Kejati Kalteng Telisik Dugaan Korupsi Proyek Jalan Kapuas Seberang Senilai Rp 5,8 M

Palangka Raya, JAPOS.CO – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Tengah (Kalteng), saat ini tengah menelisik dugaan korupsi proyek peningkatan Jalan Dalam Kota Kuala Kapuas Seberang senilai Rp 5.819.000.000,  bersumber dari Dana alokasi Umum (DAU) Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPRPKP) Kabupaten Kapuas tahun anggaran 2018, yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT. Bintang Mas Pratiwi, Pusat Palangka Raya.

Hal itu disampaikan oleh Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Kalteng, Drs. Adi Santoso, SH MH, melalui surat nomor B-1427/O.2.5./Fd.1/05/2019, tanggal 10 Mei 2019. Perihal pemberitahuan tindak lanjut atas laporan/pengaduan kegiatan pembangunan proyek peningkatan jalan dalam kota Kapuas Seberang senilai Rp 5.819.000.000.

“Kami sampaikan bahwa laporan/pengaduan saudara dimaksud ditindaklanjuti dengan penelitian, demikian harap maklum,” papar Adi Santoso yang ditujukan kepada Ketua LSM Dewan Pimpinan Daerah, Transparent Corruption Watch, Diamon B.Sidau.

Menindak lanjuti surat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) , Transparent Corruption Watch (TCW) nomor : 024/LSM-DPD/TCW/III/2019, tanggal 18 Maret 2019. Perihal mohon diusut dan diperiksa kegiatan pembangunan proyek peningkatan jalan dalam kota Kuala Kapuas Seberang senilai Rp 5.819.000.000,- yang diduga kuat tidak sesuai RAB serta berpotensi KKN. Ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah sehubungan dengan surat laporan/pengaduan saudara Nomo.

Ketua DPD TCW Kalteng, Diamon dalam suratnya memaparkan, berdasarkan pantauan pihaknya dilapangan bahwa bangunan 9 unit Box Culvert yang dibangun oleh PT. Bintang Mas Pertiwi di Kapuas Seberang, Kecamatan Kapuas hilir itu, diduga dikerjakan asal jadi. Karena secara kasat mata jelas terlihat kualitas beton bangunan box culvert tersebut, mutunya tidak sesuai spek atau bastek. Bahkan pada bangunan box culvert tersebut, juga terlihat banyak terdapat pori-pori dan berongga,  karena pada saat pengecoran tidak dilakukan pemadatan menggunakan alat pemadat (Concrite Vibrator).

Selain itu, menurut Diamon, bangunan jalan yang sudah di aspal mutunya juga terlihat kurang maksimal. Sebab masih banyak pori-pori yang terbuka, akibat  kurang pemadatan dan dikerjakan terburu-buru. Padahal jangka waktu pelaksanaan proyek tersebut sudah diperpanjang 50 hari, karena kontraktor tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak.

Kondisi bangunan jalan seperti ini, menurut Diamon, rentan mengalami kerusakan retak dan susut akibat air hujan yang merembes melewati pori-pori. (Mandau)

 765 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *