Dalam Duplik, Tedja Wijaja Memelas Minta Dibebaskan

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang lanjutan kasus penipuan dengan terdakwa Tedja Wijaja kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (1/7).

Dalam membacakan Dupliknya, Terdakwa maupun kuasa hukum terkesan mengurang-ngurangi pledoinya dan banyak katanya. Terdakwa maupun kuasa hukum mengatakan akte no 1 dan akte no 2 seolah-olah masih berlaku sedangkan akte tersebut telah dinyatakan cacat hukum oleh notaris. Tetapi terdakwa  membantah hal tersebut dan mengatakan akte tersebut belum ada putusan pengadilan yang membatalkannya dan belum mempunyai kekuatan hukum, juga bangunan kampus juga diakui belum ada izin bangunan (IMB), tapi terdakwa mengakui sudah bangun kampus tersebut 8 lantai yang sebenarnya hanya 4 lantai dalam Replik jaksa dan terdakwa dalam dupliknya mengaku sudah membayar semua lahan kampus tetapi tanpa ada tanda terima maupun kwitansi.

Penasehat hukum Uta 45  Dr Anton mengatakan, “Secara logika saja, apakah mungkin sudah membayar tapi tanpa bukti dan kwitansi. Sudah jelas akte nomor 1 dan 2  sudah dinyatakan batal oleh Notaris tapi tetap masih digunakan untuk diagunkan sertifikat Unta 45  ke beberapa bank swasta,” ucapnya.

Dalam persidangan sebelumnya, dalam pembacaan tuntutan Jaksa Federik telah menguraikan tentang tidak pidana yang didakwakan dalam pasal 378/372 KUHP, terurai dengan bukti fakta persidangan. 

Terdakwa telah melakukan rangkaian kata-kata bohong dan tipu daya pada saksi korban Rudyono Darsono selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan 17 Agustus 1945 (UTA 45) Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dengan demikian Jaksa tetap pada tuntutan yang telah dibacakan pada persidangan sebelumnya. 

Menurut  Jaksa Fedrik, tindak kejahatan yang merugikan korban puluhan miliar rupiah itu diawali adanya akta no 1 tahun 2010 dan akta no 2 tahun 2010 yang dibuat oleh notaris Doddy Natadihardja. Pada saat itu terdakwa Tedja Widjaja menjabat Direktur Utama (Dirut) PT Graha Mahardika (GM) menyatakan mempunyai dana Rp. 100 miliar, memiliki gereja, sekolah dan asset di berbagai tempat. 

Terdakwa kemudian menyatakan siap membangun gedung kampus UTA 45 yang modern di Sunter dengan cara pembayaran sebagian secara tunai dan sebagian lagi menanggung pembangunan gedung kampus UTA 45 dan tanah kosong di pinggiran Jakarta. Namun semua itu hanya rangkaian kata-kata bohong dan janji-janji belaka. Terdakwa tidak memenuhi namun sebagian lahan kampus UTA 45 telah dikuasai, bahkan dibalik nama menjadi atas namanya sendiri serta diagunkan ke salah satu bank Swasta. Dengan demikian sudah mencakup dan memenuhi unsur 378 dan 372 KUHP. 

Dalam persidangan, dihadapan Ketua Majelis hakim Togiyanto diakhir Dupliknya memohon belas kasihan dan tidak mengakui perbuatannya. Baik terdakwa dan penasehat hukumnya minta terdakwa dibebaskan dari tuntutan jaksa. (H.Yusuf)

 289 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *