Mehoa : Jadi Pemimpin Harus Banyak Sabar Ibarat Makan Boleh Sembarangan Tapi Ngomong Jangan Sembarangan

Bangka Belitung, JAPOS.CO – Terkait pemberitaan yang sempat viral dengan judul Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh Keblinger,  sebut Wartawan Preman mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. 

Anggota DPRD Kabupaten Bangka Tengah, Mehoa meminta semua pihak harus bersabar. Pun demikian Ibnu Saleh sebagai pejabat negara harus banyak-banyak bersabar. 
“Steatmen saya terkait pemberitaan itu sabar-sabarlah kita selaku pemimpin ini. Saya jujur aja,  sabar-sabarlah pak. Pak Ibnu juga ada wa saya sih. Kalau saya dapat berita itu di grup, saya buka, baca, bayangkan dan saya pikirkan.  Setelah itu gak tau tiba-tiba bupati wa saya, dia bilang gitu lah.  Terus saya bilang,  iyalah pak sabar-sabarlah selaku pemimpin, ” ujarnya saat dihubungi wartawan melalui ponselnya, Kamis (2/5).
Dikatakan anggota dari PDI P ini, dirinya tidak mau menyebutkan Ibnu Saleh dengan kata-kata arogan. “Saya sih tidak mau bilang pak bupati arogan, nanti takut dipeleseti. Intinya sabar-sabar gitu. Ya kita ini makan boleh sembarangan makan, tapi ngomong jangan sembarangan ngomong. Iya itu aja, Ace (Mehoa) juga bukan manusia sempurna, ” tutupnya. 
Sementara itu, Ketua DPW PAN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga turut berkomentar soal sikap bupati yang arogan. 
“Kalau saya berpendapat semua harus saling menghormati. Wartawan berdiri sebagai profesi dan bupati sebagai pejabat jangan lagi keluar kalimat yang tidak pantas seperti itu. Intinya kita saling menghargailah agar kejadian ini tidak terjadi lagi. Apapun wartawan, kelas medianya ataupun dan oplahnya adalah mitra sebagai kontrol pelaksana pemerintahan bergerak dan bersinergi. Harapan saya mudah-mudahan kedepan baiklah,” kata Patrianusa, Kamis (2/5).
Ditanya soal arogan sang bupati yang juga turut dirasakan ASN dan juga kepala dinas, Patrianusa mengatakan itu adalah internal mereka. “Kalau masalah itu internal mereka, tapi kalau wartawan harus juga dihormati. Sebagus apapun pemerintah disana kalau tidak dieskpos media masyarakat tidak tahu juga, ” tandasnya.
Sekedar diketahui setelah dimuatnya berita Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh Keblinger, sebut wartawan preman banyak juga komentar di grup-grup wartawan yang mengatakan kalau kemarahan bupati disebabkan wartawan yang datang ke rumah dinas pada Senin (30/4) tidak sopan. 
Disebutkan dalam salah satu grup bahwa bupati marah karena wartawan masuk nyelonong ke rumah dinas dan mengambil makanan di toples tanpa izin serta masuk memakai sepatu. 
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa saat datang ke rumah dinas, wartawan yang datang terlebih dahulu menelpon Bupati Tengah, Ibnu Saleh namun saat datang ke rumah dinas, bupati sedang rapat. 
Menurut Roby, Wartawan Jaypos bahwa Enam orang wartawan yang datang ke rumah dinas sudah izin dengan anggota Satpol PP yang berjaga. “Selama sekira satu jam menunggu barulah bupati selesai rapat dan menyuruh kami masuk ke rumah dinas sambil menunjuk tangan mengarahkan ke rumah dinasnya,” jelasnya.
Diakui memang ada 2 orang rekan kami yang masuk duluan. Sebaliknya 4 wartawan lagi menunggu bupati masuk duluan dan diikuti dari belakang. 
“Kalau saya makan keretek 1 biji di dalam toples tidak izin nanti saya belikan yang baru jika itu dirasa tidak sopan.  Pemimpin itu harus amanah pak bupati.  Sekarang saja jadi pejabat dihormati,  apapun omongan bupati didengari. Kalau sudah tidak jabat lagi mungkin tidak akan dihormati, ” sesal Roby. (Oby)

 

 

 409 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *