Saksi Mengetahui Terdakwa Korban, Kuasa Hukum Merasa Terancam
Tangerang, JAPOS.CO – Sidang Lanjutan dengan Nomor Perkara 837/Pid.B/2019/PN.TNG dengan terdakwa Bambang  di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (21/5) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.
Sebagai informasi bahwa terdakwa sempat terbentur pintu dan kursi dikarenakan ruangan sempit dari tempat terdakwa menunggu dan gelap sehingga terdakwa terbentur kembali, tentu saja hal tersebut membuat para Kuasa Hukum terdakwa merasa bahwa Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan tidak memperhatikan kepentingan terdakwa yang merupakan disabilitas tuna netra.
Dalam persidangan kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 5 orang saksi ke hadapan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Mahmuridin.
Ke 5 saksi teraebut SW merupakan Pelapor, DM sebagai Manager keuangan tempat terdakwa bekerja, serta S dan I tempat vendor atau rekanan terdakwa bekerja  dan I seorang PNS yang merupakan pegawai pendapatan daerah DKI Jakarta.
Dalam kesaksianya, SW menjelaskan bahwa pihak yang dirugikan dalam perjanjian tersebut adalah bukan PT tempat SW sebagai Komisaris, tetapi tempat anak perusahaan SW sebagai komisaris.
Saksi SW juga mengungkapkan tidak mengetahui jumlah komposisi saham yang ia miliki, sedangkan kesaksian DM menyatakan bahwa uang yang digunakan memang uang tempat perusahaan tempat pelapor menjadi komisaris.
“Perjanjian kerjasama itu merupakan anak perusahaan dengan PT lain, bukan tempat SW sebagai komisaris,” terangnya kepada Majelis.
Dan SW mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui terdakwa Bambang sudah memberitahukan bahwa ia juga korban, tetapi SW tidak menggubrisnya.
Kuasa Hukum terdakwa disabilitas, Riesqi Rahmadiansyah mengungkapkan, “Ini aneh, kok bisa yang rugi anak perusahaan tetapi yang melaporkan malah perusahaan induk, sedangkan yang mestinya melaporkan adalah anak perusahaan, jelasnya.
Masih menurut Riesqi, “Kok komisaris tau ada kerugian malah tidak membantu terdakwa membuat laporan, apa ini termasuk dari jebakan karena terdakwa Disabilitas Netra,” ungkapnya.
Sementara Muhammad Irwan masih kuasa hukum terdakwa mengungkapkan, “Ya, sempat mendapat informasi bahwa kami diancam akan di “sikat” oleh pihak yabg tidak diketahui identitasnya,” ungkapnya seusai peraidangan.
Namun terkait hal tersebut Irwan menyatakan,” biarkanlah, itu adalah bahasa orang – orang pNik yang tidak ingin kasus ini terbuka jelas, jika nanti ada ancaman nyata baru kami bertindak,” pungkasnya.
Sebagai informasi sidang akan dilanjutkan Kamis (23/5) dengan agenda keterangan saksi dari Jaksa dan tim kuasa hukun akan menghadirkan saksi ahli baik pidana dan juga ahli managemen korporasi. (D2)

5 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!