Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh “KEBLINGER” Sebut Wartawan Preman  

Bangka Tengah, JAPOS. CO – Arogansi Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh yang dikatakan banyak orang memiliki sifat tempramen tinggi, suka marah-marah tidak jelas ternyata bukan isapan jempol belaka.

Ibnu Saleh yang menjabat sebagai Bupati Bangka Tengah sejak 27 Juli 2017 dengan masa jabatan 2016-2021 ini sempat berselisih tegang dengan sejumlah wartawan yang sedang melakukan konfirmasi langsung dengan dirinya.

Dengan angkuhnya, Ibnu Saleh sempat mengatakan wartawan dengan kalimat tidak pantas, yakni wartawan brandal atau preman.

Kejadian yang tidak mengenakan dirasakan beberapa wartawan itu terjadi di rumah dinas Bupati, Selasa sore (30/4).

”Kalian wartawan tampang preman, ini rumah dinas bupati, ” sebut Ibnu Saleh dengan angkuh setelah menerima beberapa wartawan di rumah dinasnya.

Peristiwa tidak menyenangkan itu berawal ketika 6 wartawan media masing-masing, Ngadianto Asri (sinarpaginews. com), Herman Saleh (amunisi), Romli Muktar (forum keadilan ), Doni (radar babel), Roby Yansyah (jaya pos) dan Wantoni (babellive) berangkat dari Pangkalpinang menuju kantor Kejari Koba untuk meliput acara pisah sambut Kasi Pidum.

Sorenya sekitar pukul 16.00 WIB, rombongan wartawan bertolak ke rumah dinas Bupati, Ibnu Saleh untuk menanyakan anggaran publikasi.

Saat itu sang bupati sedang rapat dengan anggota partai. Usai rapat sejumlah wartawan menemuinya. ”Disana saja,” kata Ibnu Saleh sambil menunjuk tangan mengarahkan wartawan ke rumah dinasnya.

Setelah bersalaman dengan bupati, beberapa wartawan masuk mengikuti bupati. Memang diakui ada diantara rombongan wartawan sudah masuk duluan. wartawan yang sempat masuk pakai sepatu langsung melepaskan sepatunya.

Setelah duduk bersama dengan arogannya, Ibnu Saleh langsung menanyakan apa maksud kedatangan wartawan menemuinya dengan mimik muka yang tidak menyenangkan. Bahkan sang Bupati sempat memerintahkan ajudannya untuk mengumpulkan hand phone wartawan agar dibawa keluar ruangan.

“Ayo apa yang mau ditanyakan, ” tanyanya dengan nada tinggi.

Meskipun kaget mendapat perlakuan tidak menyenangkan, ke enam wartawan tersebut tetap menyampaikan maksud dan tujuan mereka hendak mengkonfirmasi anggaran publikasi dan juga anggaran perjalanan dinas luar di humas Pemkab Bateng yang kabarnya hingga 4 kali dalam setahun membawa serta sejumlah awak media yang bertugas di humas Pemkab Bateng ke berbagai daerah. Bahkan yang terakhir kali perjalanan dinas luar ke Bali.

Dikatakan Ibnu, berkaitan dengan anggaran publikasi serta anggaran keluar daerah beberapa media yang ada di Bangka Tengah itu sudah sesuai dengam anggarannya dan sudah disahkan di DPRD.

” Saya jawab itu sudah sesuai dengan anggaran dan sudah disahkan DPRD,” cetus Ibnu Saleh dengan suara dan mimik wajah yang tidak bersahabat.

Saat wartawan menanyakan anggaran publikasi yang hanya diperuntukkan bagi media yang sudah mengadakan kerjasama. Ibnu Saleh justru mengatakan bukan wewenangnya.

“Untuk anggaran publikasi itu kan bukan wewenang saya, kuasa anggaran ada di pak Sekda. Memang saya selaku bupati oke saja, tapi semua ada prosedurnya dan yang berhak menilai bawahan saya, humas ” kata Ibnu Saleh.

Tidak hanya itu, Ibnu Saleh bahkan berdalih jika tidak semua media bisa masuk atau kerjasama dengan pemkab. “Masak kalau 100 media kita masukkan semua, anggaran kita terbatas. Semua ada batasannya. Sekelas Bangka Pos membuat berita tidak bagus kami kurangi nilainya. Mereka membuat berita tidak bagus porsinya besar dan sisi berita yang bagus,” ungkap Ibnu Saleh sembari emosi menanyakan kepada wartawan media ini, apa lagi yang mau ditanyakan.

“Saya mau nanya pak bupati, kalau memang dirasa berat apa kriteria atau syaratnya sehingga media kami juga bisa diakomodir. Misalnya harus menempatkan wartawan di Bangka Tengah, media kami harus terverifikasi dewan pers dan wartawan harus memiliki sertifikasi uji kompetensi wartawan (UKW), ” timpal Doni, wartawan radar babel. co.

” Kita lihat dulu anggarannya, kalau tidak cukup bagaimana, ” jawab Bupati.

Dari pertanyaan wartawan terkait anggaran perjalanan dinas luar, Ibnu Saleh sempat menyuruh ajudannya agar menelepon wartawan yang bertugas disana.

Namun wartawan media ini bersama sejumlah wartawan lainnya tidak mau dibenturkan sesama wartawan. Alasannya, anggaran yang mengeluarkan itu pihak Pemkab bukan wartawan.

Setelah perbincangan dirasa tidak menyenangkan, akhirnya sejumlah wartawan  pamit bersalaman dengan bupati. Tapi sayangnya, sekali lagi Bupati Ibnu Saleh melontarkan omongan tidak mengenakkan.

“Kalian ini seperti preman, ini rumah dinas bupati, ” sebutnya. Ironisnya lagi, saat keluar dari ruangan, para wartawan dikerubuni beberapa ajudan dan pegawai disana. Bahkan beberapa anggota Pol PP yang bertugas menjaga rumah dinas sempat berlarian menuju ke sejumlah wartawan yang keluar dari rumah dinas Bupati Bateng.

Sementara Herman Saleh, LSM Gebrak yang ikut dalam kejadian tidak mengenakkan itu menilai sifat bupati Bangka Tengah terlalu arogan. “Itu bupati keblinger, wajar-wajar saja kita wartawan bertanya koq sampai nada tinggi. Apalagi sampai keluar kalimat mengatai wartawan preman, itu omongan tidak pantas keluar dari mulut Bupati. Bapak tidak selamanya jadi Bupati, kami sekedar konfirmasi berita, ” sesalnya.

Sifat arogan Ibnu Saleh ini bahkan sejak dulu sudah terdengar oleh wartawan. Senter beradar di lingkungan SKPD Bangka Tengah jika sikap Ibnu Saleh selaku bupati Bangka Tengah arogan dan semena-mena.

” Banyak yang ngeluh sikap bupati arogan dan kalau bicara seenaknya ” kata salah satu ASN di Pemkab Bangka Tengah belum lama ini.

Diketahui juga Ibnu Saleh kalau marah tidak memandang tempat dan juga orang. Sekelas kepala dinas juga sempat dimarahi di muka umum.

“Ya pernah kepala dinas sekelas eselon II dimarahi depan umum. Pokoknya sekarang ini banyak OPD yang sudah gerah dengan sifat bupati,” katanya. (Oby)

 

 477 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *