Lanjutan Kasus Signature Park, Warga Harapkan Hakim Bersikap Adil Dan Obyektif

Jakarta, JAPOS.CO – Sidang lanjutan gugatan perdata antara ahli waris selaku penggugat melawan Apartemen Signature Park selaku tergugat di Pengadilan Negeri Jakarta Timur,  dilakukan Kamis ( 28/3) dengan agenda putusan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa gugatan ini dilakukan ahli waris terhadap Apartemen Signature Park atas pembatalan perdamaian. Pasalnya, dinilai cacat hukum dan ditemukan kejanggalan yakni berupa tanda tangan ahli waris orang yang sudah meninggal.

Sebelum persidangan puluhan ahli waris atas tanah di Cawang Jakarta Timur melakukan aksi di depan halaman kantor Pengadilan Negeri Jakarta Timur, hal teraebut dilakukan dengan harapan putusan hakim atas gugatan mereka terhadap apartemen berpihak kepada ahli waris.

Patuan Anggi Nainggolan selaku kuasa hukum ahli waris menjelaskan sidang kali ini terpending, “Ini wajar saja terpending pasalnya menyangkut kebenaran mungkin majelis  belum siap. Karena hal ini diperlukan hakim-hakim yang jujur dan objektif dan tidak boleh salah karen yang tertindas rakyat miskin,” jelasnya kepada wartawan. “Karena saya lihat data – datanya benar dan lawannya orang besar pengusaha dan banyak uang, saya prihatin dan mau membantu mereka agar tidak tertindas,” tandas Patuan.

Menurut Patuan, jadi tidak ada alasan majelis untuk tidak membatalkan perjanjian akta di notaris yang di rekayasa tersebut. Pasalnya tidak mungkin orang meninggal bisa menandatangani, akta itu mereka tidak pernah lakukan dan ahli waris tidak pernah melakukan perdamaian.

Masih kata Patuan, bahwa pihaknya telah melaporkan seorang notaris yang diduga membuat akte perdamaian antara penggugat dengan tergugat. “Kita berharap polisi objektif sesuai dengan Undang-Undang, sudah jelas kan faktanya pasal 266 hukumannya diatas 5 tahun, masa orang meninggal dimasukan ke dalam aktenya itu,” ujarnya.

Sebelumnya pernah dilakukan mediasi sebelum masuk pokok perkara sesuai dengan Sema Nomor 1 Tahun 2016 namun dalam mediasi pada tahun 2011 timbul akte tersebut. “Dari sana baru kita mengetahui dan dipelajari bahwa tidak masuk di akal dalam akte perdamaian masa orang meninggal bisa masuk dan tidak semua ahli waris dilibatkan, bahkan pemiliknya orang lain bukan klien kami,” ungkap Patuan.

Patuan menegaskan jadi tidak pernah ada perdamaian dan dalam akte perdamaian tersebut juga ditemukan kejanggalan yakni munculnya nama seseorang yang telah meninggal.”Perdamaian pada tahun 2011 sedangkan yang meninggal tahun 2008, makanya polisi tangkap notaris itu,” pungkasnya. (@D2)

 154 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *