Suksesi Program Sanimas IDB, DBPR Tangsel Targetkan 9 Titik Penanganan Air Limbah Pemukiman Terwujud di Tahun 2019

Tangsel, JAPOS.CO – Pembangunan infrastruktur baik yang merupakan aset pemerintah maupun aset swasta, dilaksanakan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, seperti jalan raya, jembatan, taman, gedung kantor, rumah sakit, dan sebagainya.

Infrastruktur diperlukan masyarakat dalam rangka menjalankan berbagai kegiatan. Kegiatan ekonomi masyarakat disuatu daerah tidak akan berjalan optimal tanpa didukung infrastruktur yang memadai.

Pada dasarnya, jenis infrastruktur pemerintah dapat dibedakan menjadi infrastruktur pusat dan infrastruktur daerah. Infrastruktur pusat adalah infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah pusat, yang umumnya melayani masyarakat pada skala nasional, seperti jalan raya antar propinsi,dan sebagainya. Infrastruktur daerah adalah infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah daerah, yang umumnya di bangun untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat atau pihak lain di suatu daerah tertentu. Salah satu misalnya penyediaan air bersih dan  sanitasi untuk masyarakat di berbagai pemukiman yang ada di daerah tersebut.

Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, sanitasi diartikan sebagai pemelihara kesehatan. Pemeliharaan kesehatan lingkungan (sanitasi), merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena menurut WHO, penyakit diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik, karena access pada sanitasi masih terlalu rendah.

Hal ini menimbulkan masalah kesehatan lingkungan yang besar, serta merugikan pertumbuhan ekonomi dan potensi sumber daya manusianya. Tidak memadainya sarana sanitasi akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan lingkungan. Sebagai konsekuensinya pemerintah mendorong terpenuhinya kebutuhan itu walaupun hingga saat ini cakupan layanan sanitasi  baik di perkotaan maupun perdesaan belum memadai.

Salah satu layanan sanitasi yang belum memadai adalah penanganan air limbah permukiman terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi di perkotaan.  Program Sanimas  merupakan salah satu  program pembangunan prasarana air limbah yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui :

1.Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah.

2.Otonomi dan desentralisasi.

3.Mendorong prakarsa local dengan iklim keterbukaan.

4.Partisipatif.

5.Keswadayaan. Fokus kegiatan Sanimas adalah penanganan air limbah rumah tangga.

Melalui pelaksanaan Sanimas ini, masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman yang sesuai, ikut aktif menyusun rencana aksi, membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaan, bahkan bila perlu mengembangkannya.

Kegiatan Sanimas sudah diuji coba dan sejauh ini berhasil dilaksanakan tahun 2003-2005 di Provinsi Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Pada Tahun 2006 Departemen Pekerjaan Umum melalui Ditjen Cipta Karya telah melaksanakan replika kegiatan Sanimas di 20 Provinsi (69 Lokasi), kemudian pada tahun 2007 telah dialokasikan dana untuk kegiatan Sanimas bagi 22 Provinsi (128 Lokasi). 

Salah satu Kotamadya yang sukses membangun sanimas berbasis IDB adalah Kota Tangerang Selatan. Tangerang Selatan  Sebagai kota penyangga Ibu Kota Provinsi DKI menyadari pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan diberbagai pelosok pemukiman warga adalah  pentingnya tersedianya sarana dan prasarana yang wajib diwujudkan sebagai bentuk pelayanan masyarakat.

Hal tersebut menjadi PR bagi Dinas Bangunan dan Penataan Ruang(DBPR) sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Kota Tangerang selatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan akan tingginya permintaan warga untuk kebutuhan air bersih, dan penanganan limbah pemukiman.

Maka itu, melalui Program Sanimas DBPR Tangsel gencar melakukan pembangunan  sanimas di beberapa titik. Hal itu menjadi bukti keseriusan Pemkot tangsel bertujuan menciptakan masyarakat Tangerang selatan dalam menjaga pola hidup sehat dan bersih sehingga terhindar dari berbagai kasus penyakit menular seperti DBD, Diare dan penyakit kulit.

Bekerjasama dengan balai besar dan kementrian Pekerjaan Umum,  Pemkot  Tangsel melalui Dinas Bangunan dan Penataan Ruang(DBPR) Kota Tangsel terus berinovasi dalam mewujudkan pentingnya sarana dan prasarana masyarakat dengan memperbaiki sistim sanitasi dan lingkungan yang baik.

Sepanjang tahun 2018 Pemkot Tangsel sudah merealisasikan pembangunan sanimas   berbasis Islamic Development Bank(IDB) yang dibangun ditiap kampung di 54 kelurahan. Terakhir sanimas berbasis IDB diresmikan dikampung perigi RT 10 RW 04 Kelurahan Lengkong Wetan Kecamatan Serpong dan rencanakan pula pada tahun 2019 akan direalisasikan 9 titik bangunan penanganan limbah pemukiman.

Kepala Dinas Bangunan dan Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan Ir. Dendy Priyandana menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2018 sudah terlaksana pusat sanitasi masyarkat berbasis Islam Development Bank sebanyak 12 titik dan ditargetkan penanganan limbah rumah tangga bagi pemukiman dapat diwujudkan secepatnya.

“ Kami masih mencari titik lokasi baru disebabkan faktor lokasi itu sangat penting bagi tersedianya sarana dan prasarana air limbah sehingga program sanimas berbasis IDB ini bisa efektif dan berhasil, jelasnya. Diagendakan  tahun 2019 ini sekitar 9 titik lokasi sanimas dalam menangani air limbah pemukiman bisa direalisasikan,” tambahnya.

Sementara itu pemkot Tangsel  sangat mengapresiasi bantuan dari semua   pihak terkait pengadaan Sanitasi di Kota Tangsel, disampaikan oleh Asda II  Retno Purwati di sela acara persemaian  sarana prasaran Intalasi Pengolahan Limbah Domestik (IPAL) komunal Sanimas IDB  di kelurahan Lengkong Wetan Serpong (30/4) beliau  mengatakan, pihaknya yang mewakili Walikota Tangsel sangat berterimakasih terhadap bantuan yang diberikan.

Dirinya berharap, bantuan untuk pembangunan sanitasi tersebut, dapat dikelola dan diberdayakan secara maksimal oleh masyarakat.

“Bantuan yang telah diberikan oleh hasil kerjasama Kota Tangsel dengan Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yang didanai oleh Islamic development Bank (IDB), melalui skema bantuan langsung masyarakat, yang dikelola oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), mereka telah banyak membantu Tangsel. Sekarang kita telah mendapatkan bantuan septictank  dan yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana mengelolahnya. Oleh karena itu, masyarakat butuh sosialisasi, saya berharap dinas terkait dapat memberikan sosialisasi yang tepat sasaran sehingga masyarakat kita mengerti cara pengelolaan Sanimas IDB ini,” tegas Retno.(ADV/Ferri)

 

28 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!