Kesaksian Bambang Prabowo dan Rofil Tak Bisa Dibantahkan Tedja Widjaja

Jakarta, JAPOS.CO – Dalam persidangan perkara 378 dan 372 KUHP, dengan terdakwa Tedja Widjaja kembali digelar di PN Jakarta Utara pada Selasa (30/4) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa Penuntut Umum, Frederik Adhar, SH, kembali mendengarkan keterangan saksi fakta, Bambang Prabowo.

Kehadiran saksi Bambang Prabowo merupakan orang yang mengetahui segala tindak tanduk perbuatan terdakwa Tedja Widjaja.

Kehadirannya kali ini membuat kasus ini terang benderang. Dan sulit untuk terdakwa berkelit, termasuk penggunaan akta Fiktif Notaris Doddy Natamiharja No. 01 dan 02 tahun 2010, di Tanggerang Selatan, yang sudah dibatalkan oleh sang Notaris sendiri. Pada saat itu juga dikeluarkan surat klarifikasi oleh Doddy N, sebagai pembuat akta secara resmi, namun tidak digubris oleh terdakwa dan tetap dipergunakan untuk pembuatan Akta Jual Beli (AJB) dengan Yayasan UTA’45.

Kesaksian kedua terdakwa dipicu oleh saksi meringankan terdakwa oleh Zaman Zaini, yang menyatakan bahwa Bambang Prabowo sudah membantu terdakwa Tedja Widjaja sejak tahun 2010, dan aktif bersama dengan terdakwa Tedja Widjaja melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kerjasama terhadap Yayasan UTA’45.

Kesaksian ini sesuai dengan pengakuan 2 saksi lainnya, yaitu Pelapor Rudyono Darsono dan Saksi Surati, yaitu pengakuan dalam BAP maupun di muka persidangan, dalam hal pengambilan dan penukaran kwitansi hutang asli dengan Akta Notaris Irawan Soerojo tentang pengakuan hutang dan penjaminan tahun 2010, di kantor Yayasan UTA’45.

Saksi menyebutkan sejak terjadi dualisme  yayasan pengelolaan Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UTA 45) dan persengketaan atas lahan kampus perguruan tinggi swasta itu, dirinya sudah terlibat dan mengetahui secara detil tujuannya cuma 1, yaitu terdakwa membiayai semua pemalsuan akta Yayasan ‘UTA’45 tersebut agar dapat menguasai tanah Yayasan UTA’45.

Awalnya dirinya mendampingi Prof Thomas Pheaa, Rektor UTA 45 dan kemudian Ketua Dewan Pembina UTA 45 sebelum digantikan posisinya oleh Rudyono Darsono (sampai saat ini). Oleh karena terdakwa Tedja Widjaja dekat dengan almarhum Thomas Pheaa, dan ini diakui oleh terdakwa Bambang Prabowo sempat menjadi kuasa Tedja Widjaja dengan istri.

“Saya tahu apa yang dilakukan terdakwa Tedja Widjaja, termasuk dalam hal pembuatan perjanjian-perjanjian dan peralihan saham ke Michele Darsono. Padahal yang bersangkutan saat itu kan sedang berada di Amerika Serikat (AS) tetapi dipalsukan tandatangannya,” ungkap Bambang.

Selain itu, Bambang Prabowo juga menyatakan mengetahui revisi akta susunan pengurus Yayasan UTA 45. Namun demikian, terdakwa Tedja Widjaja tetap memberlakukan akta yang belum direvisi atau Fiktif tersebut.

“Banyak hal kami lakukan saat saya bersama terdakwa Tedja Widjaja, termasuk dalam hal palsu memalsu,” ujar Bambang Prabowo.

Ketika ditanya penasihat hukum terdakwa Tedja Widjaja, Nahot Silitonga, mengapa saksi mau melakukan perintah terdakwa padahal diketahui hal itu salah, Bambang Prabowo menyebutkan bahwa dirinya tertarik melaksanakan perintah Tedja Widjaja karena dijanjikan saham di PT Graha Mahardika. “Tetapi sampai sekarang saham yang dijanjikan itu tidak pernah direalisasikan,” ungkapnya.

Pembela Tedja kemudian mempertanyakan dimana saat ini posisi Bambang Prabowo. Dengan tegas saksi mengatakan bahwa dirinya sudah pasti bukan lagi di kubu Tedja Widjaja atau pun Rudyono Darsono. “Posisi saya pada saat ini untuk membuat terang kasus dugaan Yayasan UTA 45,” tegasnya.

Ketika Ketua Majelis Hakim Tugiyanto SH MH menanyakan bagaimana sikap Tedja Widjaja, terdakwa yang beberapa kali menyelutuk “bohong”, “bohong” saat Bambang bersaksi, membantah sebagian besar keterangan Bambang.

“Dia saya kenal tahun 2013, jadi kejadian-kejadian di bawah tahun 2013 jelas tidak diketahui saksi,” ujar Tedja,
padahal secara jelas, lanjutnya, Saksi meringankan dari pihak terdakwa sendiri Zaman Zaini menjelaskan secara gamblang di Persidangan, bahwa saksi fakta Bambang Prabowo sudah bekerja membantu Terdakwa Tedja Widjaja sejak tahun 2010, dan tidak ada bantahan dari terdakwa pasa waktu itu.

Majelis hakim sendiri tampak memberikan keleluasaan kepada pembela.

Selain saksi fakta Bambang Prabowo juga didengar saksi A Rofii, yang mendapat tugas melakukan pengawasan dalam pembangunan gedung kampus UTA 45.

Dia menyebutkan saat bertugas melaporkan pembangunan gedung tersebut terdapat banyak kejanggalan. “Saya melihat kemudian melaporkan hanya sampai lantai lima dari delapan lantai yang layak pakai,” ungkapnya terkait pembangunan gedung yang dilaksanakan PT Graha Mahardika itu.

Kekurangan dalam pembangunan gedung tersebut antara lain, kata Rofii yang juga dosen di UTA 45, belum ada IMB, genzet dan masih banyak lagi lainnya sampai gedung itu aman ditempati. Bahkan beberapa perangkat penting lainnya dalam keselamatan penggunaan bangunan bertingkat delapan tersebut juga belum ada.

Selanjutnya kekurangan dalam pembangunan gedung kampus UTA 45 tersebut, menurut saksi, dilengkapi dan dilanjutkan oleh Yayasan UTA 45 sampai akhirnya tuntas dan difungsikan sampai saat ini. Mendengar keterangan saksi ini, lagi-lagi terdakwa Tedja Widjaja menyatakan tidak sependapat. Dia menyebutkan perampungan pembangunan dilakukan oleh pihaknya atau kontraktor yang ditunjuk PT Graha Mahardika. Termasuk pengaspalan pelataran parkir. Namun, saksi Rofii langsung meluruskannya bahwa yang mengaspal pelataran parker adalah Yayasan UTA 45 dan tetap dengan keterangan sebelumnya bahwa yang menuntaskan pembangunan gedung UTA 45 adalah Yayasan UTA 45 sendiri dan bukan Graha Mahardika atau kontraktornya.

Sidang akan dilanjutkan pada Kamis (2/5), dengan agenda memeriksa terdakwa. (Herman)

 

 516 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *