Proyek Pisew 2019 Di kecamatan Wonoayu Diduga Menyimpang

Sidoarjo, JAPOS.CO – Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)  2019 di Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo tepatnya di Desa Plaosan, Candinegoro dan Pagerngumbuk, dikerjakan oleh kelompok masyarakat  Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Barokah yang di ketuai oleh Munip yang juga merupakan Sekretaris Desa Plaosan. 

Dengan sumber dana APBN 2019 senilai Rp 590 juta, BOP Rp 10 juta, waktu pelaksanaan 90 hari dengan volume kegiatan paving 3 X 850 m dan Tembok Penahan Tanah (TPT) 1500m1 dengan ketentuan paving berdimensi tebal 6cm lebar 10 cm dan panjang 20cm dan kuat tekan K 300 dengan satu ketentuan bahwa dana ini tidak boleh tumpang tindih dengan APBDes. 

Dari hasil investigasi Jaya pos dilokasi kegiatan, dijumpai beberapa item pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi diantaranya paving belum diketahui kuat tekanya  tapi sidah dipasang, dimensi paving tidak sesuai dengan ketentuan tebalnya hanya 5,5cm, adukan spesi untuk pekerjaan pasangan batu diduga kuat kurang dari K,175 atau setara 1 : 4, TPT terpasang diatas pasangan batu kali dari Dana APBDes, secara kasatmata kasting bermutu buruk  dan secara estetika kastin nampak kasar dan mudah patah artinya secara teknik mutu kastin diduga kurang dari K300, untuk hasil scraping dan galian yang berupa tanah tidak dibuang keluar dari lokasi kegiatan dan dimanfaatkan untuk urugan berm pada kanan kiri kastin, diduga pendamping propinsi yang melaksanakan sendiri pekerjaan ini dan pekerjaan ini terlambat dan tidak akan selesai sesuai jadwal. 

Dari hasil konfirmasi, Munip selaku Ketua BKAD dan Arip Pendamping Provinsi  pada Selasa (30/7) sekitar jam 09.30 WIB, mengakui adanya kekurangan pada ketebalan paving dan juga mengakui bahwa pasangan batu dipasang diatas TPT dari APBDes. 

Baik Munip maupun Arip, sama-sama menyembunyikan asal usul paving. Mereka tidak mau menyebutkan dari mana paving yang terpasang dipesan, namun hanya mengatakan dari wilayah Mojosari, Mojokerto. 

Atas hal ini Ir Didik Wahono, SH MSI yang dimintai komentarnya pada Rabu (31/7) sekitar jam 15.31 WIB, menyayangkan terjadinya keterlambatan juga pencurian ketebalan paving. “Ini artinya life time juga manfaat yang diterima oleh masyarakat jadi tertunda dan juga berkurang, artinya azas manfaat, ekonomis, efisien juga transparansi dan akuntabel sama sekali tidak terpenuhi dalam paket pekerjaan Pisew ini,” pungkas Bung Didik.(Zein)

 724 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *