepas dilapangan ya kita kembalikan lagi ke personilnya,” kilahnya.

Sementara Firman kontraktor pelaksana yang ditugaskan di lapangan oleh CV Mugi Jaya Perkasa saat di konfirmasi melalui telepon seluler pada Selasa  (6/8), berdalih lagi dibuat dan belum dikirim oleh pihak asuransi. “Kalau alat safety kerja sudah disiapkan, tapi tidak di pakai pekerja,” ucapnya.

Ironisnya, baik konsultan dan kontraktor pelaksana malah mengikuti keinginan pekerja ketimbang mengikuti aturan dan standar operasional prosedur (SOP) (N@)

 847 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *