Pemilik RS MMC Akui Kesulitan Keuangan Sejak Putus Kontrak Dengan BPJS

Jambi, JAPOS.CO – Pemilik Rumah Sakit Mayang Medical Center (RS MMC) Riswan Joni, mengakui semenjak ada pemutusan kontrak antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Jambi dengan RS MMC pasien menurun drastis.

Riswan menyebutkan, sebelumnya perawatan pasien bisa mencapai 80 orang, saat ini hanya tersisa 10 orang. Sedangkan untuk operasi biasanya 300 orang sebulan sekarang hanya 30 orang perbulan.

Akibat dari penurunan ini, pihak RS MMC terpaksa merumahkan sebagian karyawan RS. Sebelum mengambil kebijakan, Riswan mengatakan telah melakukan pertemuan dengan karyawan untuk menceritakan kondisi RS saat ini.

“Jadi saya rapatkan karyawan secara kekeluargaan. Jadi saya bilang bagaimana mau bayar gaji kalian ? Akhirnya kesepakatan separuh di rumahkan dibayar gajinya setengah gaji pokok, yang tetap bekerja dibayar gaji pokok, itu kami masih nombok juga,” terang Riswan saat ditemui di MMC, Selasa (7/5).

Riswan menyebutkan, jumlah keseluruhan karyawan RS MMC sebanyak 300 orang. Pengeluaran untuk membayar gaji mencapai Rp. 800 juta/bulan. Namun sejak tidak bekerja sama dengan BPJS pendapatan kotor RS hanya Rp. 500 juta/perbulan.

Hal ini tentu membuat dirinya bingung untuk membagi pendapatan RS, sedangkan ada biaya lainnya seperti listrik, jasa dokter dan lainnya yang juga memerlukan biaya besar.

“Sisa gaji paling tidak tinggal Rp. 350 juta, itu masih kurang, tidak cukup dana penghasilan kami,” ujarnya didampingi sang istri, Niza Febrida.

Riswan mengakui, terdapat laporan di Dinsosnakertrans terkait masalah ini namun dirinya berusaha agar tidak terjadi PHK di RS yang telah berdiri selama 14 tahun ini.

Selain itu, akibat RS yang kian sepi, terdapat beberapa alat seperti urologi, alat ICU, fentilator dan lainnya yang terbengkalai karena tidak terpakai.

Dirinya sempat merasa miris melihat penumpukan pasien dibeberapa RS, sedangkan RS MMC sepi, padahal alat kesehatan telah memenuhi. “Kita kadang kasian sama masyarakat sampai mengantri di rumah sakit untuk berobat bahkan ada disalah satu rumah sakit mulai mengantri dari jam 6 pagi,” katanya.

Dirinya berharap BPJS kesehatan dapat mempertimbangkan kembali permohonan kontrak pihak RS MMC yang telah tiga kali dilayangkan. Menurutnya, bila BPJS dan RS MMC kembali bekerja sama maka permasalahan yang mencuat akan dapat teratasi sesuai komitmen RS MMC kepada karyawannya.

Bila pihak BPJS memutus kontrak akibat tunggakan RS MMC. Riswan menuturkan tunggakan RS MMC hanya mencapai Rp. 1,5 miliar. Sedangkan terdapat RS yang memiliki tunggakan lebih besar dari RS MMC.

“Dan itu sudah ada dibayarkan, tapi selain itu setiap bulan ada yang namanya perbaikan, itu yang diharapkan cepat diperbaiki sama mereka. Ini sudah 4 bulan belum diperbaiki sama mereka dan itu diharapkan dari mereka karena sangat membantu kami disini. Ini berat bagi kami dan kami bingung bagaimana mau menyikapinya,” beber Riswan.

Selanjutnya Wakil Direktur, Niza juga menjelaskan mengenai uang tabungan karyawan (simponi) bahwa bentuk tunjangan hari tua. Tabungan Simponi sama dengan BPJS Ketenagakerjaan namun tidak dalam wadah resmi alias inisiatif pihak RS untuk masa depan karyawan.

Niza menerangkan, dananya sudah ada terkumpul dan rutin diambil sampai Januari 2019. Beberapa waktu yang lalu karena ada administrasi yang tidak cocok maka ada pengembalian formulir ke RS maka agak tertunda pembayarannya.

“Kemarin kita sudah kontak ke BNI lagi berapa hutang kita dan segera kita bayarkan tidak ada masalah mengenai itu. Cuma ada karyawan yang keluar langsung mau narik sementara proses ini belum selesai,” ungkap Niza. (Rizal)

 2,325 total views,  6 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *