Oknum TNI dan ASN Ketapang Keroyok 2 Siswi SMP

Ketapang, JAPOS.CO – Oknum Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) CS Ketapang melakukan pengeroyokan terhadap siswi kelas dua sekolah menegah Pertama (SMP).

Korban berinisial FR  menjelaskan bahwa dirinya dan temanya yang berinisial A, dijemput paksa saat berada di toko foto copy dan dibawa ke sebuah rumah, lalu  dikeroyok oleh tiga orang pelaku. Pelaku pertama yakni oknum TNI berinisial AP berpangkat Serda yang bertugas di Koramil Kota Kodim 1203 Ketapang. Pelaku AP melakukan tindakan  memukul, menendang dan menampar korban FR secara berulang kali. Pelaku kedua berinisial ES yang bekerja sebabagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu Puskesmas di Ketapang. Pelaku ES melakukan tindakan menampar dan memukul korban FR secara berulang kali. Pelaku ketiga berinisial W dengan melakukan tindakan menendang dan menampar FR secara berulang kali. Tidak hanya itu, W juga mengunakan senjata tajam jenis mandau mengancam mau membuhuh FR.

 “Saya dan teman A dijemput paksa saat sedang berada di  toko foto copy dan dibawah kesebuah rumah  kemudian dikeroyok oleh tiga orang pelaku.  pelaku pertama adalah Oknum TNI berinisial AP pangkat Serda yang bertugas di Koramil Kota Kodim 1203 Ketapang, pelaku AP melakukan tindakan  memukul menendang dan menampar saya secara berulang kali. Pelaku kedua  ES  yang bekerja sebabagi Pegawai di Puskesmas Kedondong, melakukan tindakan menampar dan memukul saya secara berulang kali, dan pelaku ketiga berinisial W dengan melakukan tindakan menendang dan menampar saya secara berulang kali. Tidak hanya itu, W juga mengunakan senjata tajam parang  jenis mandau mengancam mau membuhuh Saya,” ungkap korban FR di kediamanya,  Rabu (3/5).

Saksi sekaligus korban berinisial A yang merupakan siswi SMP dalam kejadian tersebut menjelaskan bahwa pelaku ES memukul dan menampar dirinya berulang kali. A juga membenarkan bahwa ada tiga orang pelaku yang melakukan tindakan kekerasan terhadap FR yaitu ES, AP, dan W. Akibat kejadian ini A mengalami trauma dan memutuskan berhenti sekolah.

“Saya sebagai saksi sekaligus korban dalam kejadian tersebut, pelaku pertama ES memukul dan menampar saya berulang kali. Saya melihat lansung bahwa ada tiga orang pelaku yang melakukan tindakan kekerasan terhadap FR yaitu ES, AP, dan W. Akibat kejadian ini saya mengalami trauma dan memutuskan berhenti sekolah,” ungkap A pada Sabtu (4/5).

Orang tua FR (Korban) berinisial I menuturkan bahwa saat dirinya menjemput anaknya di tempat kejadian, dirinya dikunci dalam rumah dan diancam oleh para pelaku. I melihat anaknya terbaring dilantai rumah, karena melihat situasi yang tidak mendukung untuk membawa anaknya pulang, I pun melarikan diri menuju Polres ketapang dan melaporkan kejadian tersebut. Anggota polres ketapang dan I langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan membawa anaknya kerumah sakit Agoesdjam untuk di visum lalu membuat laporan poslisi di Polres ketapang, dengan surat tanda pemerimaan laporan polisi Nomor: STPL/120/V/2017/Res Ktp dan berdasarkan laporan polisi nomor: LP/248-B/IV/2017/Kalbar /Res Ktp, tanggal 03 mei 2017.

I selaku orang tua FR berharap ada tindakan secara hukum atas laoran polisi tersebut karena kasus ini sudah hampir dua tahun tidak ditindak oleh Polres Ketapang.

“Saat menjemput anak saya ditempat kejadian, saya dikunci di dalam rumah dan diancam oleh para pelaku. Saya melihat anak saya terbaring dilantai rumah, karena melihat situasi yang tidak mendukung untuk membawa anak saya pulang, saya pun melarikan diri menuju Polres Ketapang dan melaporkan kejadian tersebut. Anggota Polres Ketapang dan saya langsung mendatangi tempat kejadian untuk menjeput anak saya dan membawa anak saya ke Rumah Sakit Agosdjam untuk di visum lalu membuat laporan polisi di Polres Ketapang. Hingga saat ini. kasus anak saya sudah berjalan dua tahun namun belum ada tindakan hukum dari Polres Ketapang,” jelasnya, Sabtu (4/5).

Ketua Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Peduli Kayong, Suryadi, SE saat dikonfirmasi dikediamannya (1/5) menjelaskan bahwa kasus ini sudah jelas melanggar undang-undang perlindungan anak, yang mana pasal tentang penganiayaan anak diataur khusus dalam pasal 76 C Uandang-undang 35/2014 yang berbunyi; setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan,menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Suryadi berharap Kapolres Ketapang  AKBP Yuri Nurhidayat, untuk memerintakan penyidik yang menagani kasus ini agar ada titik terang, sehingga tidak terkesan bahwa oknum Polres Ketapang dengan para terlapor meredam kasus ini. Mengingat kasus ini terjadi pada tahun 2017 dan sampai saat ini tidak ada titik terang.

Suryadi juga berharap agar hukum harus berlaku adil pada semua rakyat Indonesia, tidak memandang pangkat, golongan, jabatan dan uang. “Kasus ini sudah jelas terjerat dalam undang-undang perlindungan anak, tidak ada alasan untuk tidak di proses. Saya berharap Kapolres Ketapang  AKBP Yuri Nurhidayat, bisa memerintakan penyidik yang menangani kasus ini agar ada titik terang, sehingga tidak terkesan bahwa oknum Polres Ketapang dengan para terlapor meredam kasus ini. Mengigat kasus ini dari tahun 2017 sampai saat ini 2019 tidak ada titik terang,” ungkapnya.

Sementara Kapolres Ketapang AKBP Yuri Nurhidayat, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa dirinya akan melakukan pengecekan atas kasus tersebut kepada penyidik yang menanganinya. “Saya cek dulu ke penyidik,” pungkas Kapolres Ketapang via WhatsApp, Kamis (2/5). (Agustinus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!