Biaya Persalinan Mahal, Kinerja PKM Cibitung Dipertanyakan

Pandeglang, JAPOS.CO – Mahalnya biaya persalinan di Kecamatan Cibitung membuat masyarakat lebih memilih jasa paraji dibandingkan jasa tenaga kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM).

Seperti contoh di Desa Citeluk, salah satu masyarakat Kampung Kondang menyatakan pernah membawa keluarganya untuk bersalin di rumah bidan setempat. Dirinya kaget mendapati kabar biaya persalinan dipinta Rp 1,2 juta padahal proses persalinan hanya sekitar 2 jam.

“Iya pak betul, anak saya membawa istrinya untuk lahiran di rumah Bidan Ulung, belum lama ini. Saat ditanya biaya, saya sempat kaget dipinta Rp 1,2 juta padahal kami termasuk keluarga tidak mampu, tapi apalah daya kita usahakan saja walaupun berat,“ ujarnya.

Berbeda dengan Ajid salah warga setempat lebih memilih jasa paraji untuk istrinya, karena dikhawatirkan mengeluarkan biaya yang cukup besar, akan tetapi saat melakukan cek kesehatan setelah nifas tetap saja dikenakan biaya sebesar Rp 150.000 padahal dia salah satu peserta BPJS.

Lain halnya dengan warga Kampung Cijaha yang diketahui bernama Aas. Menurut informasi, warga tidak mampu tetap diminta biaya Rp 900.000.

Mahalnya biaya persalinan di Kecamatan Cibitung menimbulkan pertanyaan bagi beberapa kalangan masyarakat, padahal sudah ada program dari pemerintah berupa jampersal, jamkesmas dan BPJS, tetapi belum bisa dirasakan oleh warga masyarakat di Kecamatan Cibitung, khususnya Desa Citeluk.

Hal tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan, yakni kinerja PKM Cibitung dan TKSK setempat dalam memfasilitasi warga kurang mampu agar bisa merasakan program dari pemerintah seperti program KIS (Kartu indonesia Sehat) yang diperuntukan warga kurang mampu. (Yan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!