Kepala BIG Bersama Katopdam IV/Diponegoro Dan Kepala Departemen Teknik Geodesi Undip Resmikan Renovasi Datum Genuk

Semarang, JAPOS.CO –  Renovasi Datum Genuk diresmikan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Prof. Hasanuddin Z. Abin bersama Katopdam IV/ Diponegoro Kol. CTP Sukanto Hadi, dan Kepala Departemen Teknik Geodesi Universitas Diponegoro Semarang di Jepara,  Jawa Tengah, Selasa (23/7).

Datum gunung genuk atau yang biasa disebut datum Batavia atau datum Jakarta digunakan sebagai datum untuk titik-titik triangulasi Sumatera, Jawa, Bali, Lombok sampai Nusa Tenggara.

Sesuai dengan namanya datum ini terletak di Gunung Genuk ( jawa tengah)  di titik P520. Untuk lintang dan azimut geodetiknya ditetapkan posisi lintang astronomis dan azimut astronomis ke suatu titik dari titik P 520. Hasil dari pengukuran bujur astronomis maka bujur geodetic ditetapkan pada titik P126 di Jakarta kemudian titik P 520 ditentukan dengan mentrasferkan hasil bujur geodetic yang ada di Jakarta( P126) dengan hubungan triangulasi ,dengan ellipsoid referensi Bessel 1841.

Pada tahun 1912-1918 jaringan utama triangulasi jawa di perluas ke Bali dan Lombok, sedangkan tahun 1919 sudut triangulasi telah sampai ke Sumatera Barat. Tahun 1931 dilakukan hitungan ulang untuk triangulasi Sumatera, Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara sehingga mengacu pada Datum Gunung Genuk. Sehingga pada akhirnya titik-titik triangulasi utama tersebut diturunkan ke orde yang lebih rendah, yaitu sekunder, tersier, dan kuarter. Kemudian, titik-titik dengan orde yang lebih rendah yang dekat dengan pantai digunakan sebagai titik kontrol untuk pemetaan laut Pulau Sumatera, Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara.

Katopdam IV/Diponegoro Kol. CTP Sukanto Hadi, dalam siaran persnya mengatakan yang direnovasi dari Datum Gunung Genuk adalah bangunan tugu (Pilar) yang sudah rusak direkonstruksi kembali sesuai ukuran pilar Triangulasi Primer setinggi 1.5 m, lebar 50 cm.

“Urgensinya renovasi Datum Gunung Genuk adalah sebagai referensi awal penghitungan titik koordinat awal pemetaan, ditegakkan kembali, saat ini berguna juga untuk pelestarian cagar budaya terkait dengan Datum Gunung Genuk yang dibuat tahun 1863 oleh Belanda dan sejarah pemetaan di Indonesia, “ujarnya kepada Japos. Co.

Menurut Katopdam IV/Diponegoro, pemeliharaan tugu-tugu Triangulasi merupakan salah satu program kerja Topdam IV/DIPONEGORO. Hal ini perlu dilakukan agar tugu- tugu Triangulasi yang dibuat jaman Belanda, tetap terjaga dengan baik, sebagai aset budaya bangsa.

“Terkait dengan sejarah pemetaan di Indonesia disamping itu kami berharap masyarakat yang awam tentang titik datum tidak menjadi salah kaprah dalam menyikapi keberadaan tugu triangulasi, yang seringkali dianggap sebagai tempat- tempat keramat atau dijadikan tujuan tujuan lain, sehingga dibongkar,”lanjutnya.

Datum Gunung Genuk yang direnovasi saat ini, pertama sebagai produk sejarah dalam proses pemetaan di Indonesia, yang tidak boleh dilupakan begitu saja.

Kedua, sebagai bahan penelitian bagi mahasiswa terkait dengan sejarah pemetaan di Indonesia, transformasi antar datum dan Sistem Referensi Koordinat di Indonesia.

Ketiga, menjaga cagar budaya supaya tidak punah dan tetap menjadi referensi hitungan koordinat di Indonesia, untuk itu setelah diresmikan juga dilakukan pengukuran GPS oleh tim BIG ( Badan Informasi Geospasial) sehingga diperoleh koordinat di titik P.520 dalam Sistem Referensi Geodetik Indonesia tahun 2013 ( SRGI.2013), sebagai Datum Nasional yang baru.

Sementara Kepala Badan Informasi Geospasial ( Ka. BIG), Prof. Hasanuddin Z. Abin mengatakan pilar ini penting sebagai bagian sejarah pemetaan di Indonesia, sehingga perlu dilestarikan dan terus dipelihara, baik untuk kepentingan pemetaan dan penelitian.

Hadir dalam kegiatan Peresmian Renovasi Datum Gunung Genuk antara lain Kepala Badan Informasi Geospasial (Ka.BIG) beserta Staf, KATOPDAM IV/DIP, beserta personel Topdam, Kepala Dep. Teknik Geodesi Undip, beserta staf Dosen dan Mahasiswa Teknik Geodesi Undip, Aparat teritorial Jepara, Danramil dan staf, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam kabupaten Pati beserta staf, Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW), Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi ( KPHK) Pati Barat dan masyarakat pecinta alam.(MUS)

 1,442 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *